‘Safe Ride and Fly’ dalam Semangat Berbagi

Pilotos merupakan sebuah komunitas para pilot penerbangan sipil di Indonesia yang memiliki hobi mengendarai sepeda motor Harley Davidson. Meskipun pilot dan pengendara motor Harley Davidson adalah dunia yang saling berbeda, tapi keduanya bisa berpadu serasi dalam balutan petualangan yang menjunjung tinggi unsur keselamatan.

Banyak orang yang mendambakan profesi sebagai pilot. Sebab, selain memiliki penghasilan yang cukup besar, gengsinya pun cukup tinggi di kalangan masyarakat. Dan hampir sama dengan keinginan menjadi pilot, banyak pula orang yang bermimpi bisa memiliki serta mengendarai motor Harley Davidson, motor besar besutan Amerika Serikat yang sudah melegenda.

Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika sekumpulan para pilot sipil yang berasal dari berbagai maskapai penerbangan di tanah air, sejak tanggal 22 September 2011 lalu membentuk komunitas Pilotos sebagai wadah bagi para pecinta motor Harley Davidson yang berprofesi sebagai pilot. Nama Pilotos sendiri merupakan kata yang diambil dari bahasa Spanyol yang memiliki arti “penerbang”.

Menurut Captain Avirianto (salah satu Dewan Pembina Pilotos), kehadiran Pilotos berawal dari rekan-rekan yang berprofesi sebagai pilot asal Indonesia yang memiliki hobi sama, yaitu berpetualang dengan mengendarai sepeda motor besar Harley Davidson.

“Siapa yang tidak mengenal kegagahan sepeda motor besar Harley Davidson yang sangat melegenda bagi kaum pria. Harley Davidson menjanjikan sensasi petualang pria sejati,” ujar pria yang akrab disapa Capt. Avi ini saat ditemui di ruang kerjanya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, beberapa waktu lalu.

Tekankan Safety Riding

Berawal dari latar belakang pekerjaan dan hobi yang sama tadi, lanjut Capt Avi, akhirnya pada 22 September 2011 dibentuklah sebuah wadah yang diberi nama Pilotos. “Kegiatan perdana Pilotos yakni pada pertengahan Oktober 2011, saat event ‘Bandung Bike Week 2011’ dengan mengikutsertakan sekitar 25 biker dari 45 member yang aktif saat itu. Sementara member lainnya tidak dapat hadir dan tidak dapat bergabung karena acaranya berbarengan dengan jadwal terbang,” ujarnya.

Acara perdana yang digelar Pilotos tadi salah satunya diisi dengan kegiatan safety riding bagi para anggota. “Kami sebagai seorang pilot sudah terbiasa disiplin dan selalu mengutamakan safety. Sebab, bagi kami, safety merupakan way of life,” tutur Capt Avi.

Selain mengedepankan keselamatan berkendara motor besar bagi setiap anggotanya, Capt Avi melanjutkan, klub para pilot ini juga bisa menjadi panutan bagi komunitas bermotor lainnya serta pengguna jalan di seluruh Indonesia. “Sebab, ini merupakan salah satu bentuk misi yang dimiliki Pilotos, yaitu Safe Ride and Fly,” tegas Capt Avi.

Rentangkan Sayap Keanggotaan

Di awal keberadaannya, Pilotos beranggotakan para pilot yang mencintai petualangan dengan mengendarai motor Harley Davidson. Tapi, setelah dua tahun berdiri, demi pengembangan keanggotaan, akhirnya Pilotos mulai membuka keran pendaftaran bagi orang-orang yang bukan berprofesi sebagai pilot.

“Ini dilakukan guna mengantisipasi stagnannya penambahan jumlah anggota yang berasal dari pilot. Selain itu, cara ini juga dilakukan untuk mengakomodir teman-teman biker Harley Davidson yang ingin bergabung di Pilotos,” ujar Capt Avi.

Lebih lanjut, dia mengatakan, persyaratan keanggotaan Pilotos sangat mudah, yaitu berprofesi sebagai pilot, memiliki motor Harley Davidson, membayar iuran anggota per tahun, dan mengikuti touring. “Tapi, dua tahun sejak dibentuknya Pilotos, akhinya dibuka kesempatan bagi para penghobi motor Harley Davidson yang bukan dari kalangan pilot. Para anggota harus membayar iuran tahunan sebesar Rp 1,5 juta per tahun,” paparnya.

Untuk mengambil nomor keanggotaan, lanjut Capt Avi, peserta diwajibkan mengikuti touring sesuai dengan jadwal yang ada. Jika selama hampir dua tahun ada anggota yang tidak aktif mengikuti touring, maka keanggotaannya akan dicopot karena dinyatakan tidak aktif mengikuti kegiatan Pilotos.

“Jadi keanggotaannya kami suspend terlebih dahulu. Tapi hal itu tidak menutup kemungkinan anggota yang di-suspend tadi mendaftar kembali menjadi anggota Pilotos,” ujar dia.

Saat ini, menurut Capt Avi, jumlah anggota Pilotos mencapai 70 orang, dan untuk sementara kepengurusannya masih berbasis di Jakarta. “Tidak ada chapter selain di Jakarta. Tapi ke depan nanti ada rencana membuka chapter untuk wilayah Timur Tengah. Hal ini berdasarkan permintaan teman-teman pilot asal Indonesia yang bertugas di berbagai maskapai di wilayah Timur Tengah,” ujarnya.

