Puas atas Peringkat Indonesia

Jakarta, Airmagz.com – Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau yang lebih dikenal dengan sebutan AirNav Indonesia, menyampaikan rasa syukurnya atas capaian Indonesia dalam meraih nilai keselamatan di atas ratarata dunia pada audit keselamatan USOAP (Universal Safety Oversight Audit Programme) yang dilakukan oleh ICAO (International Civil Aviation Organization).

Hasil audit secara langsung (on-site) pada keselamatan penerbangan di ruang udara Indonesia wajib selalu diutamakan bahkan terus ditingkatkan,” ungkap Novie. Novie juga menjelaskan, ada delapan proses ICVM (ICAO Coordinated Validation Mission) yang dilakukan pada 10-18 Oktober 2017 lalu menghasilkan nilai keselamatan Indonesia mencapai 81,15%, melampaui nilai rata-rata pemenuhan standar keselamatan penerbangan dunia yang berada pada batas 64,71%.

Direktur Utama AirNav Indonesia, Novie Riyanto, saat memberikan keterangan resmi di Jakarta pada Selasa (21/11) mengatakan bahwa seluruh stakeholder penerbangan dan masyarakat Indonesia patut bersyukur terhadap capaian luar biasa ini. Peningkatan nilai ini merupakan buah dari koordinasi dan kolaborasi yang baik dengan regulator dan stakeholder lainnya.

“Pada tahun 2016 lalu Indonesia mendapatkan nilai 51,61%, kemudian tahun ini meningkat signifikan menjadi 81,15%. Hal ini merupakan bukti kerja nyata yang dilakukan oleh seluruh stakeholder penerbangan di tanah air. Sesuai dengan instruksi dari Presiden Joko Widodo dan motivasi serta dorongan yang disampaikan oleh Menteri Perhubungan,keselamatan penerbangan di ruang udara Indonesia wajib selalu diutamakan bahkan terus ditingkatkan,” ungkap Novie.

Novie juga menjelaskan, ada delapan aspek yang menjadi sorotan ICAO dalam audit USOAP. Aspek navigasi penerbangan (Air Navigation Services/ANS) menjadi salah satu yang memberikan dampak signifikan bagi peningkatan keselamatan penerbangan Nusantara.

“ANS mendapatkan nilai 86% pada tahun ini, meningkat signifikan dibandingkan tahun 2016 yang hanya 56%. Nilai ini jauh melampaui nilai rata-rata negara-negara di Asia Pasifik yang memiliki nilai 59,56%, ASEAN 64%, bahkan dunia 65%. Keselamatan navigasi penerbangan Indonesia kini dapat bersaing secara global,” ujar Novie.

Lebih lanjut, Novie menyatakan ada 77 item penilaian yang berkaitan dengan aspek navigasi penerbangan, dan tim ICAO mengambil sampel penilaian dengan melakukan kunjungan ke Kantor Cabang JATSC di Jakarta serta Kantor Cabang Medan. Dari puluhan item penilaian tersebut, kata Novie, ada beberapa aspek utama yang meningkat dari penilaian sebelumnya. “Antara lain pemenuhan terhadap aturan dan regulasi, Safety Management System (SMS), penerapan PBN, dan budaya reporting,” papar Novie.

Sertifikasi dari Kementerian Perhubungan

Kantor layanan AirNav di seluruh Indonesia mendapatkan sertifikasi dari Kementerian Perhubungan. Total, ada 190 sertifikasi yang terdiri dari Civil Aviation Safety Regulation (CASR) 171, 172, 173, dan 175 yang telah diterbitkan, baik untuk layanan, peralatan maupun personel navigasi penerbangan AirNav Indonesia. Hingga saat ini, ada 97 cabang yang telah mendapat sertifikasi CASR 171; 66 cabang CASR 172; satu CASR 173 untuk Kantor Pusat AirNav Indonesia; dan CASR 175 untuk 25 Cabang serta satu Notam (Notice to Airmen) Office.

Adapun 122 sertifikasi yang terdiri dari 57 cabang CASR 171, 58 cabang CASR 172, dan tujuh cabang CASR 175 masih dalam proses dan dikejar untuk segera diselesaikan secepat mungkin. Selain itu, personil dan fasilitas yang digunakan AirNav juga mendapatkan sertifikasi secara berkala.

Peningkatan kompetensi personel navigasi penerbangan ini direkam dan diperbarui secara berkala dengan menggunakan sistem personalia berbasis daring yang dikembangkan oleh AirNav Indonesia, yaitu HRIS (Human Resources Information System). Ada pula aplikasi berbasis daring lain, yakni SWORD (Safety Now Online on Record & Document), yang dapat diakses oleh personel navigasi penerbangan AirNav Indonesia untuk dapat mengetahui regulasi dan aturan yang relevan seputar pelayanan navigasi penerbangan, baik internal perusahaan nasional, maupun internasional.

Selain sertifikasi, pembuatan dan pembaruan standard operation procedure (SOP) untuk pelayanan navigasi penerbangan juga terus dilakukan agar sesuai dengan penerapan teknologi yang lebih mutakhir serta kebutuhan operasional di lapangan. Terdapat pula di dalamnya contingency plan dan alur koordinasi dengan pihak luar yang terus disesuaikan dengan aturan dan regulasi yang berlaku.

“Dari sisi prosedur, kami melakukan Performance-Based Navigation (PBN) dengan mengimplementasikan SID RNAV-1 dan STAR RNAV-1. Prosedur ini meningkatkan efisiensi pergerakan pesawat udara sehingga mengurangi penggunaan avtur dan dapat meningkatkan kapasitas ruang udara,” tutur Novie.

Aspek lain yang juga penting adalah sistem reporting terhadap keselamatan penerbangan. AirNav telah memiliki sistem EFFORT yang merupakan sistem pelaporan berbasis web. Semua pihak dapat melaporkan kejadian yang terkait dengan layanan navigasi, dan nantinya sistem akan melihat apakah hal tersebut masuk kategori hazard, incident, hingga accident. “Ini menjadi basis bagi kami untuk melakukan perbaikan dan peningkatan keselamatan,” pungkasnya. (BD)

 

REKOMENDASI