HEADLINESLIFESTYLE

Bondan Winarno Tutup Usia, Si Maknyus Tinggal Kenangan

Jakarta, Airmagz.com – Dunia kuliner Indonesia berduka, Bondan “Maknyus Winarno tutup usia, mendiang Bondan tutup usia di RS Harapan Kita Jakarta. Bondan adalah figur publik yang telah menjajal sederet bidang selama hidupnya. Pria kelahiran Surabaya, 29 April 1950 itu merupakan penulis, wartawan, pengusaha, dan pernah menjadi konsultan untuk Bank Dunia di Jakarta.

Bondan Winarno lahir di Surabaya, Jawa Timur, 29 April 67 tahun silam. Beliau adalah seorang penulis dan wartawan Indonesia dengan berbagai kebisaan, selain itu juga Bondan pernah menjadi ketua jalansutra yaitu sebuah komunitas wisata boga yang sangat terkenal di Indonesia.

Di sebuah stasiun TV Nasional Bondan di daulat menjadi presenter kuliner, dan menjadi terkenal dengan jargonnya yaitu “Pokoe maknyus”. Selain itu, Ia juga mendirikan Kopitiam Oey.

Sejak 1960 (umur 9–10 tahun), Bondan menjadi penulis lepas. Pada 1984-1987 ia menjadi redaktur kepala majalah SWA. Pada 1987-1994 ia beralih menjadi pengusaha dan menjabat sebagai Presiden Ocean Beauty International, sebuah perusahaan makanan laut yang berbasis di Seattle Washington, Amerika Serikat.

Antara 1998-1999 ia menjadi konsultan untuk Bank Dunia di Jakarta, dan setelah itu, hingga 2000 ia menjadi direktur eksekutif dari sebuah organisasi pelestarian lingkungan. Pada 2001-2003 ia menjadi pemimpin redaksi harian Suara Pembaruan.

Seperti diketahui dalam beberapa bulan ini almarhum mendapat perawatan karena penyakit jantung. Lewat laman Facebook Jalan Sutra, Bondan pernah menceritakan riwayat sakit yang ia derita sejak dua tahun lalu. Ia pun pernah menjalani sejumlah operasi terkait pembuluh darahnya.

Dua pekan sebelum meninggal, pria kelahiran Surabaya, 29 April 1950 itu juga pernah menuturkan lagi sakit yang dideritanya lewat akun Twitter. Pekan lalu, Bondan masuk RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta.

 

“Pak Bondan masuk rumah sakit pada 23 November lalu, dan beliau meninggal tadi pagi, pukul 09:05,” ujar Edi, Bagian Hukum Organisasi dan Humas RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, saat dihubungi CNNIndonesia.com Rabu (29/11).

Lebih jauh, Edi mengatakan jenazah Bondan saat ini sedang berada di rumah duka RS JP Harapan Kita Jakarta hingga anggota keluarga datang. Selanjutnya, jenazah Bondan akan dibawa ke rumah duka di kediaman di Jalan Bangsawan Raya, Sentul.

“Kita menunggu anggota keluarganya datang, jenazah beliau ada di rumah duka, sebelum nanti dibawa ke Sentul,” ujarnya menambahkan.

Mengenai sakitnya ini, terakhir, Bondan sempat memberi update lewat akun Twitter pada 13 November, ia juga mengungkapkan sakit sejak operasi 6 pekan sebelumnya. Setelah itu, banyak ungkapan pendorong semangat dari netizen untuknya.

Lewat Facebook Jalan Sutra, Bondan juga pernah mengungkapkan riwayat sakit yang dialaminya dalam beberapa tahun terakhir. Disampaikannya, pada 2005, ia mulai merasakan ujung-ujung jari tangan kanan ba’al alias kesemutan. Ia menjalani pemeriksaan MRI di RS Premier Bintaro.

