Satukan Kebersamaan dengan Berbagi

Bee Dirt Bike (BDB) adalah komunitas penghobi motor trail dan adventure yang lahir dari semangat tiga komunitas motor di kawasan Serpong, Tangerang Selatan: Pilotos, Laler Hijau, dan Budi Dirt Bike. Komunitas BDB mengusung falsafah lebah, hewan penghasil madu yang memiliki semangat, gotong royong, pekerja keras, dan selalu mencintai sesama anggota koloni sambil memberikan nilai manfaat bagi sekitarnya.

Komunitas BDB, yang bermarkas di Tangerang bagian selatan, tepatnya di kawasan Serpong, mulai menunjukkan eksistensinya pada 10 Juni 2017. Saat itu, tiga punggawa dari komunitas penggila motor trail dan adventure yang ada di kawasan Serpong, yaitu Capt. Andhitama Mulyo (Pilotos Indonesia), Selamet Tirta Atmadja (Laler Ijo), dan Budi (Budi Dirt Bike) mencoba bersatu untuk menyalurkan hobi berpetualang dengan mengendarai “kuda besi” tanpa batasan strata sosial.

Menurut Capt. Andhitama Mulyo (Ketua Umum sekaligus salah satu founder BDB), semangat dan hobi yang samalah yang menyatukan mereka. “Saat itu, kami sering berkumpul untuk melakukan aktivitas berpetualang bersama meskipun dari komunitas yang berbeda. Meskipun berbeda komunitas, kami sudah saling mengenal satu sama lain karena sering nongkrong bareng,” tutur pria yang akrab disapa Andhi ini, kepada Airmagz di Serpong, beberapa waktu lalu.

Oleh sebab itu, ketiga komunitas berbeda tadi merasa perlu ada sebuah wadah untuk menyatukan seluruh anggota tanpa ada batasan dan jarak. “BDB merupakan wadah untuk menyatukan para penunggang motor trail yang memiliki jiwa petualang tanpa membawa kepentingan serta nama komunitas yang telah melekat sebelumnya, dan tanpa meredam karakteristik yang dimiliki anggotanya. Dari sana akhirnya muncul semboyan yang kami usung sejak awal, yaitu Dari Kita dan Untuk Kita,” tutur pria yang berprofesi sebagai pilot ini.

Diawali Semangat Berbagi

Komunitas BDB didirikan pada 10 Juni 2017 dengan bermodalkan semangat dan komitmen kuat para anggotanya. Dibentuk dan didirikan di bulan puasa, komitmen para penghobi berpetualang dengan sepeda motor trail ini diwujudkan dengan acara buka puasa bersama anak yatim dari Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Haneen Firdaus, Cigudeg, Bogor.

“Acara pendirian komunitas BDB kami lanjutkan dengan melakukan bakti sosial, di antaranya memberikan bantuan dana untuk pembangunan mushola di sana. Alhamdulillah, semua acaranya berjalan lancar,” kata Andhi.

Selanjutnya, komunitas BDB terus menularkan semangat berbagi kepada sesama sambil terus “menekan gas” di lintasan tak beraspal. Bahkan, genap delapan hari sejak didirikan, “sang lebah” kembali “berdengung” memberikan manfaat bagi sekitarnya. Mereka kembali menggelar acara buka puasa bersama sambil memberikan takjil kepada para penggendara sepeda motor dan mobil yang melintas di sekitar Jalan Lengkong Gudang Timur, BSD City, Tangerang Selatan.

“Acara buka puasa kami isi dengan membagikan takjil dan dilanjutkan dengan memberikan sumbangan karpet panjang untuk sholat di dua mushola yang ada di sekitarnya,” tutur Andhi.

Selepas buka puasa, tim BDB pun meluncur untuk menyalurkan bantuan karpet sholat. Bantuan tersebut diserahkan kepada perwakilan mushola Al-Barokah yang terletak di RT 001/02, Kelurahan Lengkong Gudang Timur, Serpong, Tangerang Selatan. Selanjutnya, tim kembali bergerak untuk memberikan bantuan karpet kepada pengelola mushola At-Taqwa di RT 005/02, Kelurahan Rawamekar Jaya, Serpong, Tangerang Selatan.

