OPINION

Lampu Merah Bisnis Penerbangan

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Telah terbentuk peta persaingan baru dimana invisible competitor telah menjadi trend dengan ditandai dengan kebangkitan E Commerce dan jasa kurir (Rhenald Kasali:Disruption, menghadapi lawan-lawan tidak keliatan dalam peradapan uber).

Lebih jauh perubahan preferensi konsumen seperti pembelian online dan pengiriman menggunakan jasa kurir menjadi kebiasaan baru konsumen. Apalagi dengan didukung dengan aplikasi teknologi yang memungkinkan business proses dapat terjadi dengan tingkat akurasi tinggi.

Perubahan diatas telah membawa dampak seperti  bangkrutnya Seven Eleven,penutupan 8 gerai Ramayana, penutupan gerai Matahari di Pasar Raya Blok M dan Manggarai bahkan aktivitas bisnis di Glodok menurun secara drastis (Banyak Kios di Glodok Hingga Tanah Abang Tutup,  detikFinance, Jumat 14 Juli 2017)

Dengan peta persaingan baru tersebut, telah memakan korban pada industri penerbangan nasional  yaitu bangkrutnya Kalstar (Kalstar Stop Operasi Kemenhub Lihat Ada Yang Tak Beres di Kalstar,Jumat, 29 September 2017 ,Tribun Pontianak).

Lebih jauh Kerugian Ga Group Semester I 2017 sebesar  Rp 3,66 Triliun (Kompas.com – 27/07/2017) dan Kerugian IAA sebesar Rp 557M di semester 1 2017 (bisnis.com-31 Agustus 2017)  akibat kurang pekanya didalam merespon perubahan diatas.

Pada area tetangga ternyata Singapore Airlines, Cathay Pacific, Malaysian Airlines, Emirates, Etihad juga mengalami trend yang sama.

Singapore Airline merugi S$138m Q4 2016 (www.channelnewsasia.com).Etihad merugi  $1.87 Billion di 2016 (Bloomberg report). Keuntungan Emirates airline jatuh  82.5% dibanding 2016 (Aljazera,27 July). Hong Kong airline Cathay Pacific merugi  HK$2.05 billion Semester 1 2017  (South China Morning Post17 August, 2017) dan Thai Airways merugi $156.6 million selama Q1 2017 ( ATW Plus 2017 Aug 15, 2017)

Kenyataan diatas terjadi bukan hanya karena terjadi perlambatan ekonomi dunia namun penyebab utama kerugian diatas adalah kegagalan airlines khususnya penerbangan nasional, untuk  merespon perubahan peta persaingan dan tidak dapat memenuhi new customer preference needs and wants .

Didalam kaitan diatas khususnya munculnya generasi baru yaitu Generasi Milenial yang menyukai non tunai (Kompas,30 September 2017). Lebih jauh ciri2nya adalah sebagai berikut

1. Selalu terhubung dengan media sosial

Menurut riset, 95% generasi milenial adalah orang-orang yang paling sering, bahkan selalu terhubung dengan media sosial. Kadang, apa yang dilakukan di media sosial hanya menunjukan eksistensi seperti, sedang apa, di mana, makan di restoran apa, mendengarkan musik apa, bahkan tidak segan untuk mencurahkan isi hati melalui media sosial.

2. Tidak bisa jauh dari gadget

Salah satu ciri generasi millennial adalah tidak bisa jauh dari gadget, terutama handphone. Sehari tanpa menggenggam handphone saja rasanya kamu seperti dijauhi oleh dunia. Bahkan saat tidur dan bangun tidur, handphone merupakan benda wajib yang ada di samping kamu.

3. Barang-barang inilah yang menjadi kegemaran generasi milennial untuk dijadikan hadiah

Barang yang paling disukai oleh generasi millennial ini di antaranya, uang beserta kartu ucapan, aksesoris, laptop (24% anak muda kini memilih macbook sebagai hadiah), smartphone (kalau yang ini 38% anak muda memilih Iphone 5 sebagai hadiah), 63% anak muda memilih video game, buku, tiket alat transportasi untuk liburan, dan barang-barang yang bisa dibilang mewah dan kekinian lainnya.

