Ini Yang Menarik Dari Meletusnya Gunung Agung

Oleh : I Made Legowo

Pengamat Penerbangan

Segala sesuatu tentang Bali, mesti menarik dan menimbulkan rasa ingin tahu yang besar. Kali ini tentang Gunung Agung. Sejak awal mulai ditengarai mau meletus, Gunung Agung mengundang rasa ingin tahu yang besar. Dari sisi persiapan menghadapi letusannya, Pemerintah Propinsi Bali sudah mempersiapkan diri. Barangkali tidak ada wilayah yang bersiap seperti Bali ketika akan menghadapi bencana dan musibah yang sudah dapat diperkirakan, kapan akan terjadi. Tercatat lebih dari 40 ribu pengungsi yang menjauh dari pusat bencana. Masyarakat yang menampung para pengungsi juga sudah siap dan menerima para pengungsi dengan penuh ikhlas dan penuh rasa persaudaraan. Beberapa minggu pengungsi berada di desa pengungsian.

Setelah ditunggu tidak jadi meletus juga, sebagian pengungsi diperbolehkan kembali ke rumahnya masing-masing. Gunung Agung ternyata seakan tahu diri. Dia memberi kesempatan lebih dahulu kepada masyarakat Bali untuk merayakan Galungan dan Kuningan. Dia menahan diri tidak membuat meledakkan lahar dan menjaga material vulkaniknya tetap berada di dalam perutnya. Sampai waktunya tiba.

Lalu tibalah saatnya. Perlahan tetapi pasti tekanan magma semakin kuat dan naik ke puncak kawahnya. Letusan freatik dimulai hari Sabtu 25 November sore hari. Kemudian berlanjut dengan letusan magma. Asap tebal bercampur debu membumbung tinggi ke angkasa lebih dari 6 km. Semburat warna merah tampak di puncaknya disusul suara ledakan yang membuat giris yang mendengarnya. Dalam sekejap debu vulkanik yang sangat halus sudah menutupi daun-daun tanaman di Karangasem.

Akibat debu yang melontar tinggi dan terbawa angin ke arah timur dan tenggara, Bandara Internasional Lombok ditutup, sejak hari Minggu 26 November 2017 sore jam 17.55 sampai besok pagi jam 06.00. Tentu saja batas penutupan bandara ini akan sangat tergantung tebalnya debu vulkanik yang terbawa angin, yang mengarah ke Lombok. Menyusul kemudian Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, juga ditutup mulai hari Senin 27 November 2017 jam 07.15 sampai hari Senin jam 07.00.

Yang menarik, meletusnya Gunung Agung disikapi masyarakat Bali dengan lebih friendly. Bukan ketakutan yang muncul, tetapi kesadaran. Masyarakat Bali mengerti dan memahami bahwa musibah itu pasti terjadi. Lalu mereka berdoa dan mengiringi dengan harapan dan doa, agar letusan kali ini lebih ringan dari letusan terakhir pada tahun 1963.

Bukan ketakutan yang muncul, tetapi justru foto-foto Gunung Agung yang eksotis yang sedang meletus. Foto-foto yang eksotis : awan debu tebal yang semburat merah, aliran lahar dingin, aliran lumpur di sungai dan video aliran lahar dingin bertebaran di medsos. Seakan itu bukan bencana dan musibah, tetapi pertunjukkan alam semesta. Panggung kreasi keindahan malapetaka dari Sang Maha Kuasa. Bali memang khas. Bali selalu bersikap positif tentang bencana sekalipun. Luar biasaaa …

Semoga Gunung Agung segera reda. Ini sebuah proses keseimbangan. Proses menetralkan tekanan dari dalam, semacam safety valve. Mudah-mudahan Gunung Agung tetap memberi manfaat, setelah letusannya berakhir. Semoga …

Share :
You might also like