Seorang Penumpang Kecurian di Bandara Australia

Jakarta, airmagz.com – Kerry Bell, warga Australia, “sangat cemas” ketika ia melewati pemeriksaan keamanan bandara belakangan ini, setelah seorang pencuri mencoba mengambil tas tangannya sementara ia menunggu digeledah.

Bell, 58, melakukan perjalanan dari Adelaide ke Canberra, Australia, tiga tahun lalu ketika alat bantu di dua lututnya memicu alarm di gerbang keamanan bandara. Koper-kopernya sedang melaju di atas ban berjalan ketika ia diminta menepi oleh petugas keamanan perempuan.

“Saya menoleh dan benar-benar melihat seorang perempuan mengambil tas saya dan mulai berjalan menjauh dengan tas saya,” tuturnya.

“Saya berteriak, ‘perempuan itu membawa tasku!’.”

Bell mengatakan teriakannya mengejutkan si calon pencuri, yang dengan cepat menjatuhkan tas tangannya.

“Ia kabur, anda tak akan percaya. Ia tahu ia tertangkap,” katanya.

“Saya sekarang mengalami kecemasan yang mengerikan setiap kali saya pergi ke bandara, bukan karena ditegur petugas, tetapi ketakutan bahwa saya akan kehilangan barang saya.”

Bell percaya calon pencuri itu telah menargetnya karena alat bantu lutut yang dipakainya.

“Saya kira orang-orang yang pekerjaannya seperti ini mengetahui trik-trik melakukannya,” katanya.

“Mereka tahu persis kapan harus bergerak.”

Pencurian tas tak bisa dipercaya

Bell diminta untuk berbagi kisahnya setelah Helen Sweetnam yang berusia 84 tahun mengungkapkan bahwa tas tangannya telah dicuri dalam keadaan yang sama, menimbulkan desakan bagi pihak bandara untuk mengubah cara staf keamanan memindai lansia dan kaum difabel.

Tas tangan Sweetnam dicuri pada bulan Juli setelah ia diminta menepi untuk pengamanan karena alat pacu jantungnya telah memicu alarm.

“Saya merasa muak akibat syok,” kata Sweetnam.

“Saya segera berkata [pada keamanan] tas saya hilang.”

Dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (7/8/2018), Bandara Melbourne mengatakan bahwa Sweetnam telah menjadi “korban kejahatan yang sangat oportunistik dan sangat kurang ajar”.

Mereka mengatakan bahwa AFP telah menanggapi dengan segera dan mengidentifikasi orang yang dicurigai pada saat itu, tetapi tidak ada cukup bukti untuk mengajukan dakwaan.

“Diperlukan seseorang dengan motivasi yang cukup bahkan untuk merenungkan melakukan kejahatan seperti itu mengingat sistem keamanan berlapis yang ada di titik pemindaian bandara,” kata pihak bandara.

“Kenyataan dari situasi ini adalah bahwa Ibu Sweetnam telah menjadi korban kejahatan, dan individu yang telah melakukan kejahatan itu tidak diragukan lagi telah merusak pengalaman perjalanan Ibu Sweetnam.”

“Kami benar-benar sensitif terhadap hal itu dan kami ingin memastikan agar Ibu Sweetnam diperhatikan – dan kami berharap kami bisa memulihkan kepercayaan dirinya untuk melakukan perjalanan di masa depan.”

Pemeriksaan di depan publik dianggap mengganggu

Ini adalah masalah yang mendorong pasangan suami-istri Peter dan Gwen Woodford untuk bertemu dengan manajemen senior Qantas dan Bandar Udara Melbourne pada bulan Februari untuk meminta ruangan khusus bagi orang-orang yang peralatan medisnya memicu alarm keamanan.

Peter Woodford menjelaskan kepada mereka bahwa fasilitas pribadi semacam itu tersedia di bandara Dubai dan London.

“Mereka mengangguk dengan bijak dan tidak melakukan apa pun,” kata Peter Woodford.

Pada tiga kesempatan terpisah, Gwen Woodford memohon pemeriksaan pribadi karena alat bantu di pinggulnya telah memicu alarm keamanan.

Setiap kali ia selalu dibawa ke kantor petugas sementara suaminya mengawasi barang-barangnya.

Pasangan itu sekarang menolak untuk terbang karena perlakuan “tidak bermartabat” oleh keamanan bandara.

“Solusinya adalah, di titik pemeriksaan keamanan manapun, disediakan bilik untuk pemeriksaan keamanan,” kata Woodford.

“Seorang perempuan di awal 70-an tidak ingin diperiksa di depan umum. Kami bukan ternak.”

Pompa insulin picu kekhawatiran

Dewan Warga Senior Victoria mengatakan telah menerima banyak keluhan dari para wisatawan manula yang mengatakan bahwa bandara Australia perlu melakukan lebih banyak untuk mematuhi panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar menjadi “ramah usia”.

Tetapi pelancong muda juga bisa menghadapi masalah serupa.

Ibu asal Melbourne, Susie Noonan, mengatakan bahwa pompa insulin milik anaknya yang penderita diabetes kadang-kadang mengakibatkan perlakuan “super-mengerikan” dari staf keamanan.

“Masalahnya adalah orang pikir itu bom,” sebut Noonan.

“Orang melihat benda itu dan mereka memperlakukannya seperti seorang teroris. Anda merasa stres dan anda merasa takut.”

Noonan mengatakan staf keamanan harus dididik lebih baik tentang peralatan medis, seperti pompa insulin, memiliki buku referensi medis di tangan, dan memungkinkan wisatawan untuk menyimpan barang-barang pribadi di dekat mereka ketika menjalani pemeriksaan pribadi.

“Jika seseorang mencuri barangnya, ia dalam keadaan krisis,” kata Noonan.

Bandara mengatakan penumpang harus menyampaikan kondisi mereka terkait proses keamanan dengan staf.

“Yang penting untuk diketahui bagi setiap pengunjung bandara adalah bahwa orang-orang yang mengatur titik pemeriksaan kami ada di sana untuk membantu memfasilitasi seluruh proses,” kata bandara dalam sebuah pernyataan.

“Jadi, jika Anda bepergian dengan barang-barang berharga, atau jika Anda memerlukan bantuan tambahan untuk menjalani proses, atau bahkan jika Anda khawatir akan dipisahkan dari barang-barang Anda selama proses pemeriksaan, silakan berbicara dengan staf di titik pemeriksaan sehingga mereka dapat membantu Anda melaluinya semudah mungkin.” (IMN/Detik.com)

Share :
You might also like