Trend Kebangkrutan Industri Penerbangan Nasional

Oleh : Marco Umbas

 Divisional Head of IARC, Pengamat Penerbangan

Kerugian Lion Air group sebagai market leader dipasar domestik, pada periode 2017 sebagai merupakan signal kebangkrutan industri penerbangan nasional. ( Daya Beli Lesu, Kerugian Lion Air Group Membengkak pada 2017 CNN Indonesia 06/02/2018)

Begitupun yang terjadi dengan Garuda Indonesia Group (Merdeka Garuda Indonesia masih merugi sepanjang tahun 2017 , 23 Januari 2018)

Ditambah terdapat kenyataan terjadi pelemahan rupiah akhir-akhir ini, menambah ketidakpastian bisnis penerbangan karena harus membayar pos-pos biaya didalam dolar Amerika. (Tembus Rp13.600 per Dollar AS, Pelemahan Rupiah Terdalam Sejak Juni 2016 Kompas.com – 08/02/2018)

Lebih parah lagi bahwa trend kenaikan harga fuel berlanjut saat ini berada pada level US$ 63 dan analis memprediksi akan meningkat secara moderat. (Global Oil Price.com, Oil Price Outlook Feb. 05, 2018)

Meskipun terdapat dua digit traffic growth di tahun 2016 dan 2017 namun ternyata tidak memberikan dukungan yang memadai bagi profitability industri penerbangan nasional

Live or Die di tahun 2018

Meskipun diprediksi kenaikan trafik ditahun 2018 akan kembali dua digit namun mengingat daya beli cenderung stagnan dan kenaikan biaya fuel yang cenderung meningkat bahkan nilai tukar yang tidak stabil, maka industri penerbangan nasional akan menghadapi tantangan yang luar biasa.

Seyogianya perusahaan penerbangan nasional langkah-langkah drastis didalam menghadapi kondisi yang sangat kritis tersebut. Kenyataannya bahwa keadaan ini telah membebani cash flow mengingat perusahaan telah mengalami kerugian beruntun beberapa tahun terakhir Review strategic management yang dapat meningkatkan cash flow dan route profitability dalam jangka pendek seperti fokus pada rute-rute high yield and high density; Bundling strategy sehingga memberikan pelanggan tambahan benefit dengan harga yang bersaing. Tentunya kiat-kiat jangka pendek dapat diperpanjang sesuai dengan kekuatan masing-masing perusahaan.

Mengingat pada tahun 2017, AP1 dan AP2 telah menikmati kenaikan trafik dimana keuntungan AP1 ditahun 2017 sebesar 1,6 T (Republika.co.id 09 February 2018 Angkasa Pura I Raih Keuntungan Rp 1,6 Triliun) atau keuntungan AP2 sebesar 1,46 pada Semester 1 2017 (Detik Finance, 28 Jul 2017Angkasa Pura II Raup Untung Rp 1,46 Triliun, Naik 62%).

Untuk itu diharapkan pada tahun 2018 diharapkan AP1 dan AP2 dapat memberikan insentif-insentif bagi industri penerbangan nasional agar dapat survive ditengah kondisi yang tidak favorable. Insentive juga dapat diberikan oleh AirNav kepada industri penerbangan sehingga dapat membantu penurunan biaya penerbangan dan kemungkinan meningkatkan frekuensi penerbangan.

Secara makro peran pemerintah dalam menstimulasi ekonomi sehingga dapat meningkatkan daya beli masyarakat dalam jangka pendek, akan sangat membantu peningkatan trafik industri penerbangan.

Epilogue

Tahun 2018 merupakan tahun paling berat bagi industri penerbangan nasional sehingga diperlukan “total foot ball” dalam memberikan solusi untuk sustainability industri penerbangan nasional ditengah tekanan internal dan eksternal!

Selamat merayakan merayakan Tahun Baru Imlek 2018.

You might also like