OPINION

Bencana Alam, Tantangan Bisnis Penerbangan di Indonesia

Oleh : Arista Atmadjati

Pengamat Penerbangan, Direktur AIAC Aviation Jakarta.

Dalam sebuah konggress CIFOR Center of International Forestry Organisation di Jogya, release kerugian karena dampak asap seluruh Indonesia mulai Sumatera Kalimantan Jawa Sulawesi dan papua mencapai angka yang fantastis, rugi karena kebakaran hutan dampak asap Indonesia mencapai 7,3 Trilyun rupiah, tentu ini angka akumulasi mulai kerugian hutan, gambut sampai dengan dampak ke perbangan dan pariwisata, angka yang sangat mencengangkan .Apalagi sekarang ini terjadi lagi letupan Gunung Agung di bali yang sudah mencancel penerbangan kurang lebih 500 penerbangan yang mau masuk atau keluar pulau Bali rute domestic dan luar negeri.

November 27, 2017. Mount Agung spews volcanic ash, as seen from Datah Village in Karangasem, Bali, Indonesia. Mount Agung spews hot ash.

Dua tahun silam, beberapa bandara besar seperti di kota Medan, Pekanbaru, Palembang, Padang, Jambi, lalu di Kalimantan bandara bandara di kota Palangka Raya, Banjarmasin, Pontianak Timika, dan beberapa bandara skala menengah seperti bandara di kota Sampit, Pangkalan Bun, Berau, Putussibau,juga ikut terganggu karena effek kebakaran hutan dan asapnya membuat visibility –jarak pandang menjadi sangat minim, bisa berkisar hanya 600 meter-800 meter saja.

Aturan yang berlaku international visibility jarak pandang menurut badan keselamatan penerbangan dunia ICAO (International Civil Aviation Organisation), jarak pandang minimal diatur 3000 meter, maka jelas jarak pandang karena dampak asap 700 meteran jelas tidak diperbolehkan. Dalam sebuah laporan kerugian karena effek asap di Indonesia (Sumatera dan Kalimantan) dalam 3 minggu, angka kerugian dalam dunia aviasi secara keseluruhan ditaksir mencapai angka 7,3 Trilyun rupiah.

Nominal 7,3 T sungguh angka yang sangat besar karena effek asap, itu bisa berupa potential loss, seperti misalnya hilangnya maskapai mengenerate penumpang karena hampir semua penerbangan dibatalkan (cancel) maupun yang sudah riil terjadi kerugian, seperti misalnya: refund tiket penumpang, crew yang sudah stand by di bandara bandara Sukarno hatta, karena system buka tutup di bandara tujuan, jadi sudah terjadi cost logistic untuk fuelling avtur, pergerakan pilot dan cabin crew, catering up lift yang sudah terlanjur dinaikkan dan sebainya. Maka angka kerugian 7,3T selama effek asap selama 3 minggu adalah masuk akal.

Prediksi kebakaran hutan gambut dan effek kaca bisa diperkiran total selesai, biasanya memakan waktu 2 bulanan . Pengalaman saya bertugas di kota Banjarmasin tahun 2005 s/d 2008, kebakaran akan habis bila sudah memasuki awal musim penghujan di akhir bulan oktober, sedangkan kebakaran sudah mulai sejak awal agustus, jadi praktis akan berjalan eefek asap bagi dunia penerbangan di Indonesia selama 2 bulan, bisa jadi kerugiannya total paling tidak minimal bisa 15T, angka yang besar dan 15T bisa untuk membuat 1 bandara klas sedang dengan segala infrastruturnya.

Kita tahu kebakaran hutan gambut dan pembukaan lading sawit sudah berjalan 15 tahun, bisa dibayangkan kerugian karena asap bagi dunia aviasi di Indonesia selama 15 tahun, paling tidak juga mencapai angka 175 T bukan? Bila kita mengetahui angka kerugian di satu sector saja, penerbangan, selama 15 tahun karena asap 175 T, tentu hal demikian tidak boleh, tidak bisa ditoleransi lagi. Tantangan bisnis penerbangan di Indonesia tidak hanya berupa asap yang menutup bandara bandara di 15 airport, namun ada juga persoalan force majeur lagi yakni effek letusan dan debu abu vulkanik.

