Bandara Baru: Kebanggan dan Kerja Keras

Sebuah bandar udara berperan sangat besar dalam menjadi pintu gerbang udara wilayah dimana bandar udara berada. Bandar udara menjadi sarana konektivitas vital dengan dunia luar dan secara langsung dan tidak langsung menjadi penggerak perekonomian wilayah. Dalam beberapa minggu terakhir ini kita menyaksikan, beberapa bandar udara baru diresmikan penggunaannya. Tanggal 23 Mei Bandara  Internasional Jawa Barat Kertajati, lalu tanggal 24 Mei Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto di sebelah utara Samarinda Kalimantan Timur dan awal Juni ini Terminal Penumpang dan Tower Baru Bandara Ahmad Yani Semarang. Yang masih dalam proses pembangunan adalah New Jogjakarta International Airport di Kulonprogo dan juga bandara di Kediri yang dibangun PT. Gudang Garam. Bandara-bandara baru itu apik, artistik dan menarik. Wajar jika menjadi kebanggaan wilayahnya.

Bandara-bandara itu dibangun melalui proses panjang dan hampir selalu ada masalah dalam pembiayaannya. Jika sudah begitu pemerintah akhirnya harus turun tangan. Sementara itu PT. Angkasa Pura Airports membiayai sendiri pembangunan terminal baru bandara-bandara yang berada di wilayahnya. Sebagai perusahaan BUMN, PT. Angkasa Pura Airports pasti sudah berhitung dengan cermat bagaimana membiayai pembangunan itu. Diusahakan sepenuhnya bagaimana bandara-bandara yang sudah dibangun dengan biaya besar itu, dapat membiayai sendiri beban operasionalnya, self financing!

Dari sinilah kerja keras dimulai. Setelah kebanggaan dengan bentuk fisik bandara, sekarang muncullah keharusan untuk bekerja keras. Bagaimana membiayainya? Sebuah konsekuensi yang wajar. Masalahnya yang sudah diketahui umum, bahwa sebuah bandara tidak dapat memperoleh pendapatannya begitu saja. Permintaan untuk jasa transportasi tidak dapat diciptakan bandara itu sendiri, tetapi merupakan derived demand. Jadi itu sangat tergantung wilayah dimana bandara berada. Demand ini diciptakan karena adanya 3 hal utama yang ada di wilayah itu, yaitu : trade, tourism & investment (TTI). Jika salah satu tidak ada di wilayah itu, maka akan sulitlah bandara itu mampu membiayai dirinya sendiri.

Uraian diatas memberi gambaran bahwa kebanggaan mesti disandingkan dengan baik bersama kerja keras. Selain itu juga unfortunately, adalah kondisi wilayah dimana bandara itu berada. Jika tidak terdapat TTI pada wilayah itu, maka bandara tersebut diprediksi bakal disubsidi sepanjang masa! Dan itu mesti disadari bersama, antara pengelola bandara dan wilayah dimana bandara itu berada. Demikian, mohon maaf jika salah.

REKOMENDASI