“Ini bentuk rasa peduli dari seluruh anggota BDB di bulan suci. Rencananya, kami akan terus menggelar dan mengagendakan semangat berbagi kepada masyarakat dengan mengunjungi beberapa wilayah. Setiap anggota terus memberikan dukungan dan kerjasamanya untuk terus menyebarkan dan menumbuhkan semangat peduli antarsesama. Itulah yang paling penting bagi eksistensi keberadaan BDB,” papar Andhi.

Sensasi dari Ambisi

Meskipun baru berdiri, keberadaan BDB telah memberikan warna tersendiri bagi komunitas sepeda motor yang ada, khususnya di wilayah BSD City, Serpong Tangerang Selatan. Pasalnya, para anggota yang tergabung dalam BDB merupakan orang lama yang berkecimpung dalam dunia sepeda motor trial dan adventure di wilayah tersebut.

Sebut saja Andhi yang tergabung dalam komunitas Pilotos Dirt Bike, yakni komunitas pecinta motor yang berlatar belakang pilot di seluruh Indonesia. Selanjutnya ada Selamet Tirta Atmadja atau akrab disapa Billy yang merupakan salah satu pentolan komunitas Laler Ijo, yakni komunitas motor besar adventure.

Selain itu ada nama Budi yang merupakan punggawa dari komunitas Budi Dirt Bike sekaligus pemilik bengkel motor dan mekanik motor milik para petualangan motor trail yang tergabung dalam komunitas BDB.

Andhi, yang juga menjabat sebagai Deputy Line Operation B737 di PT Garuda Indonesia, mengaku mulai bersentuhan dengan motor trail pada tahun 2009. Saat itu, Andhi belum mendapatkan sensasi seutuhnya dari hobi berpetuangan dengan sepeda gunung yang telah dia geluti selama ini.

“Saat itu, sepupu saya yang bernama (Alm.) Anton mengajak saya untuk coba berpetualang mengendari sepeda motor miliknya yang bermerek KTM dengan kekuatan mesin 500 cc,” kenang pilot pesawat Boeng 737 Seri 800 NG ini.

Tantangan sang sepupu pun diterima Andhi. Berawal dari mencoba sensasi berpetualang dengan motor, akhirnya Andhi ketagihan. “Sentuhan dari adrenalin yang ada akhirnya mengantarkan saya untuk memiliki sepeda motor sendiri. Pada tahun 2010, saya membeli motor trail Yamaha KLX 150 cc sebagai teman berpetualang di medan berlumpur, berpasir, dan berdebu. Ini motor trail pertama yang saya miliki,” tuturnya.

Ketika disinggung tentang perbedaan sensasi antara mengendarai motor dan menerbangkan pesawat, Andhi mengatakan bahwa saat menerbangkan pesawat, semua peraturan dan SOP-nya sudah sangat jelas sehingga menjadi sesuatu yang monoton.

“Tapi ketika mengendarai motor trail, beragam tantangan yang tidak terduga siap menghadang. Misalnya kondisi medan berpasir, berlumpur, dan sebagainya. Dan yang terpenting, kami dapat melakukan blusukan ke daerah-daerah untuk lebih mengenal ragam lapisan masyarakat yang ada. Itulah yang menyebabkan saya jatuh cinta pada motor trail,” ungkapnya.

Sensasi Petualangan

foto : airmagz

Ada pengalaman menarik ketika Andhi melakukan touring ke sebuah daerah bekas tempat penambangan emas di Cigudeg, Bogor, Jawa Barat, pada akhir 2011 lalu. “Saat itu, kami berlima mencoba membuka rute dan menjajal medan lintasan yang licin dengan kontur medan yang sangat menantang, yang memiliki variasi lembah dan sungai,” ujar dia.

Andhi melanjutkan, ternyata daerah bekas tempat penambangan tersebut terbagi dua wilayah, yaitu penambangan legal dan ilegal. “Ternyata, kami mengambil jalur medan yang merupakan wilayah bagi penambangan liar yang terdiri dari lembah, sungai, dan bekas lubang yang menyerupai gua kecil yang digali oleh para penambang emas liar,” paparnya.

