Garuda Indonesia Mencari Akal Pendanaan Dengan Menerbitkan Berbagai Surat Berharga, Sehatkah Ini?

Oleh : Arista Atmadjati,SE.MM

Direktur of AIAC Aviation Jakarta

Sekuritisasi aset milik PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dengan skema penerbitan instrumen utang Kontrak Investasi Kolektif – Efek Beragun Aset (KIK-EBA) resmi terdaftar di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Berdasarkan pengumuman resmi KSEI, KIK-EBA GIAA01 ini berisi surat berharga hak atas pendapatan penjualan tiket kelas A dengan jumlah pokok sebesar Rp 1,8 triliun. Adapun kupon yang ditawarkan yakni imbal hasil investasi 9,75% pa dengan tenor 5 tahun dan tanggal jatuh tempo 27 Juli 2023.

Masa penawaran KIK-EBA GIAA01 sudah berlangsung pada 24 – 25 Juli 2018. Sedangkan penjatahan dilakukan pada 26 Juli 2018. Adapun pembayaran bunga pertama akan dilakukan pada 27 Oktober 2018 mendatang.

Untuk agen penjualnya adalah PT Bahana Sekuritas PT BNI Sekuritas PT BCA Sekuritas PT CGS-CIMB Sekuritas PT Danareksa Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas. Ditemui di Bursa Efek Indonesia (BEI), Pahala Nugraha Mansury, Direktur Utama Garuda Indonesia mengatakan, penerbitan instrumen utang ini dilakukan untuk melakukan reprofiling  utang yang sudah jatuh tempo dan membuat jangka waktu utang menjadi lebih panjang.

“Karena di 3 Juli 2018, ada obligasi yang jatuh tempo dan kewajiban kepada bank yang harus dibayarkan. Ini akan menggantikan utang jangka pendek dengan jangka panjang,” ujar Pahala, CEO Garuda Indonesia.

Apa itu EBA Effek Beragunan Asset di pasar modal?

Beberapa emiten BUMN tercatat sudah mulai melakukan penerbitan Efek Beragun Aset (EBA) sebagai alternatif pendanaan mereka di kondisi saat ini.

Tercatat BUMN yang sudah menerbitkan skema utang ini adalah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dan PT Jasa Marga Tbk (JS Selain sebagai tambahan dana untuk melakukan ekspansi, skema EBA juga dilakukan untuk melakukan reprofiling utang perseroan yang sudah jatuh tempo dengan utang jangka.

Terbaru adalah GIAA yang menerbitkan EBA senilai Rp 1,8 triliun dengan menjaminkan yield kepada investor melalui pendapatan penerbangan mereka untuk rute Jeddah dan Madinah pada  penerbangan haji.

Penerbitan EBA ini salah satunya untuk melakukan perubahan portofolio utang yang sudah jatuh tempo pada awal Juli lalu senilai Rp 2 triliun dan menggantinya dengan utang jangka panjang.

“Ini juga mengganti kewajiban kepada bank yang harus dibayarkan menggantikan utang jangka pendek dengan jangka panjang,” ujar Pahala, CEO Garuda.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan per kuartal I 2018, jumlah liabilitas jangka pendek GIAA mencapai Rp 2,19 triliun sedangkan liabilitas jangka panjang hanya sebesar Rp 890,15 miliar.

Garuda Indonesia menyiapkan belanja modal (capital expenditure atau capex) sebesar Rp 2 triliun hingga Rp 3 triliun untuk 2018. Dana tersebut akan digunakan untuk perawatan pesawat. Kalau capex lebih kepada maintenance. Setiap kali kita mengoperasikan pesawat kita menyiapkan maintenance reserve yang cukup. Kurang lebih yang kita siapkan sekitar Rp 2-3 triliun tapi itu betul-betul untuk maintenance reserve, & katanya di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang,

Sumber belanja modal tersebut, lanjutnya, berasal dari dana internal perseroan. Namun, ada rencana juga menyiapkan penambahan pendanaan dari perbankan dan pasar modal. Muhammad Alfatih, Analis Samuel Sekuritas mengatakan, saat ini ambisi BUMN cukup besar terutama bagi percepatan proyek infrastruktur. Tentu ini memerlukan dana yang tidak sedikit sehingga wajar saja jika utang ikut membengkak.

