Dahsyatnya Gempuran Bisnis E-Commerce

Jakarta, Airmagz.com – Tutupnya sejumlah gerai dua peritel besar pada akhir 2017 lalu, menjadi bukti begitu dahsyatnya dampak dari bisnis e-commerce. Jika ada yang buntung, ada juga pihak yang menangguk untung dari model bisnis yang memanfaatkan kecanggihan teknologi tersebut.

Pusat perbelanjaan yang sedari dulu merajai pemenuhan kebutuhan masyarakat, saat ini masa kejayaannya tengah pudar. Terlihat dari beberapa tempat yang sudah mulai ditinggalkan pelanggan, bahkan ada yang tutup. Pusat perbelanjaan yang mulai gugur adalah Glodok, Roxy, bahkan yang baru-baru ini adalah Lotus Departement Store yang berlokasi di Gedung Jakarta Theatre Thamrin, dan Debenhams yang memastikan akan menutup seluruh toko pada akhir tahun ini.

Begitu juga peritel tanah air Ramayana dan Matahari yang mencatat periode Agustus dan September tahun lalu menjadi masa-masa sulit. Akhir September, Ramayana menutup delapan gerainya, selang beberapa pekan, Matahari pun menutup dua gerainya yang berada di kawasan Pasaraya Blok M dan Manggarai.

Wakil Ketua Kamar Dagang Industri (KADIN), Sarman Simanjorang menilai e-commerce memang belum menjadi penyebab utama merosotnya bisnis ritel. Tapi melihat tren e-commerce dan teknologi yang terus berkembang, dia memprediksi bisnis belanja online akan menjadi ancaman besar.

Sebelumnya Asosiasi Perusahaan Retail Indonesia (Aprindo) pernah mengunggah data yang menunjukkan bahwa sejak kuartal pertama 2017 kemarin, penjualan ritel mengalami penurunan 20%. Aksi “terjun bebas” tersebut juga menyasar okupansi sektor ritel yang sempat anjlok hingga 83,8 persen di kuartal ketiga.

Wakil Ketua Aprindo, Tutum Rahanta merasakan betul menurunnya pendapatan ritel ini. Ia mengakui banyak faktor internal dan eksternal mengapa shifting retail berjalan lesu. Tapi yang jelas, kesalahan pengusaha memilih lokasi toko, konten bisnis yang tidak kompetitif, turunnya daya beli masyarakat dan maraknya pertumbuhan e-commerce telah menjadi penyebab-penyebabnya.

Para pelaku usaha perlu mengantisipasi gejala-gejala tersebut dengan cara masuk ke arah digital. Sebab munculnya e-commerce merupakan keniscayaan dari perkembangan teknologi. Meski demikian, menurut Tutum, e-commerce hanya bentuk cara penjualan. Pada prinsipnya yang dijual tetap sama, medianya saja yang berbeda.

Karena kesamaan prinsip inilah, ia mendorong supaya pemerintah bersikap adil kepada pengusaha konvensional ataupun digital dengan memberi perlakuan dan kewajiban yang sama. “Apa yang dibebankan ke ritel, juga harus dibebankan ke e-commerce,” jelas Tutum.

Industri Logistik Tetap Tumbuh

Berkebalikan dengan industri ritel yang cukup terkena dampak dari riuhnya transaksi e-commerce, industri logistik justru sejak 2013 lalu mengalami pertumbuhan 13 persen di setiap tahunnya. Menurut Yukki Nugrahawan Hanafi , Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), tren positif industri logistik akan terus menanjak di tahun-tahun berikutnya walaupun pertumbuhan di tahun 2017 sejauh ini masih jadi yang tertinggi. “Asumsi kami tahun 2018 pertumbuhan e-commerce akan sama dan terus naik kalau kebutuhan primer mulai masuk ke e-commerce,” prediksinya.

Untuk menjaga tren positif ini kata Yuki, pelaku logistik atau biasa ia sebut e-logistic terus melakukan persiapan, bergerak dan berlomba untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Di antaranya, tahun lalu e-logistic sudah mulai masuk ke pergudangan yang khusus melayani e-commerce. Bukan hanya itu, beberapa terobosan baru juga e-logistics lakukan dengan memberi layanan last mild delivery.

Yuki menyadari, kompetisi pasar sekarang sangat tinggi. Banyak market place yang kini menyediakan layanan pengiriman barang. Meski begitu, ia tidak gelisah karena e-logistic dari anggota ALFI sudah menjalin kerjasama dengan market place untuk saling bersinergi.

Lagi pula market Indonesia masih sangat besar. Walaupun market place mempunyai layanan logistik internal, menurutnya para pengusaha e-commerce akan tetap membutuhkan jasa e-logistic. Apalagi, teknologi e-logistic terus berkembang menyesuaikan customers shopping behavior.

Dalam paket deregulasi ke-16, pemerintah telah mengeluarkan regulasi khusus bagi e-commerce tentang upaya percepatan penerbitan perizinan berusaha dari tingkat pusat hingga daerah. Menurut Yuki, pemerintah perlu membangun Pusat Logistik Berikat (PLB) bagi e-commerce dan Kementerian Keuangan atau Direktur Jenderal Beacukai juga harus segera mengeluarkan peraturannya.

Anjloknya penjualan ritel, nyatanya tidak berlaku bagi semua perusahaan ritel. Carrefour yang kini bertransformasi menjadi Transmart jauh-jauh hari sudah memprediksi adanya “serangan” e-commerce. Sehingga Transmart sudah mengambil ancang-ancang dengan mengembangkan konsep 4 in 1. “Inti konsep ini, kita tidak hanya menjadikan toko sebagai tempat berbelanja tapi juga melengkapinya dengan unsur-unsur lifestyle,” terang Manajer Komunikasi Transmart Carrefour, Satria Hamid.

Ia mengaku tidak gentar dengan demam e-commerce sebab pasar-pasar offline masih bergairah. Situasi ini justru membuat Satria termotivasi untuk terus melakukan inovasi dengan inisiatif, inovatif, dan semangat enterpreneur.“Kita harus melihat tanda-tanda zaman. Tapi apakah datangnya era digital membuat kita berpangku tangan? Jangan dong,” tambahnya.

Menurutnya, digitalisasi seharusnya mendorong para pelaku usaha ritel untuk semakin agresif menjalin kerjasama dengan pemasok dan menawarkan harga-harga promo supaya konsumen tetap datang ke toko yang berbentuk fisik.  “Kita belum ingin buru-buru masuk ke pasar onlie karena konsentrasi kita ingin mengembangkan penetrasi toko ke seluruh Indonesia,” pungkasnya. (MD)

REKOMENDASI