Era Of Disruption Industri Penerbangan Nasional Prospek 2018

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Lokasi Indonesia yang berada di  Ring Of Fire adalah keniscayaan, setelah meletusnya Gunung Raung pada awal Juli 2017 yang menyebabkan kerugian dunia pariwisata khususnya Bali dan Jawa Timur. Sekali lagi pada akhir Oktober 2017, dunia pariwisata Bali  kembali terguncang dengan meletusnya Gunung Agung.

Indonesia diperkirakan kehilangan Rp 9 triliun atau sekitar $ 665 juta dalam pendapatan pariwisata dari letusan Gunung Agung di Bali, yang sejauh ini tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, kata Menteri Pariwisata.

(http://jakartaglobe.id/business/indonesia-counts-losses-mount-agung-eruption)  30 November 2017

Belum lagi kerugian Industri penerbangan nasional khususnya dengan movement pesawat di bandara Ngurai Rai Bali antara 380-420 flight/hari dimana terjadi penutupan bandara selama 3 hari sehingga terjadi pembatalan penerbangan dari/ke Bali-Lombok untuk tujuan domestik dan mancanegara seperti Australia, Jepang, China, Malaysia, Thailand, Singapur dan Timur Tengah. Kemudian recovery process secara operasional telah memakan biaya yang cukup besar dan kemungkinan wisatawan menunda liburan ke Bali pada akhir tahun ini.

(https://travel.detik.com/travel-news/d-3751569/di-bali-turis-pergi-lebih-banyak-dari-yang-datang-akibat-gunung-agung)

Melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika sampai akhir tahun ini (BI: Pelemahan Rupiah Karena Faktor Eksternal dan Sementara,Rabu, 4 Oktober 2017 TEMPO,CO) merupakan tekanan berat keuangan khususnya cash flow Perusahaan Penerbangan Nasional karena sebagian besar biaya dibayarkan dalam mata uang dolar Amerika.

Keprihatinan berlanjut dengan harga minyak sekarang berada pada level US$ 63,4/barel naik dari USS 50/barel pada bulan Mei 2017

(https://ekbis.sindonews.com/read/1262104/35/harga-minyak-stabil-usai-opec-sepakat-lanjutkan-pangkas-produksi)

(http://katadata.co.id/berita/2017/08/01/tembus-us-50-kenaikan-harga-minyak-diprediksi-tren-sementara)

Ditambah dengan memanas suhu politik di semanjung Korea dan Pernyataan President Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, telah menimbulkan ketidak pastian politik  dunia sehingga pada gilirannya cenderung mengganggu stabilitas  harga minyak di tahun 2018.

Mengingat biaya bahan bakar menyumbang lebih dari 40% dari struktur biaya perusahaan penerbangan sehingga peningkatan biaya operasi penerbangan ditahun mendatang sulit dihindari.

Airport Congestion di beberapa bandara yaitu Jakarta,Surabaya,Denpasar dan Jogjakarta, yang menyumbang lebih dari 70% penumpang industri penerbangan nasional, akan meningkatkan biaya penerbangan. Mengingat seluruh penerbangan dari/ke bandara tersebut  harus mengeluarkan biaya bahan bakar ekstra  karena antrian yang panjang baik pada saat departure maupun arrival penerbangan.

Penyelesaian permasalahan diatas memerlukan waktu karena diperlukan tambahan konstruksi runway baru  bahkan bandara  baru untuk menambah kapasitas movement landing  dan departure pesawat pada bandara-bandara tersebut.

Konsekwensinya bahwa selain peningkatan biaya operasi penerbangan juga peningkatan jumlah penumpang yang signifikan dari bandara tersebut diatas sangat kecil kemungkinan terlaksana pada tahun 2018  mengingat kendala yang dihadapi saat ini.

Dengan berkembangnya digital economy ternyata telah menciptakan New Competition Map sekaligus  merubah Customer Preference didalam melakukan perjalanannya.

