Meriahnya Piala Dunia

Oleh : Heru Legowo

Pengamat Penerbangan

Piala dunia berakhir sudah. Hujan turun cukup deras di Luzhniki Stadium Moskow, pada acara penutupan. Hujan yang seakan menyejukkan dan menenangkan semua sorak-sorai, riuh-rendah dan gegap-gempita
puluhan ribu penonton di stadion, juga sorakan di panggung-panggung nonton bareng. Belum lagi teriakan-teriakan di depan televisi di warung-warung dan di rumah-rumah. Kejuaraaan dunia sepak bola selalu meriah, riuh-rendah dan membuat sensasi tersendiri. Perancis menjadi juara dunia yang ke dua kalinya setelah tahun 1998, mengalahkan Kroasia dengan skor 4-2.

Pertandingan final kali ini tanpa gemerlapnya bintang-bintang lapangan. Cristiano Ronaldo, Lionell Messi, Neymar sudah duluan pulang. Pertandingan final antara Perancis dan Kroasia adalah antara tim papan atas dan tim kuda hitam, underdog. Tim-tim papan atas sudah berguguran sejak awal. Jerman juara dunia tahun 2014, malah tidak dapat melewati babak 16 besar, dipermalukan Korea Selatan dan kalah 0-2. Argentina, Brasil, Spanyol, Inggris juga sudah duluan pulang. Tim Perancis dipenuhi pemain dengan bayaran termahal. Jika nilai seluruh pemain dijumlahkan besarnya mencapai Rp. 18,2 Trilyun. Ini menunjukkan kualitas para pemain Perancis merata di semua lini. Pelatihnya Didier Deschamps adalah mantan kapten Perancis, ketika memenangkan gelar juara dunia tahun 1998. Pengalamannya panjang sebagai pemain dan pelatih.

Sementara itu Kroasia ibarat mewakili tim kuda hitam, seperti Uruguay, Meksiko, Kolombia. Walaupun Tim Kroasia tidak pernah kalah sejak babak 16 besar. Memenangkan 3X laga melalui perpanjangan waktu, dan 2X menang melalui adu penalti. Tim yang bermain dengan penuh antusias dan semangat tinggi. Pelatihnya Zlatko Dalic adalah pemain tengah yang tidak pernah mewakili negaranya. Dia hanya pernah melatih di Albania, Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab. Dalic hanya melatih Tim Kroasia selama 9 bulan, tetapi berhasil membuat Croatia bermain sampai puncak kekuatannya. Dia memberi kesempatan pemain senior Luka Modric, Rakitic dan Mario Mandzukic memimpin di lapangan.

Pertandingan final seperti menjadi ajang adu taktik antara Deschamps dan Dalic. Perancis tampaknya punya strategi yang akurat untuk menghentikan laju Kroasia. Dan Perancis punya catatan tidak pernah kalah, jika memasukkan gol lebih dulu. Wasit Nestor Pitana memimpin pertandingan.

Menit ke 18 Antoinne Greizmann menanduk bola di depan gawang mengenai kepala Mario Mandzukic. Dan bola masuk ke gawang Subasic. Goolll 1-0 Perancis8 memimpin. Tanda kemenangan sudah muncul, gol pertama oleh Perancis! Kroasia mesti mematahkan mitos ini. Lalu Kroasia mulai menyerang dan mengurung Perancis. Kroasia menguasai bola 61% sedangkan Perancis hanya 39%. Tetapi Greizmann, Pogba, Piroud dan Mbappe bermain akurat dan presisi.

Dan dalam suatu scrimmage Luka Modric terjatuh setelah beradu sundulan bola. Kemudian Vida menyodorkan bola ke Ivan Perisic, yang langsung melepaskan tendangan dengan kaki kiri. Sebuah tendangan voli yang akurat. Gol 1-1. Kroasia terus menekan dan mencoba masuk kotak penalti. Dan beberapa kali gagal.

Barangkali karena terlalu banyak menyerang, Pertahanan Kroasia agak kedodoran. Dalam sebuah kemelut di depan gawang Domagoj Vida menyentuh bola. Wasit tampaknya tidak begitu yakin dan dia meminta bantuan Video Assistance Referee (VAR) di tepi lapangan. Wasit beberapa kali meyakinkan video rekaman ulang, sebelum akhirnya masuk ke lapangan dan menunjuk titik putih. Wasit Nestor Pitana membuat sejarah. Inilah untuk pertamakali penalti diberikan dengan bantuan VAR di final World Cup. Di menit ke 37 Griezmann mengeksekusi penalti. Dia menendang ke sebelah kiri. Subasic salah mengantisipasi dia bergerak ke kanan. Goolll 2-1 Perancis. Tanda-tanda kemenangan Pernacis mulai tampak.

Unggul 2 – 1 Perancis mulai menunjukkan kelasnya. Menunggu Kroasia masuk, lalu menyerang balik dengan cepat dan akurat. Berkali-kali serangan balik yang dimotori Pogba membuat pemain belakang Kroasia kalang kabut. Tampaknya faktor kelelahan menjadi sebab lini belakang Kroasia seperti berongga dan mudah disusupi Pogba , Greizmann, Piroud. Dan benar saja di menit ke 58 dari suatu serangan balik, Mbappé memberi umpan kepada Griezmann, diteruskan ke Pogba tetapi tendangannya di blok. Bola mental. Kali ini untuk kedua kalinya Pogba tidak salah lagi. Gol 3-1 Perancis.

Perancis semakin percaya diri. Ritme serangannya lebih tenang, teratur, dan terukur. Di menit ke 64 pemain muda Kylian Mbappé dari luar kotak penalti mengontrol bola, lalu menendang ke pojok kanan gawang Subasic. Gol 4-1 Perancis. Kemenangan di depan mata. Tinggal 15 menit lagi.

Gol hiburan diperoleh Kroasia semacam hadiah dari kiper Hugo Lloris. Pada menit ke 69 kiper Perancis yang tidak mau memegang bola, tetapi mengolah bola dengan kakinya. Bola yang ditendang mengenai kaki kanan Mario Mandzukic dan masuk ke gawang Perancis. Gooll 4-2 Perancis. Kroasia meningkatkan serangan, berusaha menyamakan kedudukan. Tetapi serangan balik Perancis berbahaya. Jadi mesti waspada. Lalu terjadi beberapa pergantian pemain. Perancis lebih beruntung karena memiliki pemain pengganti yang kualitasnya tidak jauh berbeda, sedangkan Kroasia tidak banyak pemain cadangannya.

Usaha Kroasia untuk menyamakan skor gagal. Skor bertahan sampai peluit panjang wasit Nestor Pitana. Semua pemain cadangan dan official Tim Perancis menghambur ke lapangan. Selamat buat Les Blues.

Sampai Jumpa di Qatar 2022

Acara penutupan berlangsung di tengah guyuran hujan. Di panggung berdiri Presiden FIFA Gianni Invantino, Presiden Russia Vladimir Putin, Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Presiden Kroasia Kolinda Grabar Kitarpvic yang menggunakan baju kotak-kotak merah putih jersey Tim Kroasia. Presiden Kolinda yang terlihat ramah, cantik dan anggun itu menjadi pusat perhatian.

Presiden Putin mengalungi medali satu per satu. Lalu para pemain itu satu per satu bersalaman dan berpelukan dengan Presiden Perancis dan Presiden Kroasia. Kolinda Presiden Kroasia terlihat begitu friendly. Dia mengajak bicara wasit, semua pemain, wasit dan pelatih lalu memeluknya. Kapan lagi kan ya? Dipeluk Presiden dan cantik lagi.

Russia berhasil telah terbukti menyelenggarakan Piala Dunia 2018 dengan baik. Meriah, gegap-gempita dan informatif. Ini pertandingan piala dunia pertama yang menggunakan VAR. Piala dunia telah mampu mengubah wajah Russia yang dikenal dingin, represif dan tanpa kompromi, menjadi Russia yang profesional dan lebih adaptif. Selamat kepada Russia. Spasiba …

Empat tahun lagi semua kemeriahan dan gegap-gempita ini akan beralih ke Qatar. Negara minyak yang masih berseteru dengan Arab Saudi.

Sampai jumpa di Qatar …

Share :
You might also like