Survival Garuda

Oleh : Marco Umbas

Pemerhati Penerbangan

Teddy P Rachmat, mengatakan bahwa kerberhasilan perusahaan tergantung kemampuan manajemen dalam mengidentifikasin “kemana arah angin berhembus” seperti yang dilakukan oleh Lion Air pada awal 2000 dengan LCC business model yang akhirnya berhasil memanfaatkan kesempatan domestic growth dan menjadi market leader di pasar  domestik.

Dipihak lain Garuda gagal memanfaatkan peluang tersebut sebaliknya menderita kerugian besar bahkan  sebagai salah satu BUMN yang mengalami kerugian terbesar ditahun 2017 dibandingkan BUMN lain di Indonesia.

Informasi terakhir bahwa situasi belum menunjukan tanda-tanda perbaikan mengingat kondisi persaingan yang makin tajam pada hampir seluruh rute yang diterbangi! Apalagi tingkat harga fuel yang cenderung tidak menunjukan indikasi menurun mengingat tinggi suhu politik di semenanjung Korea dan memburuknya hubungan Amerika dan Iran bahkan nilai tukar cenderung melemah diakhir 2017.

Pertanyaan lebih lanjut kemana arah angin tersebut berhembus dimasa yang akan datang??

Peta Persaingan Domestik

Berita  Metro TV tgl 19 Oktober bahwa INACA telah mengusulkan kenaikan tarif batas bawah mengingat kenaikan biaya operasi perusahaan penerbangan, menunjukan bisnis penerbangan di Indonesia menunjukan trend yang tidak sehat.

Persaingan diantara pemain di penerbangan domestik seperti Garuda group, Lion air Group,Airasia dan Sriwijaya group cenderung mengarah cut throat competition.

Apalagi dengan adanya airport congested di hampir seluruh airport besar di Indonesia sehingga kecil kemungkinan untuk meningkatkan pendapatan pada rute-rute yang   high yield and high density seperti Jakarta, Surabaya, Jogjakarta dan Denpasar

Peta Persaingan Internasional

Kondisi bisnis penerbangan internasional  berada pada titik nadir, kenyataannya bahwa hampir semua perusahaan penerbangan yang beroperasi di Asia Pacific  mengalami kinerja negatvie 2 tahun belakangan ini.

Dari Observasi bahwa hanya All Nippon Airways,China Airlines, EvaAir dan Penerbangan Main land China seperti Air China,China Southern  dan China Northern yang mengalami keuntungan bahkan Emirates mengalami penurunan keuntungan.

Sedangkan Singapore Airlines, Cathay pacific, Malaysia Airlines, Thai International bahkan Etihad airlines, Qatar airlines mengalami kerugian.

Kill or to be Killed

Diprediksi peperangan akan lebih dahsyat lagi karena semua perusahaan penerbangan akan berusaha dengan segala daya upaya untuk meraih keuntungan dan memenangkan hati pelanggannya kalau perlu membinasakan pesaing!

Seperti yang terjadi di persaingan domestik, peperangan  bukan hanya terjadi pada level corporate khususnya dengan adanya Online Travel Agent  tetapi pada setiap rute penerbangan dengan masing2 direct competitor.

Ternyata menjadi World’s Best Cabin Crew  tidaklah cukup, begitu juga dengan Airasia menjadi The World’s Best LCC tetapi  Indonesia Airasia  mengalami kerugian!!!

Memang benar dalam perspective marketing bahwa product/service adalah salah satu aspek marketing mix didalam memuaskan pelanggan dan meraih keuntungan perusahaan.

Sedangkan di pasar Internasional ,dengan kerugian yang dialami oleh beberapa maskapai terkemuka di Asia maka mereka akan mengunakan segala macam cara untuk kembali pada blue zone.

Untuk itu beberapa perusahaan  berlomba-lomba melakukan inovasi  produk baru dengan harga value for money seperti Premium Ekonomi Class dari Singapore Airline,Cathay Pacific dan China Airlines.