Saat memasuki wilayah tersebut, Andhi meneruskan ceritanya, medannya sangat tidak bersahabat sehingga ada salah satu sepeda motor yang mengalami gangguan. “Kami pun memutuskan beristirahat sambil melihat kondisi motor. Saya dan rekan duduk di salah satu dataran tanah yang tinggi di sungai yang telah mengering di lembah tersebut. Selang beberapa saat, saya mendengar suara-suara yang sangat aneh,” kenang Andhi.

Merasa tidak nyaman, akhirnya Andhi dan rekan-rekannya mencari bantuan masyarakat sekitar untuk membantu motor yang mengalami masalah tadi. Selang beberapa saat, akhirnya melintaslah masyarakat sekitar yang hendak mencari dan mengangkut batu sungai. Dengan bantuan masyarakat, akhirnya sepeda motor yang bermasalah tadi bisa dioperasikan kembali.

“Menurut masyarakat di sana, daerah tersebut merupakan wilayah yang angker. Sebab, beberapa waktu sebelumnya, ada penambang emas ilegal yang tewas di dalam lubang galian ketika air sungai meluap dan membanjiri lubang tersebut,” tutur Andhi.

Saat itu, Andhi dan rekan-rekannya hanya saling memandang satu sama lain. “Itu salah satu pengalaman menarik yang pernah kami rasakan saat ber-adventure menggunakan motor trail. Peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bagi kami untuk menghormati dan menghargai alam,” kata Andhi.

Agenda Jangka Pendek

foto : airmagz

Menurut Billy, yang juga merupakan founder BDB, saat ini timnya hanya memiliki agenda jangka pendek seputar kegiatan bakti sosial sambil diselingi touring malam keluar-masuk hutan. “Salah satunya di kawasan Akasia yang merupakan wilayah Cigudeg, Parung Panjang, Bogor. Dalam waktu dekat, kami akan touring ke Pangandaran, Jawa Barat, untuk memenuhi undangan salah anggota komunitas,” ujar pengusaha penyewaan alat berat ini.

Selanjutnya Billy mengatakan, komunitas BDB terbuka bagi komunitas motor lain yang ingin bergabung. “Tapi ke depannya kami akan fokus lebih dahulu pada anggota yang ada saat ini. Sebab, kami adalah komunitas yang mengedepankan rasa enjoy dan kebersamaan sesama anggota tanpa ada batasan dengan mengusung semangat Dari Kita dan untuk Kita,” kata dia.

Sebagai contoh, Billy menambahkan, jika ada anggota yang jatuh dari motor ketika melewati lintasan yang licin, kejadian itu akan menjadi bahan gurauan komunitas. “Pernah saya jatuh dari motor. Lalu mereka menghampiri saya tapi bukan untuk langsung menolong. Mereka justru meledeki saya terlebih dahulu. Kata mereka, kalau tidak ingin jatuh dan kotor, main motor di aspal saja. Itulah bentuk keakraban yang ada. Tidak ada batasan senior dan junior di dalamnya,” ungkap Billy.

Terkait dengan safety riding, Billy melanjutkan, sesama anggota senantiasa berbagi informasi tentang keamanan berkendara motor. “Bahkan rencananya di akhir tahun 2017 nanti, kami akan menggelar acara besar di Solo, Jawa Tengah. Di sana akan dilakukan coaching clinic tentang safety riding,” kata Billy.

Selanjutnya Billy menginformasikan bahwa saat ini ada anggota BDB yang bernama Sartono yang sedang melakukan touring motor di Eropa. “Beliau rencanya melakukan perjalanan ke lima negara di Eropa, yaitu Italia, Swiss, Jerman, Perancis, dan Belanda dengan durasi beberapa minggu,” tutur Billy.

Saat ini BDB memiliki 34 orang anggota, yang tersebar di komunitas Pilotos Dirt Bike, Laler Ijo, dan Budi Dirt Bike dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda. “Untuk menyatukan karakter dan latar belakang yang berbeda, kami tidak menerapkan aturan yang kaku. Prinsipnya sangat sederhana, ketika di atas motor trail, kami harus menanggalkan jabatan dan atribut komunitas lainnya. Jadi harus menyatu, enjoy, dan happy,” pungkas Billy.

Share :
You might also like