Arogansi

Oleh : Heru Legowo

Pemerhati Penerbangan

Berada dalam kehidupan di dunia yang penuh dengan pilihan, tantangan dan godaan, sungguh tidak mudah. Walaupun begitu manusia seakan ingin tetap berada di dunia. Ingin panjang umur agar menikmati dunia lebih lama. Sering mendengar satire yang berupa guyonan : „Semua orang ingin masuk surga, tetapi jika disuruh duluan enggak mau” Jawabannya biasanya terdengar lucu juga : “Monggo kalau mau duluan, silahkan”. Dunia memang begitu menarik dan menggairahkan, sehingga manusia berusaha dan berlomba menikmatinya sampai batas maksimal. Harta, Takhta, Wanita dan Cinta begitu kata orang tentang dunia.

Allah Swt sudah mengatakannya QS (3:14) : “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan dunia dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik”.

Itu semua begitu menggoda. Manusia pun larut mengejarnya sampai seringkali lupa diri. Walaupun mereka juga mendengar nasehat para sesepuh : “Jangan mati-matian mengejar sesuatu, yang tidak akan dibawa mati!”. Nasehat cerdas ini, ternyata lebih banyak diabaikan.

Memasuki tahun politik, fenomena itu mewujud-nyata hampir di semua kegiatan. Media sosial dan televisi menjadi panggung tempat kita dapat menonton dan menyaksikan bagaimana orang mengejar ambisinya. Calon-calon pejabat tengah mempersiapkan diri. Segala macam upaya dan cara ditempuh untuk memenangkan suara terbanyak. Mereka memberi janji dan harapan kepada para pemilihnya. Suhu politik menghangat.

Dari pengalaman yang lalu, sebentar lagi bakal muncul pertunjukkan untuk berebut menyebut diri yang terbaik dan paling pantas menjadi orang tertinggi di wilayahnya. Dalam usaha untuk terpilih, mesti menyingkirkan para rival dan pesaingnya. Lalu masing-masing meng-claim dirinya lebih baik dari yang lain.
Menyimak fenomena itu, Allah Swt sudah memperingatkan dengan jelas QS (7:12): (Allah) berfirman,

“Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhMu. (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”

Para calon pemimpin itu seringkali tergelincir. Lalu tanpa sadar kemudian melakukan seperti yang digambarkan pada ayat tersebut. Dia meng-claim dirinya lebih baik, daripada yang lain. Dan tidak mau diperintah oleh mereka yang dianggap di bawah kelasnya. Astaghfirullah …

INTROSPEKSI

Marilah kita lupakan sejenak fenomena yang akan terjadi dalam waktu dekat ini. Yang penting mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmah dari pertunjukkan yang bakal memenuhi pemberitaan di media sosial dan televisi ini. Pada kenyataannya memang syaitan selalu berusaha menyesatkan kita setiap saat, pada setiap detik ketika ada kesempatan.

Syaitan menggoda dari segala arah, QS (7:16) : (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-MU yang lurus”

Bertahan dari serangan syaitan yang sudah diberi ijin Allah Swt untuk melakukan itu, sungguh sangat berat. Dari yang sangat kasar untuk mengajak melakukan sesuatu yang munkar dan menyalahi perintah dan ketentuan Allah, sampai dengan yang halus! Yang halus ini sungguh sangat amat berbahaya sekali, sebab yang tahu hanya si pelaku itu sendiri. Orang lain tidak tahu apa yang terbetik di dalam hati seseorang.

Model pengaruh syaitan yang halus ini sering menghinggapi pemimpin, cendekiawan dan juga para alim. Pemimpin dan orang-orang pintar mengagungkan kepintarannya. Mendesak orang lain, menguasai jalan pikirannya dan memasukkan ide dan buah pikirannya untuk diikuti. Dari hal tersebut berkembanglah anggapan dan arogansi tersembunyi, bahwa dirinya yang paling baik.

Demikian juga orang alim juga mirip. Pengetahuan mendalam tentang Al-Quran dan kefasihannya membaca dengan tajwid sempurna mengantar-kan dia menjadi seorang alim. Syaitan dengan halus membisikkan sang alim bahwa dialah yang terbaik. Arogansi pun menyelinap dengan halus menyentuh hatinya. Sang alim lalu mengiyakan bisikan syaitan.

Dan menjadi merasa lebih baik dari yang lain. Kita dapat menyaksikan bagaimana para alim beradu fatwa, untuk men-justifikasi kebenaran masing-masing. Sungguh amat memprihatinkan melihat para alim itu beradu pendapat dan berusaha meyakinkan bahwa masing-masing benar dan menyalahkan yang lain.

Syaitan berhasil menjalankan misinya dan sekarang mereka tertawa-tawa di belakangnya. Astaghfirullah …
Wallahu’alam

Share :
You might also like