Jangan Remehkan Hal Kecil

Capt Avi juga menuturkan, para anggota pemula harus mampu mengendalikan ego ketika mengendarai motor Harley Davidson dan harus lulus saat mengikuti safety riding yang diselenggarakan Pilotos. “Ini untuk meningkatkan keselamatan bagi para anggota Pilotos. Jangan mentang-mentang pilot yang sering membawa pesawat dengan kecepatan sangat tinggi akhirnya mereka meremehkan keselamatan saat mengendarai motor,” tuturnya.

Sementara itu, lanjut dia, mengenai pemilihan jenis motor dan gaya saat mengemudi, semuanya diserahkan kepada masing-masing anggota.

“Yang penting, jangan sampai para anggota merasa tinggi hati ketika mengendarai motor Harley Davidson di jalan raya. Sebab, setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama ketika berkendara di jalan raya, baik motor besar maupun motor kecil. Tidak ada perbedaan antara pengguna motor besar atau kecil. Jangan sampai kegiatan yang kami lakukan malah mengganggu kepentingan masyarakat,” papar Capt Avi.

Selaku dewan pembina, Capt Avi mengaku selalu menekankan dan mendokrin setiap anggota Pilotos bahwa keselamatan merupakan hal yang utama dalam berkendara. “Setelah itu, baru bicara mengenai kecepatan selama berkendara dan  tujuan agar perjalanan dapat ditempuh bersama-sama,” katanya.

Ia juga menambahkan, meskipun berprofesi sebagai pilot yang sudah terbiasa bekerja dengan standar tingkat keselamatan yang tinggi, baik ketika pesawat masih di darat maupun sedang mengudara, para anggotanya tetap tidak boleh meremehkan hal-hal kecil. “Sebab, kecelakaan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja meskipun kami adalah para pilot yang sudah terbiasa dengan disiplin tinggi,” ujarnya.

Sebagai contoh, lanjut Capt Avi, Pilotos tidak akan meninggalkan para anggotanya yang tercecer saat touring. “Karena itulah kami menyiapkan tim sweeping dan sebagainya sebagai bentuk antisipasi terhadap segala kemungkinan, baik untuk penanganan orang maupun motornya,” ujar Capt Avi.

Ragam Agenda

Di awal pendiriannya, Pilotos mengusung misi berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan sesuai dengan kemampuan para anggota. Sebagai contoh, ketika musibah bencana banjir bandang menimpa Garut beberapa waktu lalu, komunitas ini ikut turun tangan membantu para korban.

Periswita itu menggugah hati para aggota Pilotos untuk menggandeng Asosiasi Pilot Garuda (APG) dalam acara penggalangan dana, yang kemudian disalurkan dalam bentuk bantuan. Misalnya untuk merehabilitasi beberapa ruangan yang hancur pada bangunan sekolah SMP/SMA PGRI Tarogong Kidul, Garut.

Setelah melalui proses rehabilitasi selama 3 bulan, bangunan ruang komputer yang rusak akibat bencana banjir bandang itu berhasil dibangun kembali, dan kini dijadikan sebagai ruangan kepala sekolah SMA PGRI. Berkenaan dengan hal tersebut, Pilotos bersama APG pada 17 Februari 2017 meresmikan sekaligus menyerahterimakan bangunan tersebut kepada pihak pengelola sekolah.

Untuk urusan penjelajahan, menurut Capt Avi, ada dua jenis kegiatan touring, yaitu short touring (jarak pendek) dan long touring (jarak panjang). “Untuk touring jarak jauh, kami agendakan rutin setiap tahun. Untuk tahun 2017-2018, rencananya kami akan touring ke Makassar. Sementara short touring juga kami lakukan dengan rentang waktu yang tidak tetap, misalnya menghadiri undangan komunitas sejenis di suatu daerah dan sebagainya,” ujar dia.

Untuk menyiasati kesibukan dinas sebagai pilot, undangan yang di-publish kepada para anggota biasanya dilakukan sekitar dua hingga tiga pekan sebelum waktu pelaksanaan. Hal itu dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada anggota agar bisa mengatur waktunya masing-masing sehingga nantinya bisa mengikuti touring.

“Tapi kalau para anggota yang sedang bertugas tadi tidak ada waktu, kami tidak akan memaksakan. Sebab, kepuasan dan kesenangan dapat diciptakan tanpa harus mengorbankan main jobs sebagai pilot,” ujar dia.

Long touring yang terakhir kali dilakukan para anggota Pilotos adalah melakukan perjalanan dari Larantuka-Labuan Bajo-Larantuka yang menumpuh jarak sekitar 5.100 kilometer. “Itu merupakan perjalanan untuk merayakan hari jadi Pilotos di tahun kelima. Perjalanan yang dilakukan setiap harinya rata-rata menempuh jarak sekitar 300 kilometer. Dan yang paling berkesan adalah saat menempuh rute Ruteng menuju Labuhan Bajo,” kenang Capt Avi.

Lebih lanjut, Capt Avi mengatakan, melakukan perjalanan jarak jauh dengan menggunakan motor Harley Davidson sebenarnya dapat menghilangkan stres yang muncul akibat beban tugas saat menerbangkan pesawat. “Tentunya kami tetap mengutamakan keselamatan selama berkendara motor sama seperti ketika sedang menerbangkan pesawat, safe ride and fly,” ungkap Capt Avi.

Capt Avi sangat optimistis melihat pertumbuhan dan perkembangan komunitas motor besar di Indonesia. Menurut dia, pertumbuhan motor gede di tanah air sangat pesat dan tidak kalah dibanding beberapa negara-negara lain.

“Tapi yang membedakan adalah komunitas motor besar di Indonesia masih memiliki batasan etika. Maksudnya, komunitas motor gede di sini bukan merupakan gangster seperti yang ada di Amerika Serikat. Ini merupakan perbedaan budaya yang ada,” tuturnya.

Share :
You might also like