Bintan International Airport Akan Kerjasama Operasi Dengan AP II

Bintan, Airmagz.com-Pulau Bintan di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau akan segera membangun lagi satu Bandara Khusus bertaraf Internasional di kawasan Lagoi, guna mengakomodir kebutuhan aksesibilitas lebih dari 2 jita wisatawan mancanegara (Wisman) yang selama ini harus terbang transit ke Singapura sebelum ke Bintan.

Potensi wisata di Kepulauan Riau sangat bagus dan sudah bertaraf internasional. Tiap tahun sekitar 2 juta Wisman berkunjung ke daerah ini, namun sekitar 70 persennya datang dari Singapura karena tidak ada penerbangan langsung ke Kepri.

Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso (Tengah) bersama CEO Bintan Airport Michael Wudy dan GM Admin Bintan Resort Aditya Laksana

Dengan jumlah Wisman ini menjadikan Kepri sebagai destinasi keempatdi Indonesia yang banyak dikunjungi wisatawan asing. Sayangnya sekitar 70 persen wisatawan asing tersebut mengunjungi tempat-tempat wisata di Kepri melalui penerbangan transit di Singapura dan dilanjutkan dengan kapal laut langsung ke  tempat wisata Kepri seperti misalnya ke Bintan Resort di Lagoi Pulau Bintan.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso, saat mengunjungi Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang dan Bintan Resort di daerah Lagoi, dua tempat yang sama-sama berada di Pulau Bintan, Jum’at (10/2) mengatakan untuk  mengembangkan sektor pariwisata tingkat internasional di Kepulauan Riau itulah, perlu dikembangkan sebuah bandar udara internasional yang representatif dan dekat dengan tempat-tempat wisata.  

“Dengan adanya bandar udara yang representatif dan dekat dengan tempat wisata bertaraf internasional, diharapkan wisatawan asing bisa langsung terbang ke Indonesia. Dengan demikian akan menambah devisa bagi Indonesia dan bisa lebih mengembangkan perekonomian di daerah Kepulauan Riau,” ujar Agus.

Saat ini di sekitar resort wisata internasional di Lagoi, Bintan sedang dibangun sebuah bandar udara. Namun sesuai persyaratan yang dipenuhi oleh pihak swasta yang membangunnya, izin yang diperoleh adalah izin bandara khusus yang tidak bisa melayani penerbangan komersial Internasional. Hal ini menyebabkan  pembangunan bandara tersebut menjadi sedikit tersendat.
Agar bandara tersebut bisa menjadi bandara komersial internasional, Agus Santoso mendorong pengelola bandara tersebut untuk melakukan kerjasama operasi (KSO) dengan PT. Angkasa Pura 2 sebagai pengelola Bandara Raja Haji Fisabilillah yang bertaraf komersial Internasional dan juga berada di Pulau Bintan.

“Jadi nantinya pengelolaan operasional bandaranya menjadi satu. Demikian juga pengelolaan navigasi penerbangannya juga jadi satu. Di bandara baru tersebut bisa didirikan sub tower ATC yang menginduk pada tower ATC Bandara Raja Haji Fisabilillah. Jarak kedua bandara tersebut tidak jauh sehingga masih bisa dilakukan kerjasama tersebut. Dan kerjasama seperti itu juga sudah jamak dilakukan di dunia penerbangan internasional,” ujar Agus lagi.

Menurut Agus, hal ini sesuai dengan kebijakan Presiden Joko Widodo untuk mengoptimalkan pembangunan-pembangunan infrastruktur di Indonesia yang tersendat-sendat sehingga bisa cepat terselesaikan dan bisa menjadi pendorong kemajuan perekonomian daerah maupun nasional.

Sampai saat ini pembangunan bandara baru tersebut sudah menyelesaikan izin penetapan lokasi dan kawasan keselamatan operasional penerbangan (KKOP). Sedangkan Izin Mendirikan Bangunan Bandar Udara (IMBB) saat ini sedang dalam proses pembahasan.
Bandara baru tersebut nantinya ditargetkan mempunyai panjang runway sekitar 3.500 meter sehingga bisa melayani operasional pesawat-pesawat berbadan besar dari mancanegara.

Bintan Aerospace Park

Selain untuk melayani penerbangan wisata, bandara tersebut juga diproyeksikan untuk melayani penerbangan pesawat-pesawat yang akan dirawat. Karena di kawasan sekitar bandara juga akan dikembangkan aerospace park di mana akan ada banyak perusahaan Maintenance Repair and Overhaul (MRO) yang beroperasi.

“Saat ini ada sekitar 1200 pesawat yang beroperasi di Indonesia yang setengahnya dirawat oleh MRO luar negeri. Hal ini karena terbatasnya kapasitas MRO di tanah air.  Dengan tambahan MRO di bandara tersebut nantinya akan menambah kapasitas MRO nasional dan perawatan pesawat Indonesia bisa dilakukan di dalam negeri. Bahkan juga bisa meraih pangsa pasar dari luar negeri. Dengan demikian devisa negara akan bisa bertambah, baik dari sektor wisata maupun industri MRO tersebut,” pungkas Agus.

REKOMENDASI