Akankah Ancaman Kekurangan Pilot di Industri Penerbangan Indonesia Jadi Kenyataan?

Oleh : Saman Parthaonand

Pemerhati Penerbangan

“Pilot Shortage”: A Real Threat to Aviation and the Economy Globally” demikian Alexis David Fafard dalam Flying Policies blog nya, Apakah Indonesia akan terpengaruh oleh pemikirannya walau dikatakan Globally?

“Pilot Surplus”: Sementara masih hangat Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi, telah mendapat informasi terdapat 900 pilot pemula masih menganggur? (Dec 2017) Budi Karya pun sudah punya jurus untuk mengatasi masalah ini, apa jurusnya? “Jadi saya memang berusaha mengatur ini. Jadi nanti dari 900 pilot akan dites 200-300. Saya didik kembali baru ditawarkan pada Airline,” ujar Budi di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang.

Indonesia Shortage atau Surplus Pilot?

Industri Penerbangan Global menghadapi kekurangan Pilot yang serius, banyak yang akan memberi tahu Anda. Sebuah studi baru-baru ini oleh 2 Pabrik Pembuat Pesawat Komersial Dunia (Airbus, Boeing) mengungkapkan bahwa lebih dari 637.000 Pilot baru dibutuhkan dalam 20 tahun ke depan yang berarti lebih dari 80 pilot baru setiap hari selama dua dekade berikutnya. CAE memperkirakan musim panas lalu bahwa lebih dari 90.000 Pilot baru diminta pada tahun 2027. Ketika kelas menengah berkembang di kawasan Asia Pasifik, ICAO memprediksi bahwa bagian dunia ini sudah memerlukan 230.000 pilot pada tahun 2030. Secara global, kekurangan pilot mewakili pasar.

Pilot semakin tua, perekrutan pilot baru sangat tidak memadai. Karir percontohan yang menantang secara fisik dan mental sangat bermanfaat bagi siapa saja yang menyukai penerbangan. Namun, mungkin mengejutkan bahwa, secara global, penerbang semakin tua dan lebih tua, terutama di Amerika Utara dan Eropa

Batasan Usia Pilot

CAE (Canadian Aviation Electronic) melakukan penelitian yang mengesankan mengenai masalah ini pada tahun 2016 dan datanya agak mengejutkan saat kita mempertimbangkan batasan usia untuk pilot yang bekerja untuk perusahaan penerbangan. Di Amerika Serikat, usia pilot rata-rata adalah 48 sedangkan di Afrika, Timur Tengah, dan Asia, usia pilot rata-rata adalah 46 ketika di Eropa, rata-rata pilot rata-rata 43. Untuk alasan keamanan, di sebagian besar yurisdiksi ini, otoritas Penerbangan Sipil membatasi usia Pilot sampai usia 65 tahun, baik melalui Peraturan atau Kebijakan internal. Dengan masa pensiun baby boomer dalam 10 tahun ke depan, kekurangan besar pilot pesawat terbang akan segera terjadi – ini akan merupakan defisit kinerja penerbangan utama dan akan berdampak secara nyata pada keseluruhan ekonomi jika tidak ada tindakan yang diambil oleh pemangku kepentingan utama segera.

Maskapai Penerbangan di seluruh dunia memperluas Armada dan Jadwal penerbangan mereka untuk memenuhi permintaan yang dihasilkan oleh Ekspansi Ekonomi Global. Industri penerbangan terus mengatasi tantangan ini dengan menciptakan solusi berkelanjutan yang seimbang untuk mengisi jaringan percontohan masa depan.

Pasar Regional yang sangat bergantung pada perekrutan pilot dari luar lokasi rumah mereka semakin berusaha merekrut, melatih, dan mengembangkan pilot yang bersumber secara lokal. Peluang pasar baru menciptakan peningkatan permintaan untuk pilot berkualitas, terampil, dan berpengalaman.

Kebutuhan Pilot Baru berdasarkan Regional

Selama 20 tahun ke depan, kawasan Asia Pasifik akan memimpin pertumbuhan permintaan untuk pilot di seluruh dunia, dengan persyaratan untuk 253.000 pilot baru. Amerika Utara akan membutuhkan 117.000, Eropa 106.000, Timur Tengah 63.000, Amerika Latin 52.000, Afrika 24.000 dan CIS/ Rusia 22.000.