Atau meningkatkan network dengan Joint Venture Partnership seperti yang dilakukan oleh Singapore Airlines dan Lufthansa.

Semua strategi dan taktik diatas adalah untuk memuaskan pelanggan, peningkatan load factor dan pada gilirannya meningkatkan profitabilitas perusahaan.

Turn Around Garuda

Kejelian didalam membaca arah angin menjadi kunci kesuksesan perusahaan penerbangan sekarang dan dimasa yang akan datang.

Oleh karena semua aspek penerbangan didalam konteks peningkatan profitabilitas seyogianya ditinjau ulang mengikuti trend penerbangan yang menguntungkan perusahaan

Review Network Strategy

Review network strategy dengan mempertimbangkan  kekuatan perusahaan dan trend growth traffic didalam mengalokasi resources yang ada agar memberikan keuntungan perusahaan.

Selama bertahun-tahun penopang utama kinerja Garuda adalah rute-rute domestik sehingga prioritasnya adalah meningkatkan kinerja setiap rute domestik. Bahkan mejadikan Domestik market untuk menunjang rute-rute internasional!

Pada rute Internasional bahwa  trend growth adalah di Asia Timur terbukti  hampir semua perusahaan penerbangan Asia Timur dapat meraih keuntungan.

Maka seyogianya perhatian Garuda   pada  penerbangan ke China,  Korea dan Jepang yang diharapkan dapat memberikan keuntungan didalam waktu singkat.

Review Fleet Planning

Meskipun situasi bisnis penerbagan saat ini  tidak favorable namun kenyataannya bahwa hampir semua penerbangan telah memesan pesawat baru dan dengan delivery time yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Fleet planning tersebut dibuat berdasarkan asumsi pada trend market growth  dan net work strategy saat itu, dengan adanya perubahan kondisi bisnis penerbangan seyogianya fleet planning perlu disesuaikan agar dapat memberikan hasil yang maksimal untuk sustainability perusahaan.

Keberanian melakukan perubahan Fleet Planning dipicu oleh business instinct, seperti yang dilakukan oleh Alm Robby Djohan tahun 1998, pada saat mengembalikan pesawat MD 11 karena beroperasi dengan cash flow negative!

Tentunya perubahan fleet planning akan membawa dampak besar kepada pengeloaan keuangan khususnya cash flow perusahaan. Sehingga perlu dilakukan secara prudent agar dapat memberikan keuntungan jangka pendek  dan jangka panjang.

Review Marketing Strategy

Program Marketing yang terpadu tidak hanya pada level korporate tetapi lebih penting pada  masing-masing rute sehingga menghasilkan program recovery yang lebih actionable untuk perbaikan profitability pada masing2 rute.

Mereprofiling  target customer setiap rute sehingga program-program marketing yang ada dapat memuaskan kebutuhan pelanggan, apalagi sudah membayar dengan harga premium

Review Efficiency Program

Program efisiensi seyoginya memperhatikan business process perusahaan penerbangan seperti rasionalisasi jumlah pegawai di branch office luar negeri dengan implementasi centralized call centre.

Dengan membandingkan best practice, tanpa harus mengurangi tingkat layanan kepada pelanggan seperti yang dilakukan oleh Emirates, British Airways.

Daftar diatas dapat diperpanjang dengan pembentukan team efisiensi secara fungsional untuk mencari kemungkinan program efisensi,yang  dapat  dikerjakan dalam waktu singkat.

Epilogue

Kejelian didalam mengantisipasi trend penerbangan dimasa akan datang akan menentukan keberhasilan perusahaan.

Selanjutnya diperlukan keberanian dan determinasi untuk melangkah untuk memanfaatkan kesempatan yang ada  agar dapat menjaga sustainability  profitablitas perusahaan.

Share :
You might also like