Bandara Temindung Belum Dapatkan Pengganti Kalstar

Jakarta, Airmagz.com – Hingga pertengahan Januari, penerbangan pengganti Kalstar, belum kunjung ada di Samarinda. Hal ini diungkapkan Kepala Unit Pengelola Bandar Udara (UPBu) Temindung, Samarinda, Usdek Luthermand, Kamis (11/1/2018).

“Sampai saat ini belum ada beritanya,” kata Usdek, saat dikonfirmasi mengenai progres izin terbang Xpress Air, dari Bandara Temindung, ke sejumlah rute di Kaltim.

Sampai saat ini, kata Usdek, Kementrian Perhubungan (Kemenhub) belum memberikan izin operasinal kepada Xpress Air. Pasalnya, masih ada beberapa persyaratan yang masih harus diverifikasi oleh Kemenhub.

“Jadi intinya pesawat yang akan digunakan dokumennya belum disampaikan ke Kemenhub untuk diverifikasi apakah laik terbang apa tidak. Termasuk pilot ATR 42 yang sangat langka di Indonesia,” urainya.

Meski belum kunjung mengantongi izin operasional, kata Usdek, belum ada maskapai lain di luar Express Air, yang berminat mengisi slot penerbangan yang ditinggalkan Kalstar di Kaltim.

Sekadar informasi, rute kosong yang ditinggalkan Kalstar yakni Balikpapan, Malinau, Berau, Nunukan, Tarakan, Melak, dan Tanjung Selor. Tujuh rute tersebut dilayani pesawat jenis ATR berkapasitas 48 penumpang. Praktis, kini Bandara Temindung hanya melayani penerbangan perintis ke lima bandara lainnya di pedalaman Kaltim.

Yakni Long Apung, Data Dawai, Muara Wahau,dan Sangata. Lima rute perintis ini dilayani pesawat berkapasitas 9 penumpang. Kaltstar Aviation tak lagi beroperasi di Bandara Temindung sejak izin penerbangannya dibekukan oleh Kemenhub, 30 September 2017, lalu.

Usdek pun menuturkan, keputusan Kemenhub membekukan izin terbang Kalstar Aviation, sudah melalui kajian mendalam.

“Dirjen kita memberikan peringatan. Supaya Kalstar berbenah dulu. Dan keputusan ini bukan mendadak. Mungkin sudah sering diberikan peringatan sebelum-sebelumnya,” kata Usdek.

Kemenhub, lanjut Usdek meminta Kalstar memerbaiki manajemen finansial dan manajemen teknik. Sehingga, berdampak pada pelayanan kepada masyarakat.

“Banyak aspek yang harus dibenahi. Mulai aspek teknik, hingga finansial. Yang muaranya ada di keselamatan penerbangan,” tutur Usdek. (IMN/Tribun)

REKOMENDASI