Belum lagi heavy traffic di Soekarno Hatta sampai dengan saat ini belum terpecahkan, kapasitas muat bandara yang di design hanya menampung 30 juta penumpang per tahun, kini terbebani menjadi 62 juta pertahun, 2 x lipat. Belum traffic per jam yang awalnya hanya 32x per jam take off landing, kini dimaksimalkan menjadi 81x kali frekuensi per jam. Pengalaman saya terbang le jambi dari Soekarno Hatta terbang jam 11 pagi, pesawat LCC kami masuk dalam antrian terbang nomer 9 untuk take off tanggal 26 Agustus 2017 lalu.

Bila ini tidak ada solusi mendesak, maka pelaku industri penerbangan niaga di Indonesia dan maskapai luar negeri akan menderita terbuangnya avtuur secara sia sia,karena antrian take off- landing pada saat jam jam peak dan ideal. Fuel burnt percuma kalau antre selama 20 menit, bias membakar setara harga avtuur 5 juta rupiah untuk tiap maskapai, sebuah pemborosan cost fuel consumption yang tidak pernah dipikirkan otban dan regulator, maskapai pasrah saja menerima keadaan ini. Sebuah cerminan yang buruk, dari sisi mitigasi plan dan congestion plan yang kurang gesit, citra bandara Soetta tidak baik di mata maskapai dalam dan luar negeri tentunya.

Indonesia sebuah Negara yang mempunyai ratusan gunung dan beberapa tahun ini ada yang aktif meletus juga sangat merugikan dan menggangu jalannya bisnis penerbangan di Indonesia,karena beberapa bandara juga di closed seperti beberapa yang terjadi yang lalu, abu vulkanis gunung menutup bandara-2 seperti Ngurah Rai Bali, Juanda, Blimbingsari banyuwangi dan Bandara Notonegoro di Jember serta juga bandara di kota Ternate dan Manado. Belum lagi effek domino nya menggangu traffic pesawat di bandara Hasaanudin di Makassar yang berfungsi sebagai hub and spoke dari Makassar ke  Manado,Ternate, Bali, Surabaya, jelas terjadi kekacauan.

Sayangnya, angka kerugian dari effek abu vulkanik bagi bisnis penerbangan di Indonesia tidak pernah dihitung . Beberapa gunung yang mengganggu penerbangan karena sering meletus bisa kita sebut G.Sinabung di Sumut, G.Gamalama di Ternate dan G.Lokon  di Minahasa , gunung .Raung di Jatim  Keprihatinan saya berkaitan dengan issu force majeur bagi dunia bisnis penerbangan di Indonesia yang semakin intens terjadi  adalah kurangnya stimulus dari pemerintah kepada dunia bisnis penerbangan di Indonesia di tengah persaingan global bisnis penerbangan yang sangat terasapada saat musim kemarau yang biasanya ada kebakaran hutan secara masive.

Namun sebagaimana saya uraikan diatas, sungguh berat sekali atmosphere bisnis penerbangan di Indonesia karena banyak sekali tantangan dan kendala, bisa seperti keadaan alam yang tidak bersahabat, efek asap karena kebakaran hutan dan abu vulkanik dampak gunung berapi sehingga ratusan frekuensi penerbangan domestik di cancel dan bandara-2 ditutup total.

Maka tak pelak stimulus insentif pajak barang impor spare part 27 item yang dimintakan oleh Asosiasi Penerbangan IATA dan Asoasiasi MRO maintenance repair Overhaul- Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA)  hendaknya  per segera di respond oleh pemerintah sekarang   seperti yang berlaku best practice yang dilakukan oleh negera Negara Thailand, Malaysia dan Singapore, memberlakukan pajak 0% untuk impor spare parts pesawat.

Thailand, Malasyia dan Singapore adalah Negara yang tergabung dalam Asean yang otomatis menjadi competitor pebisnis penerbangan Indonesia, namun industry aviasi Indonesia banyak menghadapi kendala kendala berupa alam force majeur dan harga spare part yang masih kena pajak impor spare parts rata rata , 5% sampai dengan 7%.

Angin Segar Stimulus Mulai Disetujui

Kabar gembiranya, stimulus pemberian keringan pajak mulai diberikan oleh kemenkeu dengan memberlakukan pajak barang impor 0% untuk 4 item komponen spare parts .  Pernyataan pejabat Bea Cukai baru baru ini, Direktur Penerimaan dan Kepabeanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi menyatakan tidak khawatir dengan potensi tergerusnya penerimaan negara akibat rencana kebijakan tersebut.

