Dirjen Hubud Ajak Civitas Academica ITB Kembangkan Penerbangan Nasional

Jakarta, Airmagz.com – Kampus sebagai tempat berkumpulnya para intelektual juga merupakan agent of change bagi sebuah masyarakat. Para intelektual tersebut diperlukan untuk melakukan penelitian dan juga karya nyata dibidang penerbangan sehingga nantinya bisa melakukan pengembangan atau perubahan dari sesuatu hal yang saat ini sudah ada di masyarakat. Dan dengan demikian masyarakat bisa berkembang dengan baik secara proporsional mengikuti perkembangan zamannya.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Agus Santoso menyampaikan hal tersebut di kalangan civitas academica Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam acara diskusi panel Menggali Potensi Penerbangan Indonesia pada hari ini di Aula Barat kampus ITB di Bandung. Agus Santoso sendiri merupakan alumnus ITB angkatan 78 yang dengan pengalaman puluhan tahun di penerbangan Indonesia meniti karir sebagai structure engineer di IPTN saat dipegang oleh Habibie, sampai saat ini sebagai Regulator.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Agus Santoso di dalam acara diskusi panel Menggali Potensi Penerbangan Indonesia, pada hari ini di Aula Barat kampus ITB di Bandung

Sebagai regulator di bidang penerbangan nasional, Agus mengajak dan menginginkan peran serta civitas akademika ITB untuk turut memajukan penerbangan nasional. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan baik itu terkait teknologi kedirgantaraan maupun sektor transportasi udara.

“Contohnya, saat ini kita sedang mengembangkan pesawat buatan anak negeri yaitu pesawat N219 Nurtanio. Seharusnya kita juga bisa melakukan riset rancang bangun pesawat lain yang tepat untuk geografis Indonesia sebagaimana N219 itu. Teman-teman dari ITB dan kampus-kampus lain di Indonesia bisa ikut bergabung dengan PTDI dan LAPAN untuk mengembangkan pesawat tersebut dalam bentuk series dan configurasi sesuai peruntukannya atau membuat pesawat yang baru. Dengan demikian kita mempunyai produk unggulan yang bisa kita tawarkan ke dunia internasional,” ujar Agus.

Menurut Agus, pesawat N219 Nurtanio sudah banyak dipesan baik dari negara lain maupun dari dalam negeri. Selaku regulator, Diretorat Jenderal Perhubungan Udara memberikan dukungan penuh dalam sertifikasi mulai dari sertifikasi disain, test development, production dsb, serta pengembangan pesawat ini sebagai bagian produk dari operator penerbangan di tanah air.

N219 adalah pesawat multi fungsi bermesin dua yang dirancang oleh PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) dengan tujuan untuk dioperasikan di daerah-daerah terpencil Indonesia. Pesawat berkapasitas 19 penumpang ini didesain sebagai pesawat perintis, penghubung daerah terpencil dan pulau-pulau kecil yang bisa mendarat di landasan tanah, berumput, atau berkerikil, dengan panjang landasan 600 meter. Pesawat ini terbuat dari sheet alumunium aloy dan dirancang untuk mengangkut penumpang maupun kargo. Pesawat yang dibuat dengan memenuhi persyaratan FAR 23 ini dirancang memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dan pintu fleksibel yang memastikan bahwa pesawat ini bisa dipakai untuk mengangkut penumpang dan juga kargo.

Selain teknologi penerbangan, Agus melanjutkan, civitas academica ITB juga bisa ikut melakukan penelitian atau riset terkait Sub Sektor Transportasi Udara. Misalnya melihat dan meneliti potensi wilayah-wilayah di Indonesia yang bisa dikembangkan dengan membangun bandara, baik itu di wilayah daratan maupun perairan.

“Potensi sektor penerbangan di Indonesia itu sangat besar dan menunggu untuk lebih ditumbuhkembangkan. Sebagai negara yang secara geografis adalah kepulauan, maka sektro penerbangan itu suatu keniscayaan, baik untuk transportasi penumpang maupun barang (kargo) dari satu pulau ke pulau lain dengan selamat, aman, nyaman dan cepat,” lanjutnya.

Pada kesempatan tersebut, Agus juga memaparkan kondisi penerbangan nasional saat ini. Menurutnya, pertumbuhan penumpang sektor transportasi udara memberikan pengaruh positif terhadap kenaikan pertumbuhan ekonomi nasional. Pada periode antara tahun 2015-2017, rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional per tahun sebesar 5.06 %. Sementara itu jumlah penumpang pesawat udara juga meningkat 11 % tiap tahunnya dari dua tahun terakhir.

Di samping itu, sektor penerbangan juga memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) dan sektor pariwisata. Saat ini terjadi peningkatan PDB dengan rata-rata pertumbuhan 5,4% per tahun antara tahun 2011-2016. Pertumbuhan PDB nasional tersebut terjadi seiring dengan pertumbuhan kontribusi sub sektor transportasi udara terhadap PDB yang rata-rata sebesar 3,6% per tahun pada periode yang sama.

Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso memberikan tandatangan pada karya anak bangsa yaitu model pesawat layang BL-1 Bledhug.

Sedangkan Peran Transportasi udara untuk sektor pariwisata, Agus menyatakan bahwa pertumbuhan jumlah wisatawan mancanegara rata-rata sebesar 8,6% pada tahun 2011-2016 merupakan bagian dari total demand angkutan udara nasional.

“Transportasi merupakan komponen utama Perjalanan Wisata, sehingga berdampak langsung pada belanja wisata. Pertumbuhan sektor pariwisata tidak lepas dari peran sektor transportasi udara sebagai pembuka akses dan konektifitas antar wilayah. Peningkatan kapasitas infrastruktur bandara melalui pengembangan bandara eksisting dan pembangunan bandara baru serta penetapan penggunaan bandara internasional dilakukan guna mendukung tercapainya target 20 juta wisatawan mancanegara dan 275 juta pergerakan wisatawan nusantara pada 2019,” ujar Agus lagi.

Sektor Pariwisata sendiri merupakan salah satu sektor yang berkontribusi besar terhadap PDB yaitu 9% atau setara dengan Rp.946,09 Trilyun di tahun 2014 dan ditargetkan 15% di tahun 2019. (IMN)

REKOMENDASI