Quo Vadis Penerbangan Domestik

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Pertumbuhan penumpang domestik positif 14% pada periode Januari – Agustus 2017 memberikan harapan besar bagi  perusahaan penerbangan domestik ( Pidato Ketua Umum INACA, INACA General Assembly 2017,26 Oktober)

Lebih jauh trend positif tersebut dimungkinkan karena pertambahan trafik diluar 5 Airport besar yaitu Bandara Soekarno Hatta, Bandara Juanda, Bandara I Gusti Ngurai Rai, Bandara Kuala Namu dan Bandara Hasanuddin.

Berdasarkan data statistik BPS bahwa ke 5 Bandara tersebut  memberikan kontribusi lebih dari 75%  terhadap total pertumbuhan penumpang  di Indonesia.

Jumlah Penumpang

Bandara Soetta,Juanda,Ngurah Rai,Kuala Namu dan Hasanuddin

Lebih jauh  terdapat trend negatif pertumbuhan traffic sebesar 1 % selama 5 tahun terakhir.

Sementara ini pertumbuhan traffic yang marginal di 5 bandara kecuali Kuala Namu dan Hasanuddin  mengingat airport limitation khususnya ketersediaan slot dan spot yang ada.

Dipihak lain potensi kerugian untuk beroperasi di kelima airport  cukup besar khususnya adanya  airport congestion sehingga pesawat  yang  berangkat harus antri panjang sedangkan yang mendarat harus antri diudara untuk menunggu gilirannya khususnya pada periode waktu tertentu.

Keadaan diatas tentunya akan meningkatkan pembakaran avtur dan otomatis meningkatkan biaya avtur pada setiap penerbangan yang beroperasi dirute tersebut. Konsekuensi logisnya bahwa airlines seyogianya menghitung ulang biaya operasi penerbangan di rute-rute yang beroperasi di airport tersebut diatas.

Dari perspektif bisnis penerbangan nasional bahwa persaingan pada rute-rute yang menghubungkan kota-kota diatas cenderung  sangat ganas. Mengingat rata-rata load factor masih dibawah rata-rata industri dunia khususnya bagi LCC, kesimpulannya terdapat indikasi bahwa supply melebihi demand pada rute-rute tertentu.

Akibatnya  LCC yang beroperasi pada rute diatas  akan berusaha dengan sekuat tenaga meningkatkan Load Factor dan Market Share agar dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan, akibatnya hyper competition tidak dapat dihindari.

Walaupun demikian  secara makro bahwa Upper Class masih menunggu situasi dimana mereka hanya bertindak ‘wait and see’, namun ada indikasi dimana pengeluaran di lifestyle cenderung terus bertumbuh (INDONESIA MARKET INSIGHTS PELAMBATAN PERTUMBUHAN RETAIL FMCG INDONESIA,OKTOBER 2017,AC Nielsen.

Terbukti setiap ada travel fair oleh Operator penerbangan, cenderung antrian cukup panjang (https://kumparan.com/pranamya-dewati/antrean-garuda-travel-fair-2017-fase-ii-membeludak)

Trend yang terjadi belakangan ini bahwa harga avtur menunjukan kenaikan dan nilai tukar terus melemah sampai akhir tahun ini (Harga Minyak Mentah Indonesia Tembus US$ 52,47 per Barel, Rabu, 04 Oktober 2017,Dunia Energi) dan Nilai Tukar Rupiah yang Cenderung Melemah Kamis, 28 September 17,Tribun Bisnis).

Konsekuensinya bahwa biaya operasi airlines akan meningkat mengingat  biaya avtur cukup proporsional terhadap total biaya penerbangan.

Sedangkan pendapatan dari rupiah akan menurun bila dinilai dalam US$, apalagi kenyataannya bahwa sebagian besar besar biaya penerbangan dibayar dalam mata uang US$. Kondisi diatas tentu saja akan mengurangi profitabilitas perusahaan penerbangan yang beroperasi di Indonesia.

Aviation Market Change

Seperti yang dikemukakan oleh A. Tony Prasetiantono, Ph.D/ Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik
Universitas Gajah Mada, dalam seminar INACA 27 Oktober 2017  bahwa irisan antara LCC dan Full Service Carrier(FSC) di Indonesia makin menebal artinya market segment  LCC dan FSC cenderung makin homogen. Khususnya Business class segment menjadi sangat fleksibel untuk memilih airlines yang sesuai dengan preferensinya dengan harga yang relative bersaing.

