Demi Pencabutan Ban Uni Eropa

Jakarta, Airmagz.com – Momentum naiknya peringkat keselamatan Penerbangan Indonesia ke nomor 55 dunia berdasarkan hasil International Civil Aviation Organization (ICAO) dimanfaatkan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia untuk mengetuk kembali pintu Uni Eropa (UE). Pasalnya, sudah satu dekade Indonesia masuk dalam daftar hitam penerbangan UE.

Setelah sebelumnya Indonesia berhasil meningkatkan keselamatan penerbangan, Agus Santoso (Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI) memaparkan upaya mencabut larangan (ban) penerbangan Indonesia ke UE sebagai langkah selanjutnya.

“Pencapaian ini akan meningkatkan kepercayaan dunia pada penerbangan Indonesia yang tadinya diragukan. Ini waktu yang tepat untuk mencabut ban UE terhadap penerbangan Indonesia” ujar Agus di Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta, Kamis (7/12/2017).

Mengawali upaya pencabutan ban tersebut, Agus dan timnya telah mengunjungi pihak otoritas penerbangan UE di Brussels, Belgia, pada awal Desember 2017 lalu. “Kami sudah membicarakannya di Brussels, dan kami siap mengupayakannya (pencabutan ban) dengan lebih keras. Meski berjalan alot, kunjungan ke Brussels tersebut tidak sia-sia. Mereka mempersilakan upaya kami untuk mencabut ban, dan mengatakan akan melakukan assesmen ke Indonesia,” ujar Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub Muzaffar Ismail di acara yang sama.

Muzaffar juga menyampaikan, assesmen itu akan dilakukan di wilayah remote area Indonesia, khususnya daerah timur, yakni Papua, dan akan dilaksanakan pada 12-21 maret 2018, “Mereka memilih Papua untuk di-assesmen. Mereka mengatakan pemilihan Papua lantaran banyaknya berita mengenai kekurangan keadaan penerbangan di wilayah Papua,” ujar Muzaffar.

Muzaffar juga mengakui bahwa UE memiliki keraguan atas Indonesia. “Mereka pikir kita memperlakukan maskapai itu dengan cara yang berbeda. Padahal, maskapai yang ada di Jakarta ataupun di Papua itu diperlakukan sama. Karena regulasi yang kami berlakukan adalah sama,” ujarnya.

Dalam waktu persiapan yang hanya tiga bulan, Agus menyatakan keoptimisannya bahwa ban UE akan dicabut pasca assesmen pada Maret 2018 nanti. “Nanti semua standar di Papua kita samakan. Inspektur pesawat terbang dan bandara akan segera kami kirim semua ke sana. Dan kami optimis dalam waktu yang tidak banyak ini,” ungkapnya.

Meski tidak memiliki waktu yang banyak, persiapan yang dilakukan Kemenhub tidaklah dari nol. Pasalnya, kriteria penilaian yang akan dilakukan UE tidak jauh berbeda dengan kriteria penilaian audit ICAO pada Oktober 2017 lalu.

Lakukan Banyak Persiapan

Maret 2018 nanti, UE akan memeriksa lima annex ICAO, yakni annex 1 Personnel Licensing, annex 6 Operation of Aircraft, annex 8 Airworthiness of Aircraft, annex 13 Aircraft Accident and Incident Investigation, dan annex 16 Environmental Protection.

Muzaffar juga menambahkan, dalam menyambut kunjungan UE itu sudah banyak persiapan yang dilakukan, antara lain dengan mengumpulkan airline dan memberangkatkan para inspektur secara bergilir untuk mengecek segala kebutuhan kriteria penilaian UE di sana.

Lebih lanjut, Muzaffar mengatakan persiapan yang dilakukan salah satunya adalah perbaikan equipment penerbangan. “Equipment penerbangan harus sudah dipasang seperti Ads-B, data analysis, dan lain-lain. Selain equipment, perlu dilakukan pula internal audit dari setiap kesalahan di sana,” papar Muzaffar.

Keberhasilan asesmen ini, kata Muzaffar, tergantung pada kesiapan para pelaku penerbangan di Papua. Sebab menurutnya, semua hal akan diperiksa, termasuk bandara dan maskapai, serta lisensi yang dikantongi para pilot yang terbang di sana.

Di sisi lain, bila pencabutan ban UE ini telah dilakukan, Agus berharap ada peningkatan pertumbuhan jumlah penumpang dan jumlah pesawat terbang. “Ini nantinya juga diharapkan mampu membawa banyak wisatawan mancanegara ke Indonesia, yang akan berefek pada pariwisata dan ekonomi masyarakat,” tutup Agus.

Seraya dengan pernyataan Agus, Alvin Lie (pengamat dunia penerbangan) mengatakan pencabutan pelarangan terbang Indonesia terhadap UE akan sangat bermanfaat bagi banyak pihak. Alvin juga mengatakan, pencabutan ban ini merupakan kepercayaan atau kemantapan UE terhadap kapasitas pengawasan dan pembinaan Kemenhub dalam menjamin kualitas keselamatan dan keamanan penerbangan.

Sementara itu pengamat penerbangan Arista Atmadjati memandang pencabutan ban UE ini hanya mengandung kebutuhan politik saja. “Jika ban UE nanti dibuka, sebenarnya percuma saja. Maskapai kita tidak memiliki kemampuan untuk terbang ke sana. Bahkan Garuda Indonesia saja bonyok, rugi terus. Secara komersial, maskapai Indonesia belum ada kemampuan untuk berkompetisi di Eropa, karena di sana ada maskapai-maskapai superior, yakni Emirate, Qatar, dan Etihad, belum lagi Singapore Airlines,” ungkapnya.

Arista juga mengatakan betapa besarnya pertaruhan maskapai Indonesia untuk berkompetisi di Eropa. Salah satu alasannya adalah persaingan harga. “Maskapai-maskapai Timur Tengah itu kan transitnya di Dubai dan Abu Dhabi, jadi ideal untuk pengisian bahan bakar.,” ujar Arista

Dilarang Lebih dari Satu Dekade

Pelarangan terbang Indonesia ke Eropa merupakan cerita lama. Seperti dilansir dari BBC Indonesia (2/7/2007), sekitar satu dekade yang lalu pelarangan ini dimulai. Pada 6 Juli 2007, UE memberlakukan larangan terbang atas seluruh maskapai penerbangan Indonesia untuk terbang ke Eropa. Larangan itu diberlakukan bersama dengan larangan atas maskapai penerbangan beberapa negara lain, seperti Angola dan Ukraina.

Konon, setelah audit ICAO di tahun 2007, ditemukan 121 penyimpangan dari aturan baku keselamatan terbang internasional. Berdasarkan temuan itulah FAA kemudian “men-down-grade” otoritas penerbangan Indonesia ke kategori 2.

Dua tahun kemudian, UE melakukan pencabutan larangan terbang Uni Eropa yang pertama terhadap Garuda Indonesia. Ini disebabkan Garuda saat itu berjuang mendapatkan berbagai sertifikat keselamatan penerbangan dari berbagai tempat.

Tahun 2010, Air Asia Indonesia menyusul Garuda dengan mendapatkan izin UE untuk terbang ke sana. Barulah pada Juni 2016, Uni Eropa mencabut larangan terbangnya terhadap tiga maskapai lainnya, yakni Citilink, Lion Air, dan Batik Air. Tapi hingga saat ini, masih ada sekitar 50-an maskapai Indonesia yang dilarang terbang ke Eropa. (MAH)

You might also like