Indonesia Mulai Berkibar 2030

Oleh : Heru Legowo

Pemerhati Penerbangan

Semua teori, guru-guru, dan motivator mengajarkan untuk berfikir positif tentang sesuatu. Jangan pernah berfikir negatif, karena jika berfikir jelek itulah nanti yang akan terjadi. Jadi jangan pernah berfikir jelek, jika tidak ingin itu akan menjadi suatu kenyataan. You are what you think! Nasehat yang berharga itu menjadi sarana memotivasi siapa saja yang ingin maju dan berhasil. Tetapi nasehat itu bisa hilang maknanya dan bahkan tidak memiliki arti apa pun, jika ada ambisi untuk mendapatkan sesuatu. Akhir-akhir ini kita sedang menyaksikan itu.

Ada sebuah hiruk-pikuk politik, ketika Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Indonesia akan bubar tahun 2030! Berarti tinggal 12 tahun lagi. Beliau merujuk buku Ghost Fleet yang ditulis oleh P. W. Singer bersama dengan August Pole. Singer (44) adalah seorang professor menyandang gelar PhD dari Harvard Business School. Dia pernah menjadi koordinator Defense Policy Task Force untuk Barack Obama, ketika kampanye pada tahun 2008.

Ghost Fleet menceritakan tentang perang dunia ke tiga yang melibatkan China, Rusia dan Amerika. Buku ini hanya fiksi tetapi menjadi kajian Pentagon. Barangkali sebagai bahan studi bagaimana Perang Dunia dimulai. Buku itu menggambarkan kemajuan teknologi yang begitu pesat. China mampu memasukkan microchip ke dalam spare part yang digunakan Amerika untuk peralatan perangnya yang shopisticated. Pada saat yang tepat China mengaktifkan microchip tsb, sehingga semua peralatan perang Amerika lumpuh. Kemudian China melakukan penyerangan ke Amerika, melalui Hawaii.

Menurut buku itu pada waktu itu Indonesia sudah pecah, dipicu perang yang dimulai di Timor Leste. Juga perang terjadi di Timur Tengah karena melonjaknya harga minyak, dan meledaknya bom di Durban. Itu semua hanya kisah fiksi. Hanya saja yang berkhayal adalah professor yang tahu mengenai dunia internasional dan juga faham kepentingan negara-negara besar. Jadi plot ceritanya menjadi seakan-akan nyata.

Kembali ke Indonesia. Sebetulnya yang namanya memprediksi, mengiraira atau meramalkan wajar-wajar sajalah. Gitu aja kok repot? Kalau sebagai peneliti, peramal atau pengamat sangat bisa dimengerti kalau ngomong Indonesia akan hancur pada tahun 2030. Namanya juga analisis! So what?

Lain lagi masalahnya, jika masih berambisi untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia. Statemen itu jadi terasa aneh sekali. Lha wong ingin menjadi orang nomor satu dan ingin memajukan bangsa dan negara Indonesia, lha kok malah ikut meramalkan dan mewacanakan suatu kehancuran. Berarti enggak yakin bahwa negara ini bisa dipertahankan? Terus ngapain mau menjadi Presiden, kalau tidak yakin dapat membangun negara menjadi hebat? Bagaimana mau meyakinkan orang lain, untuk membangun negara dan bangsa? Kalau diri sendiri saja tidak yakin dan meragukan kemungkinannya? Tetapi Jenderal Gatot Nurmantyo mantan Panglima TNI juga sependapat dengan statemen ini. Beliau malah mengatakan kehancuran itu bisa lebih cepat lagi. Piye to iki?

Apa tidak sebaiknya berganti posisi saja? Menjadi pengamat dan peramal masa depan, sehingga statemen-nya (barangkali) bisa difahami dan dimengerti. Tapi kalau masih ingin menjadi Presiden, statemen itu sungguh terasa sangat naif dan lucu. Atau justru ini dilakukan dengan sengaja? Mulai menebarkan keragu-raguan dan ketakutan. Setelah itu, lalu memberi jaminan kalau jadi Presiden, dia akan mampu untuk menjaga Indonesia dari kehancuran? Barangkali begitu, ya? Serem juga kalau begitu deh. Mencari dukungan dan popularitas dengan menyebarkan ketidak-pastian dan ketakutan. Astaghfirullah …

Walaupun begitu, saya tetap optimis Indonesia masih akan terus berkibar dan menunjukkan eksistensinya. Jika ada kekurangan disana-sini, saya kira itu hal yang wajar saja. Sungguh tidak mudah mengendalikan negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau, puluhan etnis dengan berbagai keragaman perilaku masyarakat yang beraneka macam. Saya yakin Indonesia suatu saat akan mencapai situasi sebagai negeri yang subur, makmur, adil dan aman. Negeri yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Allah SWT memberikan penjelasan mengenai situasi suatu negeri, dalam Al-Qur’an QS An-Nahl (16:112)

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)- nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”.

Dan kita semua berusaha agar dapat mendapatkan seperti yang diberikan Allah kepada Kaum Saba’. Allah SWT befirman dalam QS. Saba’ (34:15) :

“Sungguh bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) ditempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun“.

Ada 4 kriteria untuk mencapai kondisi tersebut. Dan beberapa kriteria dan syarat-syaratnya perlahan tetapi pasti akan terpenuhi diantaranya :

1. Ulama yang berilmu, menjadi tempat bertanya dan terus menerus belajar memperdalam ilmu agama.
2. Umara atau pemimpin yang adil dan tidak membeda-bedakan rakyatnya.
3. Orang kaya dan dermawan yang suka bersedekah dan membagikan sebagian hartanya kepada mereka yang membutuhkan.
4. Orang fakir yang selalu berdoa untuk para ulama, umara dan orang kaya. Doa golongan orang fakir lebih makbul dan diijabah Allah SWT.

Saya tetap optimis ke empat golongan itu masih tetap ada dan tetap berkomitmen untuk memperbaiki bangsa ini dengan sekuat tenaga dan usaha masing-masing. Mereka dan kita pasti tidak membiarkan Indonesa bubar.

Marilah kita bersama-sama berusaha dan mendukung mereka disertai doa memohon ridha Allah SWT, agar suatu saat Indonesia akan menjadi bangsa besar, seperti cita-cita para pendahulu dan pendiri negara ini. Dalam pewayangan disebut negeri yang panjang-punjung, pasir-wukir gemahripah, loh-jinawi, tata-tentrem, karta-raharja. Sedangkan dalam Al Qur’an disebut Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Amin Ya Rabbal Alamin.

Merdekaaa …

Share :
You might also like