AIRCRAFT

Peristiwa Jatuhnya Pesawat Grand Caribou Berbuntut Panjang

Jakarta, Airmagz.com – Insiden jatuhnya pesawat terbang Grand Caribou di Mimika, Papua, memunculkan tuntutan pemeriksaan atas pemberi izin.

LSM Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) meminta kejaksaan memeriksa pemberi izin operasional pesawat terbang Grand Caribou yang jatuh di Mimika, Provinsi Papua, 31 Oktober 2016, di samping penyidikan dugaan korupsi pengadaan pesawat tersebut.

“Harus diperiksa [pemberi izinnya] karena apa pun itu menyalahi kewenangan yang mestinya tidak diizinkan ternyata berani memberi izin. Bahkan, bisa masuk pasal penyalahgunaan wewenang,” kata Koordinator LSM MAKI Boyamin Saiman di Jakarta, Selasa (10/10/2017) malam.

Ia juga mengaku kecewa dengan penyidikan kejaksaan karena penanganan kasusnya berjalan lamban, bahkan hilang ditelan bumi alias tidak diketahui perkembangannya.

Berita sebelumnya, Direktur Penyidikan (Dirdik) pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Warih Sadono menyatakan penyidikan dugaan pengadaan pesawat tersebut masih berjalan dengan mengumpulkan alat bukti, terutama terkait dengan informasi jaminan asuransi yang cair dan sudah masuk ke rekening pemda.

Kendati demikian, diakuinya bahwa sampai sekarang penyidik belum menetapkan tersangka dalam pengadaan pesawat tersebut.

Sementara itu, Forum Mahasiswa Peduli Pembangunan Papua (FMPP-Papua) menyatakan sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 160 Tahun 2015 tentang Peremajaan Armada Pesawat Udara Angkutan Udara Niaga menyatakan pesawat udara hanya dapat digunakan hingga batas 30 tahun.

Pesawat itu diproduksi pada tahun 1960 dibuat pabrikan Viking Air Limited (De Havilland) di Kanada dan direka ulang oleh Pen Turbo Aircraft Inc (Penta Inc).

Reka ulang pesawat dilakukan dengan mengganti mesin dan beberapa komponen lainnya sebelum dijual kembali kepada pihak swasta rekanan Pemerintah Daerah Puncak Papua yang memenangi proyek pengadaan senilai Rp116 miliar.

Sebelumnya telah di beritakan pada periode 2016 bahwa Pesawat Caribou dengan kode penerbangan PK-SWW milik Pemda Puncak jatuh di sekitar Jila, Kabupaten Mimika, Senin (31/10/2016). Pesawat milik Pemda Mimika itu, hilang kontak dalam penerbangan Timika-Ilaga dengan membawa muatan kargo berupa besi pelat untuk membangun jembatan.

Selain pilot dan kopilot, pesawat itu hanya mengangkut kru, yakni mekanik Steven dan FOO Endri Baringin. Pesawat DHC-4A Turbo Caribou tersebut, dioperasikan perkumpulan penerbangan Alfa Indibesia dan hilang kontak dalam penerbangan ke Ilaga.

Pesawat itu, tinggal landas dari Bandara Timika pada pukul 22.57 UTC (07.57 WIT) dan diperkirakan tiba di Ilaga pada pukul 08.22 WIT. Kontak terakhir dengan Bandara Ilaga pada pukul 08.23 WIT melaporkan, posisinya berada di Ilaga Pass dan koreksi waktu tiba menjadi pukul 08.27 WIT.

Pukul 08.30 WIT, Ilaga Radio mencoba mengontak awak pesawat, tetapi tidak ada respons. Petugas Ilaga melalui radio mencoba meminta bantuan kepada awak pesawat yang melintas di area Ilaga, tetapi sampai pukul 09.20 WIT tidak ada informasi mengenai posisinya sehingga petugas Airnav Sentani menyatakan pesawat itu hilang.

Selanjutnya, pada pukul 08.22 WIT, petugas tower Timika menerima laporan dari pesawat yang melintas bahwa sinyal ELT diduga dari pesawat Caribou diterima pada posisi 40 NM-45 NM atau posisi antara Ilaga Pass dengan Jila Pass pada pukul 09.31 WIT.

Baca Juga : Pesawat Jatuh Dalam Ajang Balashikha Air Show, 2 Awak Tewas

 

BACA JUGA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *