Survival Industri Penerbangan Nasional #Part2

Oleh : Marco Umbas

Head of IARC/Pemerhati Penerbangan

Bencana alam yang terjadi baru-baru ini seperti meletusnya  Gunung Agung pada Januari/Juni 2018 dan Gunung  Merapi di awal Mei 2018 telah merugikan industri penerbangan dengan adanya pembatalan ratusan penerbangan. Mengingat Indonesia berada di Ring of Fire harusnya disadari bahwa kondisi diatas akan kerap terjadi dimasa yang datang.

Selain itu nilai tukar rupiah terus merosot sampai ke level  14.437 per dolar  pada tanggal 5 Juli 2017 atau lebih dari 20% dari awal tahun, juga  akan menambah beban biaya industri penerbangan mengingat sebagian besar biaya dalam dolar Amerika.

Keadaan tersebut diperburuk dengan kenaikan harga minyak dunia sampai ke level US$ 80/barrel dan cenderung  terus naik, sehingga telah menjadikan bisnis penerbangan sangat rentan mengingat kenaikan biaya tidak terkendali.

Keadaan diatas  terbukti  telah mempengaruhi  harga saham perusahaan penerbangan yang  terus turun, seperti saham GIAA telah menyentuh level terendah diangka  330  pada tanggal 6 juli 2018 atau turun lebih dari 50 % dari harga perdana. Begitu pula  harga saham Indonesia Airasia per 6 Juli 2018 sebesar 272 atau kehilangan value lebih dari 50% , dibanding  pada 10 januari 2018 yang menyentuh level 650.

Di pihak lain perusahaan  penerbangan  secara agresif terus mengembangkan network  khususnya domestic flight dalam rangka meningkatkan utilisasi flight untuk menurunkan biaya. Hal demikian telah  mengakibatkan   tingkat persaingan  yang tidak  sehat dimana hanya fokus pada peningkatan market share melalui perang harga.

Keadaan tersebut telah  dimanfaatkan oleh Online Travel Agent (OTA) sehingga telah meningkatkan ketergantungan perusahaan penerbangan, terbukti dengan kontribusi OTA kepada beberapa airlines domestik lebih dari 50% dari total revenue.  Apalagi dengan  agresifitas iklan dengan dukungan dana yang  sangat besar dan kreativitas  untuk menciptakan new  service/product,  telah  menghasilkan  jumlah  visitor dan transaksi yang signifikan pada website OTA.

Dumb Industry

Walaupun  perusahaan penerbangan telah  memprediksi  trend bisnis kedepan  cenderung memburuk  seperti yang diungkapkan diatas, kenyataannya perusahaan penerbangan tetap  melakukan strategi  yang sama. Apabila  tidak ada langkah strategi baru, niscahya akan membawa kedalam krisis yang  lebih  dalam.

Secara helicopter view bahwa industri penerbangan saat ini, berada pada era Dumb Industry karena tetap melakukan strategi yang sama. Meskipun  lingkungan bisnis yang telah berubah  sehingga  dapat dipastikan  bahwa kerugian yang berkepanjangan akan terus terjadi.

Hal demikian terjadi mengingat  kurang  adanya  inovasi didalam corporate strategy, business model dan  product/service pada setiap customer contact  sehingga tingkat competiveness cenderung terus menurun dan akumulasi kerugian beberapa tahun terakhir, pada gilirannya akan membawa  kebangkrutan perusahaan penerbangan

Dipihak lain OTA dengan sangat agresif terus berinovasi service/product baru seperti  Traveloka telah meluncurkan new product hotel + flight dengan discount 40% dengan target business  dan leisure market segment dan Traveloka eats, culinary service. Ticket.Com merluncurkan bundling strategy seperti wrapping gratis dengan  AP Logistic, waffle gratis dengan Nanny  Pavilion, food drink gratis dengan Krispy Cream. Sehingga customer preference untuk  belanja di website OTA lebih besar dari pada di website airlines.

Perusahaan penerbangan sebagai  bohir  atau pemilik  seat   seharusnya memanfaatkan posisinya  lebih cerdik sehingga dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya. Mengingat perusahaan penerbangan mempunyai customer data base yang lebih lengkap, sehingga bisa  berinovasi  dengan product/service baru agar dapat memberikan layanan yang lebih baik untuk customer.

Inovasi product/service dalam setiap moment of truth harusnya dilakukan secara berkala. Customer contact mulai dari  saat pembelian tiket, pergi ke bandara, check in, waiting lounge, boarding, service on board dan baggage handling. Dengan tidak mediskriminasikan business model Full Service atau Low cost Carrier, karena customer expectation yang terus meningkat.

Bundling strategy yang dikombinasikan data base perusahaan penerbangan seyogianya dapat memberikan  customer value added sehingga dapat meningkatkan loyalitas customer dan menarik customer baru bahkan menciptakan segment baru.

Persahaan penerbangan seharusnya menggunakan media sosial sebagai alat kampanya utama didalam Integrated Marketing  Communication. Selain lebih murah, media sosial cenderung telah menggantikan tradisional media didalam menggali informasi, khususnya di group-group Whatsapp/Line. Kampanye tersebut dapat dilakukan untuk Image Campaign dan Product/Service Adv, untuk itu diperlukan riset untuk menggali tema yang cocok dan produk baru yang lagi happening  sehingga dapat menjadi viral di media sosial.

Belum lagi inovasi didalam corporate strategy dan business model, kenyataannya bahwa Ryan Air, Southwest, All Nippon Airlines dan Singapore Airlines tetap  profitable  ditengah persaingan global bisnis penerbangan.

Seperti yang dilakukan Singapore Airlines, the dual strategy of SIA, It offers passengers comfort, amenities and attentive personal service from its highly trained staff. Yet SIA is also the lowest-cost airline among its key competitors. Costs per available seat kilometer are lower than those of most other Asian airlines and just one-third the level of some traditional European airlines.” (http://www.repeatability.com/about/the-dual-strategy-of-singapore-airlines.aspx)

Begitu juga  Southwest Airlines, the relatively younger fleet also contributes to Southwest’s lower maintenance costs and Capex. These strategies result in Southwest having lower unit costs (CASM – cost per available seat mile) as shown in my comparable statistics. This sheet also lays out other important metrics used to measure performance in the airline industry such as Load factors , and Available seat miles. Some other strategies that help Southwest keep its unit costs low and achieve the levels of continuous profitability that it has are: Operating out of smaller, cheaper, and more conveniently located airports, Utilizing a random boarding process  allowing for quick turnaround times, Investing in continuous fuel efficiency improvements” (https://seekingalpha.com/article/4147565-southwest-airlines-strategically-positioned-long-term-success)

Semoga dengan optimisme dan pemikiran baru,  industri penerbangan nasional dapat segera bangkit.

Share :
You might also like