Si Mungil Calon Penerbang A320

Menjadi pilot adalah cita-cita Ilkka Marchiana Utari sejak ia masih di kelas III SMP. Hal itu bermula saat seorang guru piano memperkenalkan sebuah game flight simulator kepada Ilkka. Dari sana akhirnya Ilkka mendaftar ke SMK Penerbangan Angkasa di daerah Bogor. Tak tanggung-tanggung, jurusan Kelistrikan Pesawat Udara yang ia pilih saat itu.

sumber foto : dok pribadi

Saat sekolah di SMK Penerbangan, banyak orang yang meragukan dan mempertanyakan kemampuan Ilkka bila suatu hari nanti menjadi pilot, terutama karena melihat sosoknya yang mungil. “Tapi saya tidak peduli. Sebab, sekarang kan banyak pilot yang fisiknya tidak tinggi. Apalagi pesawat zaman sekarang kursinya sudah bisa dimajukan dan dimundurkan,” tuturnya kepada Airmagz.

Di tahun 2011, dengan dukungan sponsor dari pihak sekolah, gadis kelahiran 18 Maret 1993 ini lolos masuk ke Deraya Flying School. Lalu karena suatu alasan, dari sana Ilkka pindah ke Proflight Pilot School di Cirebon, tempat di mana ia pertama kali menjalani penerbangan solo. Uniknya, Ilkka ditawari terbang solo perdana ketika ia baru satu pekan di sekolah pilot itu.

“Waktu saya duduk santai di mess malam-malam, instruktur terbang saya bilang ‘besok check solo ya! Saat itu perasaan saya bercampur aduk antara senang, kaget, dan takut. Apalagi saya sering dengar cerita bahwa lapangan terbang di sana itu angker. Di sekitarnya ada kuburan. Landasannya juga pendek, anginnya sering kencang dan banyak obstacle,” ungkap pemilik tinggi badan 156 cm dan berat 46 kg ini.

Tapi semua hal menakutkan tadi mampu ditepis Ilkka. Penerbangan solonya berlangsung mulus. Usai menuntaskan “terbang wajib” tersebut, Ilkka langsung diberondong ucapan kata “selamat” dari para instruktur terbang, teknisi, petugas ATC, dana siswa lainnya. “Tapi setelah itu saya langsung dikerjain. Saya disuruh menghadap ke menara ATC dan teriak-teriak sambil melompat-lompat kayak anak kecil sampai suara hampir habis. Bahkan saya juga disuruh mencium landing gear dan fin propeller,” tuturnya mengenang.

Lulus dari Proflight Pilot School di tahun 2013, Ilkka langsung mengirim lamaran ke beberapa maskapai, mulai dari Garuda Indonesia, AirAsia, Citilink, Trigana Air Service, Aviastar, Nusantara Air Charter, hingga Asconusa. Tapi si penyayang kucing ini belum beruntung.

Di tahun 2014, Ilkka sempat mengikuti proses rekruitment di Nusantara Air Charter dan dinyatakan lulus ujian Type Rating ground pesawat ATR. Di perusahaan itu, Ilkka diproyeksikan menjadi penerbang ATR 72 dengan masa kontrak dua tahun.

Tapi apa lacur, sebelum masa kontrak tadi habis, Ilkka memilih resign lantaran keinginannya menjadi penerbang tidak bisa dipenuhi pihak maskapai. “Saya rela keluar dari zona nyaman demi mendapatkan pengalaman terbang di tempat lain, walaupun harus memulai prosesnya lagi dari awal,” ungkapnya.

Setelah satu setengah tahun menganggur dan empat tahun tidak terbang, sepertinya “Dewi Fortuna” mulai mendekati Ilkka. Di pengujung tahun 2017 lalu, ia mendapat panggilan dari Indonesia AirAsia untuk menjalani serangkaian tes, mulai dari TOEIC, papi kostick test, written test, aptitude test, group assesment test, interview, psikotest, hingga simulator.

Dan kini Ilkka memasuki babak baru lagi. Ia diberi kepercayaan menjalani training type rating untuk pesawat Airbus A320 di Flybest Training Center dari AirAsia. Dara manis yang dulu pernah menekuni taekwondo ini pun berjanji akan memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik-baiknya demi menjadi pilot profesional. (BD)

Ilkka Marchiana Utari

Siswi Program Training Airbus A320 di Flybest Training Center

Share :
You might also like