Menyoal Code Share Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air 2018

Oleh : Arista Atmadjati,SE.MM

Direktur AIAC AVIATION, Pemerhati Penerbangan

Sebuah perjanjian codeshare, sering disingkat dengan codeshare, merupakan sebuah perjanjian bisnis penerbangan di mana dua maskapai berbagi penerbangan yang sama. Sebuah kursi dapat dibeli di satu maskapai penerbangan namun sebenarnya dioperasikan oleh maskapai rekanan di bawah nomor dan kode penerbangan yang berbeda.

Istilah “code” mengacu kepada sistem identifikasi yang digunakan dalam jadwal penerbangan, umumnya merupakan dua karakter kode pengenalan maskapai dari IATA dan nomor penerbangan. Dalam hal ini, XX123, penerbangan 123 yang dioperasikan oleh maskapai XX, mungkin juga dijual oleh maskapai YY sebagai YY456 dan oleh ZZ sebagai ZZ9876.

Hal ini memungkinkan akses yang lebih besar menuju berbagai kota melalui jaringan sebuah maskapai tanpa perlu menyediakan penerbangan tambahan, dan membuat jaringan lebih sederhana karena memungkinkan untuk memesan satu tiket untuk penerbangan dengan beberapa pesawat. Sebagian besar maskapai penerbangan besar di dunia melakukan kerjasama codeshare dengan maskapai penerbangan lain dan codeshare menjadi bagian utama dalam aliansi maskapai penerbangan.

Di bawah sebuah perjanjian codeshare, maskapai yang sebenarnya mengoperasikan penerbangan (yang menyediakan pesawat, awak pesawat, dan layanan penanganan darat) disebut sebagai maskapai operator/operating airline. Perusahaan yang menjual tiket untuk namun tidak mengoperasikannya disebut maskapai penjual/marketing airline .

Selama ini Garuda Indonesia sudah banyak melakukan kerjasama code share namun engan maskapai yang kualitas service nya apple to aplle . Misal code share Garuda Indonesia yang sudah sukses dilakukan dengan maskpai, Malasysia airline ,( MH) , Korean air (KE), KLM , Aero Mexico air , China Airline (CI Taiwan) . Namun itu dilakukan era tahun 2000an dan sudah jarang dilakukan , Karen beberapa airline partner luar negeri saat ini membentuk semacam kerjasama yang lebih luas yang dinamakan alliansi global. Apa itu global alliance?

Kerjasama antar maskapai pada dasarnya sama dengan code share , namun alliansi maskapai global lebih diperluas annggota maskapai yang join. Paling tidak 1 alliansi ada 20 anggota maskapai . Ada 3 alliansi global yang besar di dunia saat ini , alliansi kusus maskapai anggota Negara Negara commenwelth di ketuai British airways dan Jal , tergabung dalam alliansi ONE WOLRD , 2 lagi yang besar yakni Sky Team pentolannya KLM , dan Star Alliances, dengan punggawanya Singapore Airline.

Maskapai penerbangan BUMN PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) resmi bergabung dengan SkyTeam Global Alliance, sebuah alinasi kerjasama antar beberapa perusahaan maskapai penerbangan di dunia. Lewat kerjasama ini Garuda mendapat sejumlah keuntungan melayani rute-rute internasional.

Pertama, para pengguna jasa Garuda Indonesia dapat terbang ke 1.064 destinasi SkyTeam di 178 negara melalui 15.723 frekuensi penerbangan per hari serta dapat mengakses 564 lounge terbaik di seluruh dunia. Kedua, Garuda Indonesia dapat mengakses 588 juta pengguna jasa maskapai anggota SkyTeam, termask di antaranya 189 juta anggota frequent flyer maskapai anggota alinasi Skyteam.

Ketiga, lewat SkyTeam, Garuda dapat menawarkan layanan “Garuda Indonesia experience kepada konsumen global sekaligus menempatkan Indonesia dalam peta industri penerbangan dunia. Menjadi anggota SkyTeam akan menguatkan reputasi Garuda Indonesia sebagai world class airline dan setara dengan maskapai global.

Keempat, para pengguna jasa maskapai penerbangan anggoota Skyteam dari seluruh benua akan mendapat akses yang lebih mudah ke destinasi-destinasi bisnis dan wisata yang dilayani Garuda bersama maskapai anggota lainnya lewat layanan penerbangan nonstop dari Jakarta, ke enam hub SkyTeam di Seoul, GuangZhou, Beijing, Shanghai, Taipei, dan Amsterdam.

Kelima, akan memperkuat jaringan penerbangan SkyTeam di Australia melalui layanan penerbangan langsung Garuda ke Brisbane, Melbourne, Perth, dan Sydney. Selain itu di Jepang lewat layanan Garuda ke Haneda Tokyo dan Narita Tokyo. Pada tahun ini pula Garuda akan membuka rute Jakarta-London.

Emir menambahkan, bergabungnya Garuda ke SkyTeam merupakan bagian dari program transformasi Quantum Leap 2011-2015 sekaligus menandai ‘milestone’ baru dalam 65 tahun di industri penerbangan. “Kami menyambut baik berbagai kesempatan yang ada untuk berkolaborasi dengan mitra-mitra kami di aliansi,” tutup Emir.

SkyTeam adalah sebuah aliansi kerjasama internasional yang melibatkan beberapa perusahaan maskapai penerbangan di Asia, Eropa, dan Timur Tengah.

Dalam aliansi ini, Garuda menjadi anggota ke-20. Adapun 19 anggota lainnya adalah Aeroflot Rusia, Aerolineas Argentinas, Aeromexico, Air Europa, Air France, Alitalia, China Airlines, China Eastern, dan China Southern. Lalu ada Czech Airlines, Delta Air Lines, Kenya Airways, KLM Royal Dutch Airlines, Korean Air, Middle East Airlines, Saudia, Tarom, Vietnam Airlines, dan Xiamen Air.

ALASAN DAN KEUNTUNGAN

Di bawah sebuah perjanjian codeshare, maskapai penerbangan peserta dapat menampilkan nomor penerbangan tertentu untuk alasan sebagai berikut:

Bagi Penumpang

Penerbangan bersambung – Sistem ini memungkinkan jalur yang lebih jelas bagi pelanggan, memungkinkan mereka melakukan perjalanan dari titik A menuju C melalui titik B dengan menggunakan satu kode maskapai, daripada melakukan pemesanan dari A ke B dengan satu kode, dan dari B ke C dengan kode lainnya. Hal ini merupakan penambahan yang rumit karena maskapai yang bekerja sama harus menyesuaikan jadwal dan melakukan koordinasi penanganan bagasi, yang membuat waktu transfer antar pesawat lebih singkat.

Pembagian tanggung jawab antar maskapai – Saat terbang menuju dua kota tanpa koneksi langsung dari satu maskapai, penumpang dapat memilih penerbangan codeshare atau membeli tiket secara terpisah. Jika penerbangan bukan penerbangan codeshare, maskapai kedua tidak punya tanggung jawab jika penumpang melewatkan penerbangan kedua akibat keterlambatan penerbangan pertama. Di bawah penerbangan codeshared, maskapai kedua tidak dapat melakukan hal tersebut karena penerbangan kedua akan ikut tertunda jika penerbangan pertama tertunda.

Bagi Maskapai Penerbangan

Penerbangan dari dua maskapai yang terbang dalam rute yang sama – hal ini memungkinkan peningkatan frekuensi penerbangan bagi satu maskapai.

– Pemberian layanan menuju pasar kosong – Hal ini memungkinkan sebuah maskapai yang tidak mengoperasikan pesawat ke rute tertentu untuk menampilkan rute tersebut ke kota tujuan mereka dalam nomor penerbangan mereka sendiri.

– Jika sebuah maskapai mengorbankan kapasitasnya untuk dipakai maskapai lainnya sebagai rekanan, biaya operasi kapasitas tersebut akan dianggap bernilai nol.

Permasalahan yang Timbul dari Code Share

Dalam sistem distribusi global, seperti Amadeus, Galileo, Worldspan, atau Sabre, metode ini akakn memberikan detail penerbangan yang sama, namun dalam nomor penerbangan yang berbeda, memaksa penerbangan non codeshare diletakkan di halaman berikutnya, di mana mungkin dilewatkan oleh penumpang yang membutuhkan informasi penerbangan tersebut.

Sebagian besar kompetisi dalam industr penerbangan melibatkan strategi penjualan tiket penerbangan (juga disebut sebagai “pemesanan kursi”) (manajemen pendapatan, variasi harga, dan marketing global). Sebagian besar penumpang dan agen perjalanan lebih suka penerbangan dengan hubungan langsung, yang dapat dicapai dengan codeshare. Sistem pemesanan komputer juga sering tidak membedakan antara penerbanganlangsung dan penerbangan codeshare dan menampilkan keduanya sebelum memunculkan informasi bahwa penerbangan tersebut dioperasikan oleh maskapai penerbangan lain.

Kritik telah diberikan kepada sistem codeshare oleh organisasi perlindungan konsumen dan departemen perdagangan nasional karena dianggap membingungkan dan tidak transparan kepada penumpang.

Prospek MOU CODE Share domestic Garuda Indonesia dan Sriwijaya air 14 Mei 2018.

Sangat mengejutkan keputusan ini Garuda mau ber code share dengan Sriwijaya air mengingat

– Konsep service Garuda dan Sriwijaya jauh berbeda ,yakni GIA full service dengan full AVOD audio video on demand  dan meals sementara Sriwijaya aircraftnya no AVOD dan meals hanya snack box yang biasa biasa saja kualitasnya. Perlu dipertimbangkan aspek kenyamanan penumpang yang saling ticketing endorsable , bila memang begitu kondisinya.

– Aspek safety , Garuda sudah lolos ke Eropa , Sriwijaya belum , jai ada gap dari sisi safety quality, ini sudah banyak pilot Garuda tidak terlalu happy engan, ada level perbedaan safety.

– Dukungan IT finansial dari kedua belah pihak apa sudah matching dari sisi prorate pembagian sales revenue , apa sudh dilakukan trial, disini sering terjadi disparitas dan saling klaim antar maskapai , paling benar hitung-2 ngannya  .

– Mega CRS atau GDS yang dipakai , Garuda ticketing dan reservasinya memakai gds(gobal distribution system)  luar negeri yang dinamakan Altea, bagaimana dengan system Sriwijaya yang dipakai , ini potensi mismatch juga dilapangan.

Namun itu code share Garuda dan Sriwijaya air, baru MOU, kita harap hal hal diatas kelemahan sudh kita deteksi awal  ,agar  critical path bisa segera ditutupi dieliminir agar pada saat eksekusi di lapangan sehingga tidak ada masalah yang merugikan penumpang. Semoga. (BD)

Share :
You might also like