Setelah MRI, Bondan disarankan observasi di RSP Bintaro selama tiga hari. Kesimpulannya, cardiologist sangat yakin Bondan mengalami penyumbatan arteri jantung dan harus menjalani kateterisasi sesegera mungkin. Pendapat berbeda, disampaikan neurologis di RS yang sama mengatakan bahwa yang ia alami sama sekali bukanlah penyakit jantung.

Bondan mencari second opinion di RSPI. Kesimpulan sama, cardiologist bilang harus kateterisasi segera. Neurologist RSPI juga bilang: bukan masalah jantung. Dalam kebimbangan, ia memilih tidak menjalani kateterisasi, tapi hanya minum Plavix (pil pengencer darah) untuk menghindari penyumbatan arteri.

Setahun setelah minum Plavix terus-menerus, Bondan nyaris pingsan di rumah Yohan Handoyo setelah minum wines dan makan steaks. Dokter jaga yang berpengalaman menemukan diagnosa: tekanan darah terlalu rendah karena darah terlalu encer.

Sejak saat itu, ia ke HSC di KL untuk annual check up. Di sana dikonfirmasi dengan MSCT bahwa ia memang tidak mengidap penyakit jantung. Pada April 2015, sewaktu Annual Medex di HSC KL, ditemukan dilatasi (penggembungan) pada aortanya  pada tahap awal. Dalam bahasa medis, penyakit ini disebut: aorta aneurysm.

“Dalam pemeriksaan Dr. Iwan, setelah memeriksa hasil medical record terakhir di HSC KL, Dr. Iwan menemukan masalah lain: katup aorta saya bocor. Ia diminta untuk segera ke PJN Harapan Kita keesokan harinya untuk pemeriksaan echo. Dalam pemeriksaan echo di Harkit, 65% confirmed bahwa katup aortanya bocor. Ia kemudian menjalani TEE (endoscopy) untuk mendapatkan 90% konfirmasi. Demikianlah, dalam waktu singkat tim dokter Harkit menemukan kelainan lain yang perlu segera ditangani.

Dr. Iwan memberikan rujukan kepada tim bedahnya, Dr. Dicky Alighiery Hartono, ahli bedah vaskular lulusan Korsel. Ini adalah pembedahan paling berat, rumit, dan sulit, berlangsung 5-6 jam. “Mumpung Pak Bondan sedang fit, kita lakukan segera, ya?”

Jalani operasi 

Pada 27 September 2017 pagi, ia menjalani dua operasi sekaligus: penggantian katup aorta dan penggantian aorta yang nengalami dilatasi. Operasi berlangsung selama 5 jam dan dinyatakan berhasil. Ia siuman di ICU sore hari dan dirawat selama 24 jam di ICU. Dari ICU, ia dipindah ke Intermediary Ward. Normalnya, bila operasi berhasil, 24 jam sesudah di Intermediary Ward, maka akan dipindahkan ke kamar perawatan biasa. Dalam operasi besar seperti yang ia alami, ada dua hantu komplikasi, yakni perdarahan, dan aritmia (denyut jantung tidak beraturan).

“Saya terbebas dari perdarahan. Tapi, Sabtu dini hari saya kejang-kejang dalam tidur saya. Ternyata saya mengalami komplikasi aritmia. Saya dipasangi TPM (Temporary PaceMaker) sambil dimonitor penyebabnya (biasanya krn peradangan).”

Keajaiban terjadi pada Selasa malam, ketika perawat sedang mempersiapkannya untuk didorong ke kamar operasi, tiba-tiba denyut nadinya berirama kembali. Operasi dibatalkan. Bondan lega setengah mati.

Pada 5 November, Bondan pernah mengungkapkan kalau dirinya dinyatakan kurang Hb, sepulang dari RS Sanglah. Ia juga mampir di Arena Pub & Restaurant mencari steak di tempat favorit anak jaman sekarang.

Selamat jalan Pak Bondan, karya, ceria dan slogan “Maknyus” mu akan selalu kami kenang. (IMN) (Dari Berbagai Sumber)

 

BACA JUGA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *