Momentum Kebangkitan Industri Penerbangan Nasional

Oleh : Marco Umbas

Divisional Head of IARC, Pengamat Penerbangan

Industri penerbangan nasional  telah mendapatkan bantuan oksigen dengan inisiatif Angkasa Pura 1 untuk memberikan insentif bagi maskapai penerbangan yang beroperasi di Indonesia (AP 1 Beri Insentif ke Maskapai, Kompas.com – 21/02/2018). Dengan demikian diharapkan maskapai penerbangan dapat beroperasi dengan lebih efisien khususnya untuk meningkatkan utilisasi pesawatnya dan pada giliran menurunkan cost perunit

Meskipun harus diakui bahwa biaya operasi penerbangan bukan merupakan biaya utama dalam struktur biaya maskapai penerbangan namun akan membantu maskapai  untuk mengelola biaya keseluruhan dan  pada gilirannya meningkatkan profitability maskapai penerbangan

Kenyataannya bahwa biaya fuel mempunyai  proporsi yang paling tinggi dari struktur biaya maskapai penerbangan.  Namun pengelolaan biaya fuel yang baik  ternyata  belum berhasil mengangkat  kinerja Indonesia Airasia (IAA) menjadi lebih baik  (AirAsia’s Cheap Date, Low airport and traffic charges can’t last forever. ‎February‎ ‎27‎, ‎2018‎ ‎ https://www.bloomberg.com/gadfly/articles/2018-02-27/airasia dan Detik Finance Kamis 31 Aug 2017, Ada Pemegang Saham Baru, Indonesia AirAsia Masih Rugi )

Bahkan Lion Air group sebagai market leader di pasar domestic telah merugi 2 tahun berturut (Daya Beli Lesu, Kerugian Lion Air Group Membengkak pada 2017 , CNN Indonesia | Selasa, 06/02/2018 )

Momentum Perubahan

Dengan insentif yang diberikan oleh AP 1 dan diharapkan dari  pihak yang lain, seyogianya memberikan momentum  positif untuk  meningkatkan kinerja  maskapai penerbangan. Mengingat trend kelesuan bisnis diprediksi akan terus berlanjut maka seyogianya maskapai  penerbangan  berbenah dengan restrukturisasi ulang  bisnis maskapai penerbangan secara keseluruhan.

Kenyataan bahwa  pengelolaan biaya fuel yang  baik, tidaklah cukup! Diperlukan penanganan manajemen secara keseluruhan agar maskapai penerbangan dapat lebih survive dalam menghadapi perubahan bisnis penerbangan

Dalam konteks ini  yang diperlukan adalah  New leadership  dan New business  Strategy agar dapat keluar sebagai  pemenang   didalam peta persaingan yang berubah.  Pendekatan ‘helicopter view’  akan memberikan  peta persaingan  baru sekaligus  memberikan pencerahan kepada manajemen maskapai penerbangan agar dapat mengambil langkah jitu, to win the war not only the battle

Seperti awal berdirinya Lion Air saat dipimpin oleh Rusdi Kirana dengan tegas menentukan target market  adalah menengah kebawah dimana membutuhkan  pelayanan minimal  dan yang penting selamat sampai ke tujuan serta kemampuan komunikasi internal yang handal.  Meskipun dengan brand image yang relatif kurang baik namun tetap merajai langit Indonesia

Airasia dibawah Toni Fernandes  yang mentargetkan kalangan menengah di Malaysia dengan konsep LCC mampu terus profitable sehingga  menjadi LCC yang  terbesar di  Asia Tenggara.

Kerugian yang diderita oleh Lion Group, GA Group dan IAA merupakan signal bahwa bisnis model dan strategi  yang diterapkan  sekarang sudah obsolete sehingga harus dicari bisnis model baru  dan strategi baru yang lebih mampu mengantisipasi trend perubahan bisnis yang ada.

Labih jauh marketing strategi yang diterapkan oleh LCC seperti  Lion, Citilink, Sriwijaya dan IAA dengan  mengandalkan harga murah dan agresivitas promosi serta open distrbusi (penjualan OTA)  tidaklah cukup!  Terbukti strategi ini telah membuahkan kerugian, sehingga  diperlukan New Marketing Strategi agar dapat meningkatkan Load Factor dan  pendapatan  pada akhirnya keuntungan.