Kebijakan Airlines?

Di sisi Maskapai Penerbangan, banyak Captain konon enggan terbang dengan First Officer (Co-Pilot) yang hanya memiliki Jam Terbang 500 jam (low experience). Namun, Perusahaan Penerbangan menemukan sikap menarik tentang calon pilot yang lulus dengan Program Kemenhub ini. Bahkan, maskapai penerbangan melihat bahwa lulusan dari program ini dianggap lebih cocok untuk industri penerbangan memahami Aeronautical Knowledge Globally (Bridging Course Jet Engine, MCC, Ground ATP), tambahan pengetahuan sebelum terbang masuk maskapai penerbangan dengan harapan menjadi Pilot Professional di Industri Penerbangan dengan mendapat masukan dari perusahaan penerbangan (User). Airlines menginginkan bahwa Pilot harus mempunyai tingkat Disiplin dan Keunggulan yang tinggi (Kompeten), ini adalah variabel yang lebih signifikan ditambah perlunya sejumlah Jam Terbang (Pilot Experience) tentunya, walau rata-rata CPL Holder, terbatas Flight Hours yang mereka punyai.

Tetapi entah menutup keran Recruitment? atau masih terus ingin menggunakan Experience Pilot hingga kelak terdapat Captain baru dari Up-Grading, diselesainya batasan usia 65 tahun atau pension. Ada lagi perusahaan penerbangan meminta Type Rating pesawat tertentu B-737 NG atau A-320, tetapi membayar sendiri biaya Training tersebut, yang lagi lagi membutuhkan kurang lebih IDR 300 juta rupiah, garantikah mereka dapat langsung berkarya sebagai Pilot di Perusahaan Penerbangan itu? Ternyata tidak juga?

Professional Pilot Never Stop Learning!

Nasehat saya  yang terbaik untuk Calon Penerbang, baik yang akan terbang dengan Airlines Regular atau Commuter Charter atau General Aviation jadilah “Professional Pilot”, dimana Professional tetap menjaga serta memelihara Aeronautical Knowledge, Skill, Attitude dan Disiplin menjaga Kesehatan sesuai dengan ketentuan yang diharapkan oleh Kesehatan Penerbangan tergantung Kelas Kesehatan Penerbangan (Class 1 atau Class 2 Medical), demikian David St. George yang telah berkarya sebagai Pilot juga Instructor selama 35 Tahun, Pennsylvania USA.

Flight Hours atau Jam Terbang Pilot merupakan “Pengalaman Kerja” Pilot, dari Zero Hour di Flying School dan tercatat resmi dalam Flight Log Book yang dipunyai oleh masing2 Pilot, termasuk didalamnya, Jam Terbang sejak PPL, CPL dan ATPL (Air Transport Pilot License) merupakan Brevet Pilot jenjang tertinggi, ketika Peraturan mengatakan untuk ATP License paling rendah mengantongi sedikitnya 1500 Jam, sebenarnya untuk Pilot yang telah memegang CPL plus Instrument Rating, jam terbang yang diperlukan tidak menyebutkan pada Type Rated Pesawat tertentu, dengan demikian sebenarnya kepada 1300 Penerbang baru dan masih belum dapat berkarya di Perusahaan Penerbangan, tidak harus ke Airlines Besar Nasional seperti Garuda Group, Lion Group, Air Asia Group atau Sriwijaya Group tetapi bisa apply ke Perusahaan seperti Susi Air, AMA, MAF yang beroperasi di Papua, peran Regulator sangat diperlukan dalam hal ini seperti apa yang dikatakan Menteri Perhubungan, terutama Peraturan Penggunaan Tenaga Pilot Asing, Perusahaan Penerbangan tersebut juga harus punya Willing menerima Pilot2 Muda tadi tentu Acuan Test Kompetensi tanpa Toleransi mengingat Safety (Keselamatan Penerbangan) menggaris bawahi.

You might also like