Harapan Indah Aeromodelling Club (HIAC)

Mengendalikan laju terbang pesawat aeromodelling via remote control memberikan keasyikan tersendiri. Sensasi yang ditawarkan layaknya pilot pesawat sungguhan yang sedang melakukan penerbangan. Perlu kemahiran, keberanian, dan konsentrasi tinggi ketika pesawat take off, melakukan manuver, hingga landing.

Perbedaan yang ada hanya pada posisi sang pilot ketika sedang mengemudikan pesawat. Kalau pilot pesawat sungguhan ada di dalam kokpit, maka pilot pesawat aeromodelling ada di darat tanpa ikut terbang bersama pesawatnya. Pasalnya, aeromodelling merupakan kegiatan menerbangkan miniatur pesawat terbang yang dikendalikan oleh remote control dengan tujuan rekreasi, edukasi, dan olahraga.

Salah satu komunitas pecinta olahraga aeromodelling yang tetap eksis hingga saat ini adalah Harapan Indah Aeromodelling Club (HIAC), yang dibentuk pada 14 Mei 2005 lalu. “Komunitas ini berdiri 11 tahun lalu, di mana saat itu 2-3 orang penggemar aeromodelling yang kebetulan tinggal di seputaran kompleks Perumahan Harapan Indah di Bekasi ini sering berkumpul. Lalu muncullah ide untuk “terbang bersama” setiap Sabtu dan Minggu serta di hari-hari libur,” tutur Pius Gracio Anton, Ketua HIAC, ketika ditemui Airmagz di flying field HIAC Perumahan Harapan Indah Bekasi, Sabtu (14/1).

Dalam perkembangannya, menurut Pius, dari 2-3 orang tadi lalu terus berkembang menjadi puluhan orang, bahkan sekarang sudah ratusan pilot aeromodelling yang tercatat berkumpul dan terbang bersama di komunitas ini. Bahkan, jumlah anggota komunitas ini juga makin bertambah melalui olahraga dirgantara lainnya, yaitu paramesin dan drone.

Flying Filed yang Terbatas

Selain menjadi ajang pertemuan dan temu kangen, di setiap hari Sabtu para anggota HIAC juga melakukan latihan untuk mengasah kemampuan terbang, saling tukar informasi, dan memberikan hiburan kepada masyarakat di kawasan Perumahan Harapan Indah yang melihat kami,” ujar Pius.

Selanjutnya, Pius juga menyatakan bahwa dalam perjalanannya komunitas ini sempat beberapa kali pindah lokasi flying field. “Ini merupakan lokasi terakhir yang kami tempati atas seizin pengelola dan pengembang perumahan sejak Mei 2014 lalu. Awalnya, lahan kosong yang kami tempati sebagai home base HIAC merupakan lahan kosong yang ditumbuhi rumput dan alang-alang,” ungkapnya.

Atas seizin pengembang perumahan Harapan Indah, lanjut Pius, HIAC melakukan pembuatan landasan pacu dengan dimensi panjang 250 meter x 10 meter untuk runway-nya. “Selain itu, kami juga membangun fasilitas lainnya, seperti shelter untuk merakit dan mengecek kesiapan mesin pesawat sebelum diterbangkan. Kami juga membangun safety area di sekitar flying field agar kami bisa menerbangkan pesawat dengan berbagai jenis dan ukuran dengan aman,” ujar Pius.

Selain itu, anggota HIAC juga merawat dan menjaga flying field yang digunakan, seperti melakukan pemangkasan rumput dan alang-alang, menyirami rumput di musim kemarau, dan menjaga kebersihan lokasi. “Dari sisi perizinan, kami telah memiliki izin khusus dari pengembang perumahan untuk menggunakan lahan kosong yang masih belum dimanfaatkan untuk dijadikan flying filed. Jadi kami bisa menggunakan lahan kosong tersebut sambil tetap merawat dan menjaga kebersihan lingkungannya,” kata dia.

Sementara manfaat bagi pengembang dan pengelola perumahan, kata Pius, perumahan Harapan Indah semakin dikenal masyarakat luas karena di kompleks ini ada sebuah komunitas khusus pilot aeromodelling. “Jadi di sini ada kerjasama yang saling menguntungkan antara kami dan pengelola perumahan. Kami berharap pihak pengembang terus memberikan izin penggunaan flying field kepada kami,” ujarnya.

Tidak Ada Batasan Anggota

Saat ini, komunitas HIAC memiliki jumlah anggota sekitar 100 orang, dengan beragam latar belakang pekerjaan dan usia yang tersebar di beberapa wilayah di Jabodetabek, mulai dari Jakarta hingga Bekasi.

Komunitas HIAC yang baru saja merayakan HUT yang ke-11 ini beranggotakan orang-orang dari berbagai latar belakang pendidikan, status sosial, dan profesi. Ada yang dari kalangan akademisi, pelajar, mahasiswa, dosen, dan ada pula yang sudah menjadi profesor. Sedangkan dari dari kalangan umum, ada karyawan swasta, PNS, BUMN hingga pimpinan atau direktur perusahaan.

“Dari kalangan militer, mulai dari prajurit, perwira, hingga jenderal di beberapa angkatan serta kepolisian juga ikut bergabung. Sementara dari kalangan profesional ada beberapa lawyer, konsultan, dokter, enginner, dan lain sebagainya. Bahkan ada pula anggota HIAC yang merupakan pilot olah raga paramator,” papar Pius.

