Calon Pilot yang Keranjingan Olahraga Ekstrem

Sekilas, penampilan Andhina Ayuningtyas tampak seperti perempuan muda yang baru saja tamat SMA dan baru saja menjadi kadet di sebuah sekolah pilot. Memang benar, dara cantik berkulit putih ini memang tengah menjalani pendidikan di sekolah pilot. Tapi itu bukan berarti dia baru saja tamat SMA.

Sebab, siapa sangka, pemilik tinggi badan 160 cm dan berat 52 kg ini ternyata sebelumnya pernah bekerja di beberapa perusahaan, mulai dari bank hingga perusahaan oil dan gas. Tak mengherankan bila ia mampu membiayai sendiri pendidikan sekolah pilotnya dengan uang hasil kerja di beberapa perusahaan tadi, meskipun juga harus dengan menjual mobil kesayangannya.

Dhina, nama panggilannya, mulai menapakkan kaki di Deraya Flying School pada Januari 2016. Ia rela resign dari pekerjaannya saat itu demi mewujudkan keinginan belajar menyetir pesawat terbang. Dan di Deraya Flying School, awalnya Dhina merasa risih saat harus beradaptasi dengan lingkungan dan tata tertib yang ada.

“Dulu kan saya juga pernah jadi sekretaris, setiap hari pakai high heels. Tiap dua hari sekali ke salon untuk cuci blow, kuku saya selalu di-nail polish, dan setiap hari nggak bisa lepas dari lipstick. Tapi pas masuk sekolah ini, saya memakai flat shoes, nggak sering ke salon lagi, nggak dandan, nggak lipstick-an juga,” ungkapnya.

Mungkin juga banyak yang tidak menyangka bila ternyata Dhina penggiat olahraga cross country mountain bike, bahkan pernah menjadi juara kedua di ajang Balap Sepeda Summarecon MTB XC Race di tahun 2015. “Kalau sedang race, saya selalu memberikan yang terbaik. Berakrobat, jatuh jungkir balik dan luka-luka, saya lakukan dengan ikhlas,” tuturnya.

Bukan itu saja, calon penerbang ini ternyata juga menggemari trail run (gabungan lari dan hiking). Dan jangan kaget, Dhina pernah menjadi juara 2 di Tahura Trail Run Bandung 17k (2015), juara 2 di Mt. Salak and Halimun Race Run 18k (2015), dan juara 3 di Sentul Trail Run Ultra Marathon 30k (2015). “Semuanya awalnya iseng-iseng, tapi ternyata bisa juara. Harapan ke depan nanti saya bisa jadi juara pertama. Amiiiiin!” katanya.

Tak puas dengan dua olahraga “keras” tadi, Dhina juga keranjingan naik gunung. Puncak Gunung Gede, Pangrango, Salak, Bromo, Semeru, Rinjani, bahkan Tambora pernah dia sambangi. Dan akibat hobi nanjak gunung, Dhina mengaku dulu kuku-kuku jempol kakinya lepas saat selesai mendaki Gunung Rinjani.

Yang lebih seru lagi, dulu ia juga pernah hampir “hilang“ saat turun dari puncak Gunung Gede. Dhina bercerita, waktu itu hujan lebat, ia dan teman-temannya tidak membawa jas hujan ataupun senter karena mereka mendaki dengan cara tektok (tidak menginap ataupun mendirikan tenda). Mereka pun tersasar. Celakanya lagi, lantaran hujan deras, jalur turun yang harus dilalui dipenuhi air, sehingga mereka kepayahan menuruni jalur tersebut.

“Saat hari mulai gelap, saya menggigil kedinginan, tidak ada makanan, tenaga juga sudah habis terkuras. Saya sudah membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk. Tapi saya nggak mau hidup saya berakhir di situ. Dan Tuhan Maha Baik, saya diberi keberuntungan menemukan jalan keluar,” kenang Dhina, yang juga ingin menekuni olahraga triathlon dan dalam waktu dekat berencana melakukan sky diving. (BD)

Andhina Ayuningtyas

Siswi Deraya Flying School

Share :
You might also like