Ancaman Pidana bagi Pelaku Hoax Bomb

Oleh : Arista Atmadjati, SE,MM

Direktur AIAC, Pengamat Penerbangan

Awal Hoax Pertama Kali Ditelusuri Secara Ilmiah

Di Amerika pada April 1991, FCC menyelidiki radio KROQ-FM, Pasadena-Los Angeles, untuk siaran hoax pengakuan pembunuhan palsu di pagii hari. Tim pagi radio ini, Kevin Ryder dan Gene Bean Baxter, telah mengembangkan sebuah acara yang dinamakan “Mengakui Kriminal Anda”. Pendengar didorong untuk menelepon dan mengungkapkan “kejahatan” pribadi di udara.

Salah satu penelepon mengaku telah membunuh pacarnya. “Pembunuh yang mengaku” ini sebenarnya adalah Doug Roberts, teman dari penyiar acara yang bekerja di Arizona. Penipuan mulai terurai setelah Roberts datang untuk bekerja di KROQ dan audiens mendengar kesamaan antara suara Roberts dengan “pembunuh”.

Ketika dilakukan penyelidikan internal, akhirnya diketahui bahwa acara tersebut ditujukan untuk meraih rating pendengar yang tinggi. Ada kepentingan media massa di balik disiarkannya acara ini meskipun dilakukan oleh oknum penyiar.

Tim penyelidik pun memberhentikan para penyiar yang terlibat dan KROQ-FM menyiarkan beberapa permintaan maaf. Stasiun ini juga bekerja sama dengan polisi dan mengajukan tawaran restitusi. FCC mengirim surat untuk tim penyelidik guna mengawasi apakah radio ini benar-benar bertindak “secara bertanggung jawab dan efektif” setelah kejadian tersebut.

Hingga akhirnya, pada tahun 1992 FCC memberlakukan aturan yang melarang siaran hoax yang dapat membahayakan masyarakat (Creech, 2007, p. 212-213). Dapat dilihat bahwa masyarakat mengetahui kebohongan siaran berita ini melalui membandingkan suara si penyiar radio. Hal ini berarti masyarakat melakukan apa yang dirumuskan Potter (2014) sebagai kemampuan analisis dan evaluasi dalam teori literasi media.

Literasi media adalah pendidikan yang mengajari khalayak media agar memiliki kemampuan menganalisis pesan media, memahami bahwa media memiliki tujuan komersial/bisnis dan politik sehingga mereka mampu bertanggung jawab dan memberikan respons yang benar ketika berhadapan dengan media.

Sejak kemudahan berinteraksi disediakan oleh TIK, kedudukan manusia terhadap pesan yang dibawa media berubah, tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai produsen dan distributor. Kedudukan sebagai produsen dan distributor sekaligus idealnya dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan lajuinformasi.

Dengan massifnya informasi menerpa seseorang, seharusnya manusia sebagai individu merdeka mampu mengontrol pesan atau informasi yang menerpa. Yang menjadi pengontrol pesan adalah khalayak.

Lebih lanjut ditegaskan bahwa pemakaian teknologi komunikasi selalu melahirkan perubahan sosial dalam masyarakat; pemakaian komputer untuk komunikasi telah menyebabkan orang lebih percaya pada informasi yang ada dikomputer daripada kenyataan yang sebenarnya.

Hoax Bomb dalam Candaan yang Serius di Pesawat

Sepanjang 2015 hingga awal Januari 2016, Kemenhub mencatat ada 15 gurauan sedangkan pada bulan Mei 2018 saja sudah terjadi 9 kali bomb hoax yang dilakukan di Indonesia. Apakah trend nya semakain menurun ?

Ternyata tidak juga, hampir tiap minggu setelah hoax bomb di pesawat Lioan Air pada rute Pontianak-Jakarta, di mana penumpang berhamburan keluar, terjadi pula kejadian serupa di Indonesia pada jurusan Jakarta-Singapura dan maskapai Sriwijaya Air .

lewat akun Twitter resminya @kemenhub151, Rabu (8/1), Kementerian Perhubungan (Kemenhub RI) mengingatkan masyarakat untuk tidak bergurau soal ancaman bom. “JANGAN PERNAH BERCANDA SOAL “BOM”! Gurauan/informasi palsu tentang bom di bandara/pesawat akan ditindaklanjuti serius,” kicau @kemenhub151 sekitar pukul 4 sore.

Kicauan ini bisa jadi merupakan reaksi Kemenhub RI atas bertubi-tubinya ancaman keselamatan di bandara atau pesawat yang beroperasi di Indonesia menjelang libur natal hingga pergantian tahun 2016 kemarin.

Mengacu pada Pasal 437 UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (UU Penerbangan), Kemenhub memperingatkan agar masyarakat tidak bercanda soal bom dengan didukung infografis. “Menyampaikan informasi palsu, bergurau, atau mengaku-ngaku membawa bom di bandara dan di pesawat udara dapat dikenakan pidana penjara,” bunyi isi pembuka infografis.

Selanjutnya infografis tersebut juga memuat redaksional keseluruhan Pasal 437 UU Penerbangan yang mana terdapat ketentuan pidana di dalamnya. Pasal 437 ayat (1) berbunyi, “setiap orang menyampaikan informasi palsu yang membahayakan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 344 huruf e dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun.”

Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kecelakaan atau kerugian harta benda, dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun, dan bila mengakibatkan matinya orang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun, lanjut isi Pasal 437 ayat (2) dan (3).

Dengan adanya ancaman kurungan pidana hendaknya penumpang udara tidak terlalu mudah meng info adanya bomb hoax , kaena pdana kurunganbisa 1tahun sampai dengan maksimal 15 tahun pidana. Hanya masalahnya, sampai dengan saat ini memang belum pernah ada penumpang yang di vonis dalam pengadilam dalam kasus bomb hoax selama ini.

Maskapai dan pemerintah kompak mulai serius menuntut secara hokum kasus bomb hoax. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bakal menuntut penumpang Lion Air rute Pontianak-Jakarta yang mengaku membawa bom. Menurut Kemenhub, apa yang dilakukan penumpang tersebut merupakan ancaman keselamatan penerbangan.

“Kementerian Perhubungan akan menindak pelaku yang memberikan informasi palsu tentang bom. Ini merupakan ancaman terhadap keamanan dan keselamatan bagi kita semua. Pelaku candaan bom akan kami tuntut secara hukum,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam keterangan tertulis.

Menhub meminta Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) bekerja sama dengan kepolisian menindaklanjuti kejadian tersebut. Ia menyatakan ancaman bom tersebut telah menimbulkan kerugian.
“Saya minta PPNS dapat bekerja sama dengan kepolisian untuk menindaklanjuti beberapa kejadian terkait adanya informasi bom di bandara dan memprosesnya secara hukum. Kejadian ini tentunya mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit, setidak-tidaknya tertundanya jadwal penerbangan,” ujar Budi.

Ia juga mengatakan pelaku ancaman bom itu harus diberi tindakan tegas. Tujuannya agar kejadian tersebut tidak terulang.

Share :
You might also like