Head to head competition telah diperkaya dengan munculnya Indirect Competition khususnya Online Travel Agent(OTA) yang pada batas tertentu telah mendikte perusahaan penerbangan khususnya dalam strategi penjualannya. Hal demikian dimungkinkan karena OTA telah menyumbang lebih dari 60% pendapatan pada beberapa perusahaan penerbangan nasional khususnya Low Cost Carrier.

Lebih jauh kehadiran OTA juga merubah gaya traveling konsumen, dimana customer cenderung untuk membandingkan harga antar perusahaan penerbangan secara real time dan membeli ticket secara on line dengan segudang incentive bahkan kemudahan-kemudahan diluar core business airlines.

Mengingat kondisi diatas maka  tahun 2017 industri penerbangan nasional menunjukan signal ‘redup’ terbukti bahwa Garuda Indonesia group masih berada pada Red Zone (Kerugian Garuda Indonesia Naik 5 Kali Lipat di Kuartal III,Kompas.com – 25/10/2017) dengan harga saham dilevel psikologis 300 pada 15 Desember 2107  atau  kinerja Indonesia Airasia yang belum membaik (Ada Pemegang Saham Baru, Indonesia AirAsia Masih Rugi, detikFinance, Kamis 31 Aug 2017)

Peluang 2018

Seperti yang disampaikan oleh Bapak Pahala N Mansyuri/Chairman INACA pada pidato pembukaan RUPS INACA tgl 26 Oktober di Jakarta bahwa pada periode Januari–Agustus tahun 2017 pertumbuhan penumpang domestic 11% dan pertumbuhan penumpang  internasional sebesar 14%  pada industri penerbangan Indonesia.

Menunjuk prediksi pertumbuhan GDP pada tahun 2018 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu  sebesar 5,3%  maka trend pertumbuhan penumpang dan barang akan meningkat secara linier. Menurut data historis bahwa pertumbuhan GDP akan memberikan 2 sampai 3 kali pertumbuhan penumpang maka dapat diprediksi pertumbuhan penumpang dan barang pada tahun 2018  berkisar antara 10-15%.

Berdasarkan temuan diatas maka perusahaan penerbangan nasional seyogianya mengantisipasi trend positive diatas dengan kiat-kiat bisnis baru sehingga dapat memberikan peningkatan pendapatan dan peningkatan laba perusahaan penerbangan ditengah persaingan industri penerbangan nasional.

Airline Strategic Management

Menurut Theory Strategic Management Michael Porter bahwa perusahaan seyoginya memilih business model untuk penetrasi pasar yaitu Cost Leadership, Focus atau Differentiate seperti yang dilakukan oleh Southwest Airline yang secara disiplin menerapkan konsep Cost Leadership dengan  Low Cost Carier( LCC)

Beberapa perusahaan penerbangan nasional terkesan  galau didalam memilih business model khususnya pada penerbangan domestic,contohnya Garuda-Citilink dan Batik-Lion bertarung  pada rute-rute yang sama.

Mengingat sudah terjadi perubahan Customer Preference dimana segmentasi Low Cost Carier(LCC) dan Full Servic Carier(FSC) cenderung mempunyai irisan makin tebal (A. Tony Prasetiantono, Ph.D,26 Oktober 2017), sehingga diperlukan penataan ulang implemenasi business model agar dapat memberikan keuntungan optimal perusahaan Penerbangan.

Keputusan untuk membagi rute kedalam LCC routes dan FSC routes seyoginya dilakukan secara hati-hati  baik dari segi traffic density, flying hours and yield masing-masing  rute.

Didalam menguatkan determinasi pilihan diatas seyogianya perusahaan penerbangan melakukan riset customer behavior untuk mengetahui new customer preference dan new competition map serta profile masing-masing segment seperti Perubahan  Business Segment profile, Leisure Segment profile, VFR Segment Profile dan munculnya Millennia Segment Profile, sehingga perusahaan penerbangan tidak ragu dalam mengambil keputusan.