New Business Model

Ternyata bisnis model penerbangan dengan seluruh anak usahanya telah membebani maskapai penerbangan sebagai core business  sehingga  terus merugi dari pada mendukung keuntungan maskapai penerbangan.

Kondisi telah disadari oleh Airasia sehingga telah menjual non core business agar lebih focus di bisnis  inti  maskapai penerbangan (Nikkei Asian Review, AirAsia Plans To Sell Other Non-Core Assets After Aircraft Leasing Unit Sale  March 1, 2018). Langkah ini telah memulihkan kepercayaan capital market sehingga saham airasia meroket  di bursa saham KL(Forbes Asia,Mar 1, 2017, Fortunes Of AirAsia’s Bosses Soar On New Share Issue)

Belajar dari keberhasilan Soutwest Airlines yang terus fokus pada Core business dan terus meraih keuntungan seyogianya  maskapai penerbangan dapat mengacu langkah Airasia yang kembali ke bisnis inti. Maksudnya agar lebih fokus untuk mengembangkan airlines bisnis sehingga terus dapat meningkatkan kinerja bisnis airlines ditengah persaingan global.

Namun acuan bisnis model lain adalah ANA Group di Jepang dimana mempunyai struktur konglamerasi dengan airlines  menjadi bisnis inti. Kenyataannya ANA Group terus mampu mencetak keuntungan ditengah kampanye pemerintah Jepang untuk meningkatkan kedatangan turis mancanegara (ANA and JAL see profits rise in first half on business demand, the japan times, November 2 2017)

Keputusan akan pilihan bisnis model tentunya tergantung kondisi ekonomi makro, kondisi bisnis penerbangan saat ini dan kondisi kesehatan perusahaan serta vision pemegang saham/direksi maskapai penerbangan.

Trend Milenial

Perubahan market needs and wants dalam era milenial seyogianya ditanggapi maskapai penerbangan secara progresif dengan melakukan riset-riset market profile secara berkesinambungan. Agar setiap perubahan preferensi pasar dapat segera ditanggapi dan diberikan solusi yang komprehensif.

Mengingat marketing strategi yang diterapkan saat ini telah membuahkan kerugian sehingga diperlukan strategi baru didalam peta persaingan baru dan preferensi pasar baru  khususnya dengan adanya On line Travel Agent. Airlines sebagai principle seyogianya dapat meningkatkan kapitalisasi  pasar dengan  mengontrol seat capacity melalui program-ptogram yang dapat memenuhi kebutuhan pasar.

Hal demikian tentunya harus didukung oleh IT yang canggih sehingga dapat menawarkan Unique Selling Proposition dalam   memuaskan kebutuhan market, yang menginginkan keamanan, on time performance, kemudahan dan kenyamanan didalam melakukan penerbangan.

Tentunya harus disadari bahwa setiap market mempunyai preferensi sendiri. Profile market low end di Jakarta  akan berbeda dengan profile  di Manado, Sulawesi Utara. Atau profile middle segment Surabaya, Jawa Timur tentunya berbeda dengan profile  di Jayapura, Papua

Akibatnya masing-masing profile market menurut geo/demographi, seyogianya mempunyai marketing strategi sendiri-sendiri  mengingat profile market yang berbeda-beda. Atau dengan perkataan lain  seyogianya  tidak dapat menggeneralisasi semua market segment dangan menawarkan satu produk dan bauran promosi yang sama.

Dengan  ASEAN limited open sky policy seyogianya penerbangan nasional dapat mengantisipasinya khususnya  kebijakan  pembentukan lokal airlines pada setiap negara dapat segera dievaluasi sehingga  persaingan antara Malindo-Batik-Lion pada rute Jakarta-Kuala Lumpur VV dapat dihindari.

Meskipun sudah ada dukungan dari AP 1 namun kebangkitan  penerbangan nasional tetap bergantung kepada maskapai penerbangan  untuk mengambil kesempatan didalam perubahan trend bisnis dan preferensi penumpang. Semoga dengan  Inovasi  bisnis model dan new marketing strategy, maskapai penerbangan nasional dapat  terus  berkiprah didalam negeri maupun Internasional. (SS)

 

REKOMENDASI