Sepenggal Kenangan di Bangladesh

Pria kelahiran Bandung bernama lengkap Taufik Nugraha, saat ini tercatat sebagai pramugara Wamos Air. Padahal, Opik, sapaan akrabnya, merupakan jebolan dari Fakultas Hukum di salah satu Universitas di Bandung. Tapi ia lebih memilih mendaftar sebagai cabin crew di maskapai yang sebelum­nya bernama Pullmantur Air ini. Bersama Wamos Air, Opik langganan terbang ke negara-negara berpenduduk mayoritas muslim untuk mengangkut jemaah haji dan umroh seperti India, Bangladesh, Pakistan, Maroko, Algeria, Mesir dan lain-lain.

Ketika banyak cabin crew yang terobsesi terbang ke negara dengan destinasi yang terkenal, ia justru lebih menyenangi traveling ke negara yang jarang dikunjungi wisatawan. “Jika ditanya kemana tujuan berlibur? Menurut saya setiap destinasi baru yang saya datangi pasti punya keistimewaan tersendiri. Tapi yang paling anti mainstream, saya pernah ke Bangladesh, ke negara yang hampir jarang didatangi orang-orang,” ujarnya.

Bagi Opik, Bangladesh memberi kenangan yang sulit dilupakan. Menurutnya, negara ini menawarkan suasana yang klasik, seperti kembali ke masa tahun 70-an saat melihat bandaranya, mobilnya, bangunannya da penduduknya yang mayoritas kaum perempuan masih mengenakan kain sari. “Ngeliatnya gimana crowded-nya negara ini, yang sedikit-dikit klakson, jadi ya kesannya bising banget dijalanan.” ujar pria 31 tahun ini.

Opik mencoba berbagi pengalaman selama petualangannya di Bangladesh. Barangkali tidak ada yang menyangka jika negara ini tercatat sebagai produsen untuk pakaian branded seperti ZARA, H&M dan TOPMAN yang hasilnya diekspor ke seluruh dunia. “Di sini ternyata terdapat pasar yang khusus menjual barang-barang reject dengan harga minim. Pulang-pulang dari sana bisa bikin pokoknya butik,” guraunynya. (MAH)

TAUFIK NUGRAHA

Pramugara Wamos Air Saudi Arabia

Share :
You might also like