Perubahan peta persaingan diatas tentunya akan menambah intensitas  persaingan domestik karena Garuda dan Batik harus ikut berhadapan langsung dengan LCC yang nota bene anak perusahaan mereka sendiri yaitu Citilink dan Lion Air. Apalagi antara mereka  terdapat banyak melayani rute-rite yang sama sehingga akan menjadi kompetisi antara ‘bapak dan anak’.

Mengingat kenyataan diatas seyogianya airlines dapat mengkaji ulang strategi korporasi didalam menyingkapi perubahan trend tsb sehingga dapat mengambil manfaat agar dapat manjaga profit sustainability  perusahaan.

Keberadaan Online Travel Agent (OTA)  dengan dukungan modal yang sangat besar tidak dapat disangkal lagi, telah mengambil fungsi Airlines sebagai principle didalam bisnis penerbangan.

Dengan budget  biaya advertising yang besar ternyta telah  mendominasi  airlines channel income bahkan beberapa airlines mempunyai portfolio lebih dari 60% dari OTA.

Seperti yang terjadi di transportasi darat dimana On Line Transportation   ( OJEK,GRAB dan UBER) telah memukul Off Line transportation, seperti yang terjadi pada taxi Express dan Blue Bird.( Kamis 05 Oct 2017 ,Marak Taksi Online, Begini Dampaknya ke Blue Bird dan Express, – detik Finance)

New Unique Value Proposition

Pada umumnya Unique Selling Proposition LCC yang beroperasi di Indonesia  adalah Biaya Murah.Seperti Lion Air dengan Indonesia largest Lowest Fare Airline, Airasia dengan Lowest fare dan Citilink dengan Low Fare Everyday.

Apalagi dengan aturan batas bawah yang telah dicanangkan oleh pemerintah, menyebabkan USP Biaya  murah tersebut menjadi ambivalen bahkan sudah menjadi komoditi.

Menunjuk perubahan diatas seyogianya diperlukan penyegaran USP  mengingat lingkungan yang  sudah berubah apalagi dengan  dengan munculnya pesaing baru yaitu Online Travel Agent(OTA).

Lebih jauh telah terjadi perubahan preferensi market needs dengan munculnya segmen baru yaitu Segment Millennial. Trend tersebut seyogianya terakomodasi dalam New USP LCC agar dapat memberikan direct impact kepada  Brand Awareness dan Brand Association LCC tersebut.

New  Marketing Strategy

Dengan adanya new market segment tersebut seyogianya merubah market approach sehingga dapat memuaskan market needs dan wants.

Mark Plus telah menawarkan pendekatan baru berdasarkan penelitian bahwa  Innovation Effort  dapat meningkatkan  volume penjualan dengan  Product feature, Product system and Service

Sedangkan Innovation Value  dapat dicapai melalui  Business Model dan Networking model ( Jacky Mussry Deputy CEO MarkPlus, Inc,ISMS CEO Forum Jakarta, 25 October 2017)

Business  Model

Beberapa medel  bisnis dapat menjadi reference seperti  Qantas group Business Model dimana  benar-benar telah  memisahkan operasi Qantas sebagai FSC dengan Jet Star pada LCC segment.

Sedangkan  Southwest bisnis model secara disiplin hanya focus pada pengembangan LCC segment saja dan Airasia bisnis model dengan ekspansi pada rute menengah dan panjang.

Keputusan Airlines memilih Right Business Model yang berdasarkan ketajaman vision kedepan masing-masing leader di industri penerbangan, dimana tentunya dengan mempertimbangkan  kecenderungan market trend didalam jangka panjang.

Networking Model  

Model ini sebetulnya sudah dilakukan oleh airlines melalui program kerjasama dengan pihak ke 3  tetapi pada level yang sangat elementer. Seyogianya perlu ditingkatkan menuju partnership yang lebih komplementer agar dapat menambah value propostion dimata  pelanggan

Epilogue

Meskipun kebanyakan airlines di Eropa dapat merengguk keuntungan namun kebangkrutan Air Berlin menjadi pelajaran berharga  khususnya  dengan  fenomena New Competition Map dimana  kompetisi berasal  dari segala arah baik direct competition maupun indirect competition disemua belahan dunia dan New Customer Preference yang dipicu oleh Information Technology Development

Untuk survive dialam lingkungan bisnis yang selalu berubah , Airlines wajib mengikuti perubahan tersebut!

If you don’t change, you Die!  (Herb Kelleher, Southwest Airlines)

Share :
You might also like