Penentuan target Yield, Load Factor and Flight Utilization ditahun 2018, akan menentukan arah perusahaan penerbangan didalam melakukan alignment antara kekuatan perusahaan dan Market Opportunity. Maksudnya agar seluruh potensi kekuatan perusahaan dapat dipakai untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang muncul,seperti Indonesia Airasia dengan kekuatan di rute regional seyogianya lebih memfokuskan diri untuk melakukan pengembangan pada rute-rute tersebut.

New Market, New Strategy

Market baru dengan customer profile baru memerlukan strategi baru  untuk memuaskan kebutuhan market needs dan wants,sehingga dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan penerbangan nasional.

Salah satu kelemahan mendasar penerbangan nasional adalah belum menggunakan riset yang memadai didalam pengembangan network maupun identifikasi customer preference yang baru. Sehingga berkesan setiap pembukaan rute baru dan inovasi service cenderung coba-coba atau berdasarkan intuisi semata, akibatnya tingkat kegagalan relative cukup tinggi dan otomatis akan menangguk beban kerugian perusahaan penerbangan.

Dalam era digital, perusahaan penerbangan seyogianya menawarkan value  yang lebih menarik dengan bundling strategy sehingga dapat meningkatkan on line transaction and visitor pada masing-masing website perusahaan penerbangan.

Penguatan pesan kepada customer sebaiknya dilakukan melalui social media, yang relative murah  dengan story telling  customer experience yang original.

Apabila konsumen dapat tersentuh dengan cerita tersebut kemudian mereka akan share diarena media sosialnya. Untuk itu setiap tayangan di sosial media seyogianya ditargetkan menjadi trending topic karena originalitas pesan yang diciptakan melalui  customer scenario.

Kombinasi dengan event dan exhibition secara rutin bulanan bahkan mingguan akan memberikan impak ganda untuk promosi produk dan service baru perusahaan penerbangan.

Sebagai contoh pemberian layanan unik meal on board seperti  nasi tempong Bali  atau Sambel Roa Manado atau Kopi Aceh atau Ayam Taliwang Lombok atau nasi rendang Padang dan dipesan secara on line sebelum keberangkatan, layanan ini akan  mengurangi waste meal dan tentunya meet customer expectation.

Launching layanan tersebut sebaiknya dipackage dengan event-event rutin dan BTL/ABL agar pesan sampai di benak konsumen. Every month there are new Product/Service!

Pengembangan Network seyogianya mempertimbangkan kondisi congested airport karenanya point to point market menjadi pilihan utama seperti yang dilakukan oleh Lion,Citilink dan Sriwijaya dimana telah membuka rute-rute baru seperti Palembang-Jogja, Bandung-Pangkal Pinang,Semarang-Palembang

Untuk mengurangi resiko kegagalan pembukaan rute baru seyogianya dilakukan market riset untuk menentukan secara lebih akurat: forcasting total market pada origin/destination rute tersebut,penentuan jenis pesawat yang akan dioperasikan, penentuan jumlah frekwensi perhari/ perminggu, penentuan days/time of operation dan penentuan business model LCC atau FSC untuk melayani rute tersebut.

Selanjutnya pengembangan bisnis baru yang dapat dilakukan dalam waktu singkat,tanpa mengeluarkan biaya besar dan mempertimbangkan perkembangan bisnis logistic beberapa tahun terakhir yaitu pengembangan bisnis kurir. Selama ini perusahaan penerbangan nasional cenderung hanya sebagai ‘penonton’,sedangkan keuntungan yang diraih oleh perusahaan jasa kurir saja.

Meskipun ditahun mendatang industri penerbangan nasional mengalami tekanan  external yang sangat berat dan perubahan pasar yang sangat drastis namun pertumbuhan penumpang  diprediksi  sangat sehat.

Dengan Solid Market Growth, New Competition Map dan New Customer Preference maka dibutuhan New Strategy untuk  meraih keuntungan di tahun 2018!

In the midst of chaos, there is also opportunity –  Sun Tzu

Selamat memasuki Era of  Disruption 2108.

 

Share :
You might also like