Pius juga menjelaskan bahwa Komunitas HIAC menerima dengan tangan terbuka siapa saja yang ingin bergabung. “Mereka yang ingin bergabung menjadi anggota dapat melakukan registrasi dan pembayaran uang pendaftaran. Selanjutnya, anggota membayar biaya bulanan untuk melakukan perawatan flying field,” tuturnya.

Berbagai jenis aeromodelling yang dimainkan oleh HIAC terdiri dari helikopter, drone, dan paramesin. Khusus untuk aeromodelling pesawat, ada pesawat elektronik bertenaga baterai, dan ada pula pesawat yang menggunakan bahan bakar dengan berbagai ukuran kubikasi mesin, mulai dari 20 cc hingga 120 cc dengan jenis mesin 2 tak.

Saat-saat paling menyenangkan bagi semua pilot aeromodelling HIAC adalah ketika menerbangkan propertinya itu di udara. Tapi ada hal yang lebih menyenangkan, yaitu saat berkumpul bersama sambil berteduh di bawah tenda di lapangan atau di dalam shelter. “Saat-saat di mana semua pilot berbaur, berdiskusi macam-macam, mulai dari kit (model) pesawat atau heli yang lagi trendi, atau tentang manuver terbang, hingga cara meng-oprek peralatan elektronik pesawat atau helikopter,” tutur Pius.

Jangan Asal Terbang

Bagi para peminat aeromodelling, untuk dapat menerbangkan dan mengendalikan pesawat dengan baik, mereka juga membutuhkan “jam terbang” layaknya pilot sungguhan. Bahkan para pemula di komunitas ini disarankan untuk melakukan terbang simulasi terlebih dahulu dengan menggunakan software simulator pesawat melalui komputer atau laptop, pesawat berukuran kecil dengan tenaga baterai, dan dilanjutkan dengan pesawat berbahan bakar minyak. “Harus ada proses dan tahapannya. Jadi, tidak semua orang langsung bisa menerbangkan pesawat aeromodelling,” tutur Pius.

Untuk peningkatan skill atau kemampuan di level dasar, komunitas HIAC juga bersedia memberikan pendampingan bagi para anggotanya, misalnya dalam melakukan take off dan landing.

“Selain itu, kami juga memberikan masukan kepada anggota pemula dalam hal pembelian pesawat. Misalnya dimulai dengan pembelian pesawat yang mudah dikendalikan, kemudian meningkat ke pembelian pesawat dengan tingkat kesulitan yang tinggi sesuai kemampuan yang dimiliki anggota. Sebab, semua itu berhubungan erat dengan keamanan dan keselamatan anggota yang bersangkutan,” ujar Pius.

Dalam pemilihan pesawat, anggota pemula disarankan membeli jenis pesawat elektronik yang menggunakan tenaga baterai, sehingga pesawat dapat langsung diterbangkan tanpa harus ribet dengan proses perakitan pesawat. Jadi, sejak dibeli, pesawat sudah dapat digunakan secara langsung.

“Tapi khusus untuk anggota di atas pemula, mereka bisa membeli sendiri kit (model) pesawat yang diperlukan sesuai keinginan, misalnya bodi pesawatnya saja untuk dipasangkan dengan mesin yang sesuai dengan jenis dan ukuran yang diinginkan. Tahapan ini sudah masuk dalam tingkatan merakit sebuah pesawat aeromodelling,” kata Pius.

Menurut Pius, proses dari tingkat pemula hingga benar-benar dapat menguasai pengendalian pesawat dapat dilewati dalam satu tahun proses latihan. Tapi, hal itu bergantung pada karakter tiap-tiap individu. “Biasanya anak muda lebih berani dalam mengendalikan pesawat sehingga lebih cepat menguasai tekniknya jika dibandingkan orang dewasa atau orang tua. Itu karena anak muda lebih memiliki orientasi dan refleks yang lebih baik,” papar Pius.

Selanjutnya Pius menerangkan, sebagai contoh, jika ingin merakit pesawat aeromodelling berkekuatan mesin 120 cc, maka dirinya akan mencari kit dan bodi pesawat untuk ukuran mesin 120 cc. “Kami ukur berdasarkan perhitungan mengenai berat dan kekuatan bodi pesawat agar mesin mampu menerbangkan pesawat yang dirakit. Hitungan tersebut dapat didiskusikan dengan pihak penyedia atau penjual pesawat aeromodelling,” ujar dia.

Pius menambahkan, jenis pesawat aeromodelling yang memiliki tingkat kesulitan paling tinggi adalah helikopter karena membutuhkan teknik dan gerakan reflek yang cepat dalam mengendalikannya. “Untuk menaikkan helikopter dengan ketinggian 1 meter dalam kondisi stabil saja sangat sulit, apalagi melakukan gerakan manuver. Jika tangan kita tidak lincah mengendalikan remote control, kemungkinan pesawat akan jatuh. Dan kalau jatuh, pasti akan rusak, dan biaya perbaikannya sangat mahal,” paparnya.

Pius mengaku menyayangkan perkembangan aeromodelling yang tidak begitu menggembirakan. Hanya beberapa wilayah yang masih menunjukkan geliat aksinya, seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang.

“Untuk wilayah di luar Pulau Jawa, perkembangan aeromodellling juga mirip dengan Pulau Jawa. Masih belum merata,” pungkas Pius.

Share :
You might also like