Waspada Pancaroba dan Musim Kemarau Pada Operasional Penerbangan

Jakarta, airmagz.com – Keamanan penerbangan adalah satu hal yang sangat penting, seperti halnya keselamatan penerbangan. Karena keamanan penerbangan merupakan langkah awal untuk menjaga keselamatan penerbangan. Oleh karena itu keamanan penerbangan harus dijaga oleh semua pihak yang berkepentingan di sektor penerbangan, bukan hanya oleh pengelola bandar udara dengan tim aviation security (avsec)-nya.

Namun dengan perkembangan teknologi, ancaman terhadap keamanan penerbangan juga semakin canggih. Jenis-jenis ancaman baru terhadap keamanan penerbangan sipil itu bisa datang dari mana saja, baik dalam maupun luar negeri. Untuk menangani berbagai ancaman tersebut membutuhkan usaha-usaha baru secara bersama, termasuk di dalamnya membuat kebijakan kerjasama dengan berbagai pihak baik di dalam maupun luar negeri.

Dalam rangka menangani ancaman keamanan penerbangan secara lebih baik tersebut, Ditjen Perhubungan Udara hari ini di Yogyakarta melaksanakan Focus Group Discussion Ratifikasi Konvensi Beijing 2010. Acara yang bertemakan Implementasi Konvensi Beijing 2010 dan Manfaatnya Bagi Indonesia tersebut bertujuan untuk memberikan wawasan dan pandangan yang lebih komprehensif terkait dengan konvensi, mengingat luasnya geografis negara Indonesia sehingga diperlukan adanya jaminan keamanan dan keselamatan bagi pengguna jasa penerbangan di Indonesia.

“Focus Group Discussion ini dipandang perlu guna memperoleh kesamaan persepsi dalam memutuskan langkah-langkah yang akan diperlukan dalam rangka finalisasi proses ratifikasi. Dengan demikian diharapkan akan menghasilkan output berupa dapat diratifikasinya Konvensi Beijing 2010 oleh Indonesia sebagai bukti komitmen dan kepatuhan Indonesia terhadap seluruh standar dan ketentuan yang diterbitkan oleh ICAO, ” tutur Kasubdit Standarisasi, Kerjasama dan Program Keamanan Penerbangan Direktorat Keamanan Penerbangan Dwi Afriyanto dalam sambutannya yang mewakili Sesditjen Perhubungan Udara Pramintohadi Soekarno.

Menurut Dwi, implementasi ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Konvensi Beijing 2010 merupakan kebutuhan yang penting untuk memperkuat kerangka hukum untuk kerjasama internasional dalam mencegah dan menekan tindakan melawan hukum terhadap penerbangan sipil.

“Sebagai negara anggota ICAO, Indonesia memiliki beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai bukti komitmen dan kepatuhan Indonesia terhadap seluruh ketentuan, standar dan prosedur ICAO, termasuk terhadap seluruh perjanjian Internasional yang telah ditetapkan oleh ICAO,” tambah Dwi.

Acara FGD ini dihadiri oleh 53 undangan yang terdiri dari para akademisi di bidang Penerbangan Sipil, satuan Gegana Brimob Polri, operator penerbangan, organisasi, instansi-instansi, stakeholder, dan unit-unit kerja Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Menyusul dari rilis yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait peralihan musim dari penghujan menuju ke musim kemarau pada bulan April- Mei saat ini, Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso meminta para stakeholder penerbangan untuk waspada. Hal ini mengingat diprediksi akan ada beberapa kejadian yang rentan mempengaruhi operasional penerbangan seperti hujan es, puting beliung dan kebakaran hutan dan lahan.

“Pada musim kemarau, keadaan cuaca memang tidak akan se-ekstrem pada musim penghujan. Namun seperti diprediksi oleh BMKG, pada masa peralihan dan musim kemarau nanti masih ada gejala alam yang bisa mengganggu penerbangan. Seperti misalnya pada musim transisi, ada potensi dan peluang terjadi cuaca ekstrem seperti hujan es dan puting beliung. Sedangkan pada musim kemarau bisa terjadi kebakaran lahan dan hutan yang dampaknya juga bisa mengganggu penerbangan,” ujarnya.

Terkait hal tersebut, Agus meminta para stakeholder penerbangan baik regulator seperti otoritas bandar udara dan operator penerbangan seperti maskapai, pengelola bandara dan AirNav agar selalu waspada dan sigap melakukan tugasnya sesuai prosedur standar operasi yang sudah ditetapkan. Para stakeholder harus selalu berkoordinasi dan bekerjasama dengan baik dan terutama tidak memaksakan untuk terbang jika ternyata keadaan tidak memungkinkan. Seperti misalnya kondisi jarak pandang yang terganggu oleh kabut asap, maka pesawat harus menunggu sampai cuaca cerah sesuai standar operasi yang diperbolehkan.

Sementara itu, Agus juga meminta penumpang untuk sabar jika memang terjadi hal-hal yang mengganggu sehingga penerbangan harus delay atau ditunda karena faktor alam ini.

“Faktor alam tidak bisa kita lawan, namun harus kita akrabi demi kebaikan kita bersama. Untuk itu kami mengharap kerjasamanya kepada semua penumpang untuk menghindari hal-hal negatif yang merugikan semua pihak,” lanjut Agus lagi.

Agus tidak lupa berterimakasih dan memberikan apresiasi positif kepada BMKG yang sudah memberikan prediksi perubahan cuaca dan musim lebih awal sehingga penerbangan nasional bisa lebih waspada.

Sebelumnya, pada 16 April 2018 lalu Kepala BMKG mengeluarkan press rilis terkait perubahan musim penghujan menuju kemarau dan dampak-dampaknya.

Menurut pantauan BMKG dan beberapa lembaga internasional terhadap kondisi Samudera Pasifik dan Samudera Hindia mengindikasikan bahwa hingga awal April 2018 ini kondisi La Nina kategori lemah sudah berakhir menuju kondisi normalnya pada bulan Mei hingga September 2018 nanti. Juga tidak ada indikasi anomali iklim dipole mode yang terjadi di Samudera Hindia bagian barat Sumatera.

Di beberapa wilayah terutama di Indonesia bagian barat, masih terdapat massa udara basah yang cukup lembap (> 65%), terutama di atmosfer lapisan menengah (ketinggian 3000 meter). Kondisi ini dapat mendukung tumbuhnya awan-awan konvektif sehingga hujan sporadis masih berpeluang terjadi di beberapa wilayah di Sumatera bagian Selatan, Jawa bagian Tengah dan Timur, Kalimantan bagian Utara dan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat dan Selatan, serta Maluku bagian Utara.

BMKG juga memprediksi sebagian wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau pada bulan April ini dan musim kemarau penuh pada bulan Mei hingga September. Sebelum masuk kemarau, pada musim transisi, ada potensi dan peluang terjadi cuaca ekstrem seperti hujan es dan puting beliung.

Terkait dengan musim kemarau, BMKG memberikan peringatan kewaspadaan terkait daerah-daerah yang rentan terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Di antaranya di daerah Aceh dan Sumatera Utara bagian timur, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, serta sebagian Papua bagian Selatan. (IMN)

Share :
You might also like