Pengalaman Turbulensi yang Menyeramkan

Pramugari itu cantik, ramah, dan glamor.” Mungkin itu citra pramugari di mata masyarakat. Tapi siapa yang sangka dibalik citranya yang menggoda itu, mereka tetaplah manusia biasa. Kok bisa? Nur Sarigita Dewi, pramugari Batik Air ini berbagi cerita bagaimana para ‘bidadari langit’ ini menjalani rutinitas saat bertugas.

Dara cantik 23 tahun yang sudah pengalaman terbang selama 5 tahun ini memiliki beragam cerita menarik dibalik kabin. Sebagai seorang pramugari, sudah menjadi kewajibannya untuk mengarahkan penumpang untuk tetap tenang ketika terjadi turbulensi atau keadaan menyeramkan saat diatas pesawat. Tapi siapa sangka jika pramugari sebenarnya juga merasa takut, namun mereka diminta tetap bersikap professional.

Ini terjadi ketika Gita, sapaan akrabnya, menemani rombongan umroh. Saat itu terjadi goncangan besar yang membuat para penumpang panik dan serempak berdzikir hingga landing. Meski sudah sering merasakan goncangan ketika terbang, Gita dan kru masih saja merasa takut.

Pekerjaan pramugari yang kerap ‘loncat’ antar wilayah juga sering membuat banyak orang iri karena bisa travelling gratis. Padahal selain jalan-jalan, para awak kabin juga kerap merasakan situasi yang kurang menyenangkan. “Pramugari itu jam kerjanya tidak seperti orang normal. Dalam sehari bisa bekerja hingga 14 jam. Belum lagi kalau jet lag,” ujar gadis yang pernah berkuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Kerja dengan intensitas tinggi juga bisa membuat mereka tumbang. Penyakit yang paling sering dijumpai selama bertugas biasanya masuk angin. Siapa sangka jika pramugari cantik bak model ini ternyata hobi tempel Koyo?  “Banyak kru yang kalau masuk angin pakai koyo saat kerja. Cuma tertutup seragam saja. Jadi penumpang tidak ada yang tahu kalau dibalik senyum ramah, kami juga sedang linu-linu, hehehe…,” ujar Gita.

Nur Sarigita Dewi 

Pramugari Batik Air

Share :
You might also like