Membangun Memori Lewat Museum Kemayoran

Oleh : Heru Legowo

Pengamat Penerbangan

Setelah menunggu lebih dari satu tahun, mulai terdengar lagi geliat rencana membangun Museum Kemayoran. Rencana ini mengemuka dan diliput media atas prakarasa Direktur Komersial PT. Angkasa Pura I Bpk. Asrori. Pada tanggal 13 Juni 2016 di Gedung Pertemuan NAM Centre semua pemerhati Bandara Kemayoran dan media berkumpul. Pada pertemuan itu, semua pihak yang peduli dan merasa memiliki hubungan emosional dengan Bandara Kemayoran, bersepakat mengusulkan kepada pihak yang berwenang, untuk menjadikan bangunan Terminal Penumpang eks Bandara Kemayoran dan Tower Kemayoran, menjadi cagar budaya. Bangunan itu agar dipelihara dengan baik. Rencananya bahkan dikembangkan menjadi semacam Museum Kebandar-udaraan.

Melanjutkan rencana itu kemudian Komunitas Save Ex Kemayoran Airport (KSKMO) secara intensif melakukan pendekatan kepada para pemangku kepentingan. Ini dilakukan sebagai upaya merealisasikan menjadikan Tower Kemayoran dan Terminal Penumpang menjadi cagar budaya yang dilindungi dan tidak tergusur oleh perubahan jaman. Beberapa pejabat penting yang dihubungi dari mulai Dirjen. Perhubungan Udara, Dinas Pariwisata dan PPKK (Pusat Pengelola Kawasan Kemayoran) sudah menyatakan siap mendukung rencana ini. Masalahnya pemilik lahan dalam hal ini PPKK dan para pemerhati itu tidak dapat bertemu pada satu kesepahaman, bagaimana melakukan renovasi cagar budaya tersebut yang vital bagi dunia penerbangan Indonesia tersebut. Semua pejabat yang dihubungi menyatakan siap mendukung. Hanya saja untuk melakukan eksekusinya perlu biaya yang tidak sedikit. Dan tidak ada satu pun yang menyatakan sanggup atau paling tidak punya alternatif untuk mendanai usaha pelestarian cagar budaya itu.

Dana CSR PT. Angkasa Pura I

Lalu PT. Angkasa Pura I tampil kemuka dan berencana menggunakan dana Cummunity Social Responsibility (CSR)-nya, untuk renovasi bangunan-bangunan tersebut. Hanya saja PT. Angkasa Pura I tampaknya hanya akan fokus berpartisipasi untuk memperbaiki eks Bangunan Terminal Penumpang Bandara Kemayoran. Rencananya eks bangunan itu akan diubah menjadi semacam Museum Kebandar-udaraan. Dan PT. Angkasa Pura I segera bersiap menyalurkan dana CSR-nya tersebut sebelum tahun 2017 berakhir. Kemudian ada masalah yang muncul, bahwa dana CSR tersebut tidak dapat diserahkan kepada perorangan atau kelompok, melainkan mesti kepada suatu institusi atau paling tidak institusi yang berbentuk yayasan. Sebenarnya yang selama ini berhubungan dengan PT. Angkasa Pura I dalam semua gerakan dan inisiasinya adalah KSKMO. Hanya saja karena KSKMO bukan berupa yayasan, PT. Angkasa Pura I kesulitan dalam menyalurkan CSR-nya.

Kemudian muncullah Yayasan Museum Nasional Bandara Kemayoran (YMNBK). Yayasan ini sebenarnya sudah terbentuk lebih dahulu pada tahun 2013. Yayasan ini berdiri diawaki oleh 13 orang pemuda yang tinggal di sekitar Kemayoran dan peduli dengan eks Bandara Kemayoran. Pada waktu Jokowi masih menjabat Gubernur,YMNBK ini pernah menghadap dan mengusulkan agar kawasan Kemayoran menjadi cagar budaya. Jokowi setuju. Lalu usulan ini dilanjutkan ketika Ahok menjadi PTS Gubernur DKI.

Masalah yang tidak pernah dapat diselesaikan adalah karena lahan itu dimiliki PPKK, Bangunan Eks Kemayoran dimiliki Sekretariat Negara, dan ijinnya dari Gubernur. Masalah inilah yang terus tidak ada kunjung ada solusinya. Barangkali hal ini lebih dulu yang mesti diselesaikan dan diputuskan sebelum bertindak lebih jauh lagi.

Kembali ke masalah CSR, PT. Angkasa Pura I terdesak waktu untuk menyalurkan dana CSR-nya. Sudah 2 tahun jika dana CSR ini tidak terealisir akan menjadi catatan yang kurang bagus. Jadi, akhirnya PT. Angkasa Pura I harus segera menentulan untuk menyerahkan dana CSR-nya. Kemudian keputusannya dana CSR ini akan disalurkan melalui YMNBK. Sambil menunggu masalah tersebut diatas mengenai lahan dan kepemilikannya itu diselesaikan, sekarang bagaimana menggunakan dana CSR PT. Angkasa Pura I itu benar-benar bermanfaat dan menghasilkan sesuatu seperti yang menjadi semangat bersama.

Yayasan lain untuk Tower Kemayoran?

Lalu bagaimana dengan eks Tower Kemayoran? Pak Saryono Mantan Direktur Personalia dan Umum Airnav, mengatakan bahwa Airnav sangat antusias untuk ikut berpartisispasi dalam menjaga cagar budaya Kemayoran. Mengingat sejarahnya, Airnav akan mendukung sepenuhnya upaya menjaga cagar budaya yang berupa eks Tower Kemayoran. Suatu hal yang kebetulan. Mengingat Tower Kemayoran tidak menjadi fokus dari PT. Angkasa Pura I dan YMBNK, maka seyogyanya Airnav ikut aktif dalam pemugaran eks Tower Kemayoran ini.

Lalu, untuk menyiapkan dana saluran CSR dari Airnav (jika ada) apakah juga harus dibentuk seperti YMNBK juga? Apakah hanya perlu satu saja, yaitu YMNBK saja yang menangani itu semua? Ini membutuhkan pembahasan lain yang lebih komprehensif lagi.

Semoga segala upaya untuk melestarikan eks Bandara Kemayoran berhasil mewujud menjadi nyata. Hasilnya pasti sangat bermanfaat bagi generasi mendatang. Museum ini akan membuat generasi muda, dapat melihat dan membayangkan mengenai bagaimana Bandara Kemayoran di masa yang silam.

Share :
You might also like