Dengan majunya industri nasional, maka akan memberikan multiplier effect yang lebih besar dibandingkan dengan penerimaan negara dari bea masuk yang hilang akibat fasilitas itu.

Sungguh ini sebuah terobosan pemikiran yang patut diacungi jempol, mengingat selama ini antar kelembagaan sangatlah sektoral dan ego sentris . Apalagi industry pesawat terbang kita PT DI segera meluncurkan produk andalan barunya pesawat N 219, yang memang sangat cocok untuk industry penerbangan perintis di Indonesia, utamanya untuk peruntukan di Papua dan kepulauan Maluku dimana banyak bandara yang hanya mempunyai panjang landasan dibawah 1000 meter saja.

Bila pesawat N 219 nanti laku di pasaran, tentu pesawat ini perlu membeli mesin(engine) dan spare parts dari pabrikan luar negeri. Disini masalahnya, bila pemerintah tidak mendukung dengan insentif/penurunan  pajak import spare parts maka industry pesawat kita, akan menjual produknya tetap mahal.

Berita bagus lainnya .pemerintah memastikan akan membebaskan bea masuk empat komponen yang digunakan dalam bisnis pemeliharaan, perbaikan, dan perawatan (Maintenance, Repair and Overhaul/MRO) pesawat. Hal tersebut dilakukan untuk mendorong perkembangan industri MRO di Indonesia.

“Untuk meningkatkan daya saing industri MRO nasional, Kementerian Perindustrian telah menyampaikan pertimbangan teknis kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk menurunkan empat pos tarif komponen pesawat menjadi 0 persen atau tidak dikenakan pajak bea masuk sejak 2013,” kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) I Gusti Putu Suryawirawan saat membuka Konferensi Internasional MRO Indonesia (AMROI) di Jakarta.

Setelah menunggu hampir dua tahun lamanya, baru tahun 2015 kemarin Kemenkeu resmi menyetujui pembebasan bea masuk tersebut. Empat komponen yang dibebaskan bea masuknya adalah mesin, propeller, starter motor dan starter generator. Namun, dia menegaskan industri MRO harus menunggu terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terkait sebelum dapat menikmati fasilitas tersebut.

Ketua Umum Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) Richard Budihadianto mengungkapkan sebetulnya ada 27 suku cadang pesawat yang diajukan asosiasi untuk mendapat fasilitas pembebasan bea masuk. Namun dalam proses untuk mendapatkan fasilitas tersebut, jumlah suku cadang yang disetujui Kemenkeu hanya empat seperti mesin dan Auxiliary power unit (APO).

“Kami ingin 27 komponen tersebut 0 persen semua bea masuknya. Bukan kami mau diperlakukan istimewa, karena umumnya di negara-negara lain memang 0 persen,”kata pejabat Kementrian Perisdustrian kala itu.

Dampak effect domino dari bisnis penerbangan tidak hanya di bisnis tiket pesawat saja . menurut Prof O Conner dari Univ Cranfield di UK, bisnis samping yang justru akan naik trendnya ke masa depan adalah bisnis MRO, hangar perawatan pesawat yang sarat dengan hich tech, hotel di seputar bandara, lahan parker inap di bandara, bill board, sign board iklan, outlet di dalam bandara, resto, dan beberapa pusat kebugaran.Bahkan tidak mungkin juga Rumah sakit dan sekolah sekolah international dan universitas mengingat konektivity ke bandara juga semakain mudah, ingat akhir th 2016 monarail atau MRT ke Bandara Soetta akan mulai beropreasi .

Komponen komponen spare parts tersebut bila bisa lebih murah harganya, tentu akan membantu industri penerbangan di Indonesia bisa lebih kompetititf dalam mendesign cost per unitnya menjadi lebih murah dan pada ujungnya harga tiket menjadi murah . harga tiket murah bisa mendongkrak traffic penumpang dan menggairahkan bisnis penerbangan di Indonesia agar siap berkompetisi,minimal dengan maskapai di Asean menjelang era memasuki era kompetisi maskapai global .Sehingga maskapai kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri serta bisa berkiprah minimal di regional Asean saja dulu.

BACA JUGA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *