Tua dan Tauladan

Akhir-akhir ini ada fenomena menarik, naiknya orang tua kembali ke puncak kekuasaan. Seorang mantan Perdana Menteri di usianya yang mendekati seratus, mampu kembali menjadi Perdana Menteri. Luar
biasa. Lalu itu barangkali memberi inspirasi kepada seorang tua lain. Beliau adalah profesor dan ulama juga sekaligus politikus.

Yang terakhir ini tampaknya juga berambisi come-back, dan berambisi untuk menjadi Presiden. Yang membedakan yang terakhir ini memberi kesan, emosional, meledak-ledak, suka mencaci-maki dan menyalahkan serta menurut saya tidak punya etika dalam menyampaikan suatu kritik. Predikat profesor yang semestinya tenang dan bijaksana, juga predikatnya sebagai ulama sama sekali tidak berbekas pada ucapan-ucapannya. Luar biasa!

Saya tergelitik menuliskan ini bukan ingin membicarakannya, tetapi lebih kepada mencari hikmah dan menjadikan perilakunya sebagai introspeksi. Orang orang Jawa mengatakan menjadikannya sebagai Kaca Benggala. Sebuah cermin dimana kita dapat melihat ke dalamnya semua yang ditampilkan cermin itu, kemudian mengoreksi apa saja yang salah dari penampilan kita.

Seorang tua dengan begitu banyak ragam pahit-getir pengalaman hidup, semestinya menjadikan orang itu lebih bijaksana, lebih santun dan lebih melihat ke depan dengan penuh kesadaran suatu saat akan kembali kepada-NYA. Itu semua akan mewujud-nyata pada penampilan dan tutur katanya. Seorang tua yang bijaksana seyogyanya tidak emosional, memberi kesejukan, menyiratkan kedamaian dan menenteramkan orang-orang sekelilingnya. Penampilannya ditunggu banyak orang, kata-katanya menjadi pedoman dan patokan arah yang dituju dalam kehidupan ini. Alih-alih begitu, yang kita lihat justru sebaliknya!

Akhirnya saya menyadari, bagaimana pun hebatnya, apa pun prestasi yang pernah dia miliki dan diperoleh, dia hanyalah mahluk ciptaan Allah. Jadi terserahlah kepada Allah akan menjadikannya seperti apa. Sang profesor dan ulama serta politikus itu, hanyalah wayang mati yang bergerak karena digerakkan oleh DIA yang Maha Segala. So what gitu loh?

Sekarang, tampaknya Allah Swt sedang bercanda kepada kita. Allah seakan ingin memberi contoh nyata, bahwa seseorang yang sudah mencapai jenjang tertinggi dalam pendidikan dan agama, tidak menjadi jaminan akan membuat dia bijaksana dan dapat dijadikan suri tauladan. Tua iya, tetapi tauladan belum tentu.

Wallahu’alam …

Mohon maaf jika salah …
Selamat menyambut Idul Fitri 1439 H.

Share :
You might also like