“Aksi Nyata Harus Ada demi Perubahan”

Prily Hana Astari, Public Relations Iris Worldwide Indonesia

“Gagasan besar tanpa aksi nyata tidak akan menghasilkan perubahan. Perubahan akan terwujud ketika aksi yang dilakukan lebih besar dibanding gagasannya”. Mungkin semboyan hidup seperti itu yang selalu Prily Hana Astari pegang teguh. Dan tak main-main, hal itu sudah Prily buktikan saat ia membuat campaign bertajuk “Air untuk Blora” di tahun 2016 lalu.

Campaign tersebut muncul atas panggilan jiwa Prily yang prihatin melihat minimnya persediaan air di Desa Jepangrejo, Blora, Jawa Tengah. Di sana, saat musim kemarau, stok air sangat terbatas. Sawah-sawah dibiarkan mengering. Sampai-sampai salah satu warga desa rela memberikan persediaan airnya untuk kebutuhan sapi ternak dibanding untuk keperluannya sendiri.

Mengetahui kondisi tersebut, wanita kelahiran Balikpapan 24 April 1995 ini mencari cara untuk menyelamatkan potensi pertanian dan peternakan yang ada di Desa Jepangrejo. Prily pun membentuk tim social campaign untuk mengumpulkan dana membangun water reservoir.  Melalui tim social campaign tadi, akhirnya Prily ikut berkontribusi dalam “changing people lives to get a better life” sebagai langkah kecil membangun negeri.

“Achievement dan pengalaman itu paling berkesan buat saya. Because from a simple idea, nothing is impossible if we can think big to make it come true,” kata dara cantik yang menjabat sebagai public relations di Iris Worldwide Indonesia ini.

Mendaki gunung juga menjadi aktivitas lain yang Prily sukai. Gunung Ciremai, Sindoro, Sumbing, Merbabu, hingga Semeru sudah ia jejaki. Bagi Prily, mendaki gunung dapat menghilangkan penat dan kebosanan dari rutinitas sehari-hari. Dan sunrise adalah momen yang paling ia tunggu saat berada di puncak gunung.

Dari deretan gunung tadi, Gunung Sumbing-lah yang memberi kesan tersendiri bagi Prily. Sebab, ada kisah menarik saat ia mendaki Gunung yang berlokasi di Jawa Tengah itu. Ia memulai pendakian pada malam hari, saat cuaca tidak mendukung. Bersama temannya, Prily tiba-tiba tersasar jauh keluar dari jalur pendakian. Mengerikannya lagi, ia hampir tergelincir jatuh ke jurang.

“Untungnya, tangan kanan saya refleks memegang batang pohon. Kemudian teman-teman menarik badan saya yang saat itu ‘gelayutan’ di batang pohon,” tuturnya.

Dalam hal pekerjaan, profesionalisme Prily sebagai PR ia tunjukkan dengan selalu berhati-hati dalam bertutur maupun bersikap. Sebab, bagi Prily, profesi PR ibarat muka bagi perusahaan. “Baik buruknya perusahaan sangat bergantung pada PR-nya. Setiap kata dan kalimat dari PR akan mempengaruhi image perusahaan,” tutur jebolan S-1 dari Universitas Gadjah Mada yang ingin sekali mendaki Gunung Everest ini. (MD)