Mahasiswa ITS Punya Solusi Untuk Urusan Bagasi Penumpang Pesawat

Jakarta, airmagz.com – Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng merupakan terminal untuk destinasi internasional, sehingga terminal tersebut sangat padat. Kepadatan ini akan menjadi masalah bagi sistem bagasi. Sistem bagasi ini adalah sistem agar bagasi bisa cepat sampai pada penumpang saat kedatangan di bandara.

Dilansir dari laman ITS, Rabu (11/4/2018), hal tersebut disampaikan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Farras Rahardini Azizah. Ia bersama ketiga rekannya dari Departemen Teknik Industri, yaitu Mayangkautserina, Ahmad Avisiena, dan Fachreza Reynaldi membuat karya inovatif yang berangkat dari keresahan sistem pesawat tadi.

Mereka memberikan inovasi untuk mempercepat penurunan bagasi saat penumpang berada di bandara dalam keadaan penerbangan padat. Menurut Farras, salah satu masalah yang masih dihadapi pengelola bandara saat ini adalah mencari cara bagaimana agar para penumpang bisa lebih cepat mengambil barang bawaan mereka tanpa harus menunggu lama.

Kemudian mahasiswa angkatan 2014 ini juga menambahkan, bahwa untuk peraturan di Indonesia sendiri regulasi bagage handling system diatur dengan ketetapan waktu tunggu 25-40 menit. Hal ini sangat berbeda dengan Bandara Changi Singapura yang juga merupakan salah satu bandara terbaik di dunia. Di bandara Changi memerlukan waktu tunggu hanya tujuh menit saja.

Farras mahasiswa yang menjadi Top 5 di perlombaan Industtial Engineering (IE) Universitas Indonesia melanjutkan, bahwa banyak terdapat perbedaan antara Bandara Soekarno Hatta dan Changi.

“Perbedaan yang mencolok adalah konveyor di Bandara Changi lebih cepat, standar kerja lebih tinggi, dan teknologi lebih canggih,” ujar asisten laboratorium Sistem Manufaktur ini.

Pada setiap pintu penerimaan bagasi di Bandara Sokarno Hatta Terminal 3 hanya terdapat dua karyawan. Farras mengatakan, hal ini ditakutkann saat pesawat arrival, karyawan pada salah satu pintu konveyor akan kewalahan ketika memindahkan barang bawaan dari dolly (kereta angkut di bandara) ke konveyor dan ketika sedang tidak ramai mereka tidak melakukan apa-apa.

Solusi yang ditawarkan Farras dan timnya adalah manajemen penempatan dan alokasi waktu oleh pegawai bagian transfer bagasi ke konveyor. “Ketika salah satu pintu konveyor bagasi sepi dan konveyor lain sedang ramai, karyawan pada konveyor sepi tersebut langsung dipindah ke bagian yang ramai untuk membantu,” lanjut Farras.

Terakhir ia manambahkan, dengan cara ini maka dapat diminimalisasi waktu tunggu pada sebuah konveyor dengan akibat terlalu lama memindahkannya.

“Cara ini efektif apabila tidak ingin mengganti teknologi yang ada, karena dengan menambah karyawan dapat mempercepat terselesaikannya pemindahan barang,” cetus Farras.

Ia juga mengingatkan, bahwa bagage handling system penting karena berkaitan dengan kepuasan konsumen. “Semakin cepat barang sampai kepada penumpang, maka semakin sedikit waktu tunggu penumpang pesawat di bandara dan tentu ini akan memenuhi kepuasan pelanggan,” tutup Farras (IMN/Okezone)

REKOMENDASI