Manajemen Konflik Garuda

Oleh : Marco Umbas

Pemerhati Penerbangan

Ancaman mogok Serikat Pekerja Garuda dan Asosiasi Pilot Garuda terhadap kinerja Manajemen, dengan sejumlah alasan antara lain: terjadi cutting cost sehingga menganggu kegiatan operasional, jumlah direksi terlalu banyak, kelemahan salesmanship, besarnya kerugian perusahaan, penundaan /pembatalan penerbangan yang berakibat kepada On Time Performance (OTP) dan ketidak harmonisan hubungan industrial.

Dipihak lain manajemen menyebutkan bahwa telah terjadi perbaikan kinerja keuangan pada kuartal I tahun 2018 seperti pendapatan operasional sebesar 983 juta dolar AS dengan pertumbuhan sebesar 7,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meruginya keuangan korporasi ini dipengaruhi kenaikan biaya operasional sebesar 2,5 persen menjadi 1,049 miliar dolar AS.
Jumlah passenger carried dapat meningkat sebanyak 8.8 juta atau 5 persen (year on year) meskipun ada travel warning erupsi Gunung Agung oleh sejumlah negara pada awal 2018. Sementara, kargo yang diangkut juga meningkat sebesar 3,2 persen menjadi 111.9 ribu ton. Kinerja OTP mencapai 88,8 persen atau meningkat dibandingkan tahun lalu sebesar 86.5 persen. Tingkat keterisian penumpang (SLF) mencapai 71,4 persen. Serta aircraft utilization meningkat dari 9.19 jam menjadi 9.41 jam.

Berdasarkan statement kedua belah pihak bahwa terdapat interpretasi yang berbeda terhadap kinerja perusahaan. Bahkan angka-angka yang dipaparkan oleh Manajemen Garuda sama sekali tidak diketahui Sekarga dan APG! Artinya tidak terjalin komunikasi yang baik antara Manajemen dan Sekarga /APG belakangan ini.

Sehubungan interpresasi data-data diatas maka pertanyaan besar adalah bagaimana kondisi Garuda saat ini, Crisis, Decline atau Maturity? Dengan menjawab pertanyaan ini, diharapkan dapat memberikan perspektif lebih luas dalam kaitan posisi masing-masing.

Dengan Sigmoin Curve dapat menentukan posisi Garuda seperti kurva diatas. Lebih lanjut masing-masing siklus memerlukan mind set tertentu untuk meyelesaikan permasalahan perusahaan secara holistic.
Perusahaan dalam krisis ditandai dengan perdarahan hebat sehingga kalau terus mengalami pendarahan maka kematian akan mengikutinya.

Dalam konteks perusahaan penerbangan maka kondisi tersebut diatas ditandai dengan banyaknya rute-rute merugi sehingga menguras cash flow perusahaan. Apabila tidak ditangani dengan baik maka kinerja akan terus menurun bahkan denial terhadap kondisi yang ada seperti ketidakpuasan pelanggan/karyawan dll. Apabila dibiarkan terus maka perusahaan akan bangkrut atau menuju kematian.

Setelah melewati masa krisis perusahaan dapat mengadakan turn around dengan program-program pembaharuan sehingga recovered untuk terus meningkatkan kinerja perusahaan.

Lebih lanjut mind set management dalam kondisi krisis dan turn around relative berbeda. Dalam kondisi krisis diperlukan mental kapabilitas tertentu yaitu sense of crisis untuk menyelesaikan kondisi luar biasa dan memerlukan tindakan emergensi.

Sedangkan untuk Growth (Turn Around) Mental capability yaitu Creative Thinking khususnya eksekusi dalam proses manajemen

Indikator Krisis

Krisis ditandai dengan pendarahan yang hebat maksudnya jumlah cash outflow pada hampir semua rute lebih besar dari cash inflow pada rute-rute tersebut.
Dalam kasus Garuda bahwa terdapat cash in flow rute-rute internasional dan domestik tersebut tidak dapat menutupi total operating cost bahkan beberapa rute tidak dapat menutupi direct operating cost sehingga telah menggerogoti cash flow perusahaan.

Pada periode 2017, Garuda telah melakukan cancelation flight yang tinggi akibatnya penurunan OTP yang sangat drastis bahkan kalah dibandingkan dengan Sriwijaya dan Batik (Ini 5 Maskapai Nasional di Indonesia Paling Tepat Waktu di Tahun 2017, Kompas.com – 01/02/20)

Apalagi kalau akan bersaing pada rute-rute internasional dengan airlines dunia dengan tingkat OTP, image dan service berkualitas tinggi seperti Singapore Airlines, Japan Airlines, Cathay Pacific, Emirates.

Harga saham Garuda berada di level 274 merupakan tanda bahwa saham Garuda tidak menarik meskipun sudah ada Direksi baru.(www.duniainvestasi.com/bei/prices/stock/GIAA)

Crisis Management

Langkah emergensi yang seharusnya dilakukan adalah stop the bleeding!! Artinya rute-rute yang tidak dapat menutup direct operating cost dan tidak punya harapan untuk memperoleh keuntungan dalam waktu singkat segera ditutup, seperti penutupan rute Medan-Ujung Pandang.

Turn around Strategy

Setelah melewati masa krisis maka langkah-langkah yang seharusnya dilakukan sebagai berikut:
1. Operation Excellence Program. Meningkatkan OTP dan Service Quality.
2. Financial Restructuring khususnya pengadaan pesawat sehingga mengurangi beban cash flow dan menurunkan total biaya perusahaan.
3. Review Business Model. Menerapkan pola kerjasama dengan pihak ke-3 yang dapat meningkatkan equity perusahaan, khususnya asset yang under capitalized. Dengan equity yang meningkat diharapkan dapat meningkatkan value Saham sehingga menarik capital market untuk membeli saham Garuda
4. Organizational Restructuring. Struktur organisasi yang sederhana berdasarkan value chain tetapi dapat mengakomodasi segment market yang dilayani oleh CRJ dan ATR.
5. New Marketing Strategy. Dimana tetap mentargetkan Segment Middle up dengan Marketing Mix sbb Review Pricing Strategy (New target segment : Weekender), Review Networking Strategy (Sky Team Networking), Review Service Strategy (New Service based on customer contact points), Review Promotional Strategy (Travel fair Intensification, Using unsold capacity for promotion purposes, New Personal selling approach), Review Distribution Strategy (Mobile app ,Web site sales, Pushing Traditional Distribution)
6. New Human Capital Strategy. Career path, Training berjenjang, KPI based compensation.

Sekarga/APG berasumsi bahwa Garuda berada dalam kondisi kritis yang memerlukan langkah yang cepat dan tepat untuk menjaga cash flow perusahaan dan perbaikan beberapa aspek kunci, agar segera terhindar dari kebangkrutan.
Dilain pihak Manajemen mengangap kondisi kritis telah lewat sehingga menerapkan strategi turn around untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
Seharusnya kepentingan Garuda yang lebih besar menjadi prioritas utama, untuk itu komunikasi yang intensif segera dilakukan. Dengan demikian diharapkan terhadap kesepahaman mengenai kondisi perusahaan didalam konteks siklus bisnis sekaligus memberikan solusi yang jitu agar segera keluar dari permasalahan.
Mudah-mudahan Garuda segera terbang lebih tinggi lagi dimasa yang akan datang!

REKOMENDASI