4. Kebiasaan lainnya adalah gaya hidup yang baru

Mereka menyadari pentingnya gaya hidup yang sehat seperti  menjaga pola makan, olahraga yang teratur dan menjaga pola istirahat dengan baik. Namun, tidak sedikit juga dari kita yang juga suka mencicipi hal-hal baru seperti, berkunjung ke kafe atau restoran baru atau mencoba segala hal yang dekat dengan kebiasaan orang-orang barat

5. Beda generasi beda pula pola pemikiran, terutama dalam karier

Generasi millennial adalah generasi yang terbuka dan cepat menerima suatu perubahan. Hal ini juga kita terapkan dalam hal pekerjaan. Jika dalam waktu 1-2 tahun tidak ada perubahan dalam kemampuan personal dalam kantor, generasi millennial akan cenderung memilih untuk meninggalkan pekerjaannya dan mencari pengalaman baru serta suasana baru di kantor yang baru.

6. Menyukai kolaborasi dibanding kompetisi dan mementingkan kualitas hasil kerja

Dalam hal pekerjaan, generasi millennial sangat suka dengan suasana kerja dengan sistem kolaborasi, bukan kompetisi. Kurang lebih 88% generasi milenial lebih menyukai cara bekerja kolaborasi alias kerja tim. Namun, bukan berarti mereka lalai terhadap kualitas dari hasil kerja yang mereka lakukan. Justru generasi milenial sangat memperhatikan seputar kualitas kerja mereka.  (http://trivia.id/post)

Peta Persaingan Baru

Perlambatan ekonomi dunia dimana pertumbuhan hanya 2,7% namun pertumbuhan Indonesia masih diangka 5,2% pada tahun 2017  dan 5,3% ditahun 2018 (World Bank) sehingga diprediksi pertumbuhan penumpang domestic akan cenderung  positive ditahun mendatang.

Medan perang baru didalam industri penerbangan adalah  pertarungan antara business model untuk memperebutkan hati konsumen. Mengingat business model yang diterapkan saat ini sudah tidak dapat memberikan hasil yang maksimal terbukti hampir semua airlines  menderita kerugian.

Selain Airline direct competition juga substitute competition yaitu OTA, yang telah meningkatkan biaya distribusi sekaligus mengambil alih fungsi distribusi industri penerbangan nasional. Bahkan untuk beberapa airlines kontribusi OTA telah lebih dari 60% dari proporsi pendapatan airlines

Lebih jauh target OTA adalah jumlah  transaksi sehingga mereka dapat memanfaatkan customer data base untuk memperoleh pendapatan lain seperti dari  Iklan, cross selling bahkan untuk menjadi lembaga keuangan bukan bank (Financial Technology)

New Business Model

Berdasarkan pengamatan bahwa new nature of competition based on people productivity not asset productivity and by applying IT to satisfy customer needs and wants.

Artinya penerapan Low Cost Carrier  dan Full Service Business Model tidaklah cukup sehingga diperlukan adjustment tertentu agar dapat bersaing  lebih agresif untuk memenangkan persaingan dan dapat memenuhi  new needs and wants customer

Dengan pendekatan baru tersebut  diharapkan ditemukan strategi perusahaan  baru  agar dapat memenuhi new needs and wants customer dan pada gilirannya membuahkan keuntungan perusahaan.

Epilogue

Didalam dunia yang fana ini yang abadi adalah perubahan,seyogianya kita selalu siap sedia untuk mengantisipasinya. Mengingat perubahan tidak lebih dari sekadar perpisahan, penggabungan, dan pergerakan dengan berbagai variasinya dari partikel yang tetap tadi (Ayat-ayat semesta,Agus Purwanto D. Sc)

Mudah-mudahan Industri penerbangan nasional akan terus survive didalam lingkungan bisnis yang terus berubah Amin

BACA JUGA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *