Gagal Lagi di Dewan ICAO

Indonesia gagal lagi untuk duduk menjadi Dewan ICAO. Banyak spekulasi bahwa kegagalan itu karena kalah dalam hal diplomasi. Barangkali benar begitu, hanya saja saya berpendapat sedikit berbeda. Lobby dan diplomasi memang diperlukan. Hanya saja untuk dapat sampai pada tingkatan itu, mesti didasari dengan kemampuan teknis terlebih dahulu. Selain itu juga kondisi dunia aviasi di negara calon anggota Dewan ICAO.

Beberapa kali saya mengikuti meeting, workshop, seminar yang berskala internasional. Setiap kali dalam acara diskusi atau tanya jawab, tampak para pejabat dan petinggi kita (maaf) kurang dapat berbicara dan sharing masalah yang terjadi di dunia aviasi Indonesia. Menurut saya yang pertama karena penguasaan bahasa Inggris dan kedua adalah kedalaman penguasaan materi tentang suatu topik. Saya kira, dua hal itulah yang menjadi Indonesia kurang dapat muncul dan tampak dalam pergaulan dunia penerbangan internasional.

Selain itu ada hal lain yang menjadi pertimbangan, yaitu kondisi dunia penerbangan Indonesia. Dunia internasional pasti ikut juga memonitor dan diikuti oleh dunia internasional. Beberapa kejadian dalam dunia penerbangan cukup fatal dan serius menjadi catatan buruk bagi Indonesia. Dengan mudah dunia internasional beberapa kejadian penting dan fatal dalam dunia penerbangan Indonesia.

heru-legowo

Pertama insiden jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet-100 pada Mei 2012 lalu. Pesawat yang fiterbangkan pilot senior dan kawak Rusia itu membentur puncak Gunung Salak dan menewaskan 45 orang. Kedua musibah yang dialami Lion Air, yang gagal mendarat di Bali pada 13 April 2013. Pesawat jatuh sebelum mencapai runway dengan badan pesawat patah hampir ditengahnya. Ketiga, dialami oleh pesawat Air Asia Qz-8501. Kedua pilotnya tidak mampu mengendalikan pesawat dan jatuh di selat Karimata pada tanggal 28 Desember 2014. Meskipun atas muisbah itu, dunia internasional mengakui kehebatan Indonesia dalam melakukan operasi SAR dan menemukan pesawat yang sudah tenggelam di laut.

Selain kejadian kecelakaan pesawat itu, ada hal yang lain yang terjadi dalam hal pengelolaan bandar udara. yaitu situasi chaos di bandara Soekarno-Hatta, pada 21 November 2015 yang lalu. Para penumpang Lion Air emosional karena pesawatnya delay cukup lama, menerobos masuk ke apron dan menguasai dan menyandera pesawat. Belum lagi ada penumpang internasional yang turun si terminal domestik, bahkan sudah sempat keluar dari bandar udara. Kementerian Perhubungan menjaguhkan sanksi kepada Lion Air. Dan kejadian ini berlanjut. Lion Air melaporkan Dirjen Perhubungan Udara ke polisi. Ruwet!

Itu semua bukan hal yang biasa. Dan itu menjadi pemahaman tersendiri bagi dunia penerbangan internasional, mengenai kondisi penerbangan Indonesia. Kondisi itu mau tidak mau juga ikut melatar-belakangi kegagalan lobby Indonesia untuk dapat duduk di Dewan ICAO.

Berdasarkan situs resmi www.icao.int, dalam pemilihan tersebut 36 anggota ICAO dibagi tiga bagian. Bagian pertama adalah negara yang memiliki kepentingan utama dalam transportasi udara, bagian kedua adalah negara memberikan kontribusi terbesar terhadap penyediaan fasilitas sipil navigasi udara internasional dan bagian ketiga adalah negara representasi geografis di transportasi udara. Komposisi dari 36 anggota adalah :

  • Bagian Pertama: Australia, Brasil, Kanada, Cina, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat.
  • Bagian Kedua: Argentina, Mesir, India, Meksiko, Nigeria, Norwegia, Portugal, Arab Saudi, Singapura, Afrika Selatan, Spanyol, dan Venezuela.
  • Bagian Ketiga: Bolivia, Burkina Faso, Kamerun, Chili, Republik Dominika, Kenya, Libya, Indonesia, Malaysia, Nikaragua, Polandia, Republik Korea, Uni Emirat Arab, dan Tanzania.

Indonesia berada bersama dengan Malaysia di bagian ketiga. Sayangnya gagal karena hasil voting Indonesia hanya mendapat 97 suara, sedangkan Malaysia meraih 128 suara. Perbedaan angka yang cukup menyolok secara tidak langsung menunjukkan uraian yang disampaikan diatas tadi.

Selanjutnya banyak hal dan masalah yang harus diperbaiki mulai sekarang, jika Indonesia ingin duduk dalam Dewan ICAO. Tidak bisa hanya mengandalkan dan bertumpu kepada kecanggihan lobby dan diplomasi saja.

Oleh : Heru Legowo

 

Share :
You might also like