“Harus dicari sumber lain, sebelumnya dari utang bank asumsinya terlalu optimis. Jadi dengan adanya EBA cukup baik untuk merubah struktur utang,” ujar Alfatih.

Alfatih menambahkan, seperti WSKT yang sudah memiliki kontrak cukup banyak dan jangka panjang, membutuhkan skema pendanaan yang jangka panjang dan sesuai, dan KIK EBA bisa jadi solusi pendanaan.

Ini merupakan penyelesaian utang dengan proyek mereka yang jangka panjang san di sisi lain ini untuk mengganti utang jangka pendek yang belum bisa terbayar. Dengan skema ini akan menutupi skema utang jangka pendek mereka.

Analis pasar modal yang lain Hans Kwee, Direktur PT Investa Saran Mandiri mengatakan, pinjaman melalui bank memiliki memiliki debt equity rasio yang terbatas sehingga butuh skema lain.

“Disisi lain untuk penyertaan modal di BUMN agak sulit karena ada mekanisme dari DPR dan dana pemerintah terbatas serta selektif jadi menjadi rumit. Padahal BUMN butuh dana untuk ekspansi,” ujar Hans kepada Kontan.co.id.

Menurutnya, dengan EBA bisa jadi solusi dengan seolah-olah menjual aset dengan cara sekuritisasi, sehingga emiten mendapatkan dana cash untuk ekspansi. Disini aset tidak dijual karena disekuritisasi.

EBA dan obligasi sepintas mirip namun pada EBA lebih baik karena tidak merubah struktur modal dan perijinan lebih mudah di EBA dibandingkan obligasi. Mekanisme buy back membuat BUMN tidak menjual aset.

“Refinancing memang harus dilakukan agar kewajiban jangka pendek dapat sesuai dengan aset dan proyek yang jangka panjang. Sehingga tidak miss match pendanaannya,” ujar Hans.

Namun menurut kami , apakah mecari dana melalui penerbitan bonds, sukuk, obligasi dan terakhir EBA, fakta menunjukkan Garuda Indonesia sudah ber tahun tahun tidak pernah meraih laba operasional dan akhirnya untuk tetap survive selalu melakukan dengan dengan menerbitkan berbagai model surat berharga yang pada akhirnya harus membayar beban bunga di akhir termin.

Semacam strategi gali lobang tutup lobang saja , sungguh strategi yang miris untuk maskapai yang berkelas bintang 5 tentunya , sebuah qua vadis yang sulit untuk dijawab endingnya. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) juga saat ini tengah mencari waktu yang tepat untuk menerbitkan global bond atau surat utang global. Rencananya, surat utang tersebut akan diterbitkan di Singapura pada tahun ini.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), pemegang saham menyetujui transaksi material penerbitan global bond dengan jumlah maksimal sebesar US$ 750 juta. Upaya ini dilakukan dalam rangka memperkuat kinerja keuangan dan operasional perusahaan secara berkelanjutan.

Kondisi utang Garuda terkini sebanyak 60% approval pembiayaan akan jatuh tempo. Rinciannya, sebanyak Rp 2 triliun jatuh tempo pada Juli 2018 dan US$ 500 juta pada 2020. Alasan Garuda memilih Singapura sebagai tempat peluncuran global bond GIAA, lantaran lokasi pasar modal yang dianggap paling dekat, mudah dan menjadi sentra keuangan.

Dengan demikian penerbitan di Singapura cukup memadai untuk surat utang hingga US$ 750 juta. Untuk kupon, akan ditentukan setelah tim Garuda melakukan roadshow dan mengetahui kondisi pasar pada saat itu.

Direktur Keuangan & Manajemen Risiko PT Garuda Indonesia Helmi Imam Satriyono mengatakan, fokus penerbitan global bond untuk menutupi utang jatuh tempo. "Sisanya, untuk perkuat modal kerja, ekspansi ya ada sedikit, untuk dukung anak perusahaan, untuk cadangan," katanya.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji menilai, utang GIAA terbilang cukup tinggi. Ia menyebutkan, pada kuartal III-2017 Debt Equity Ratio (DER) saja sudah mencapai 364%, meningkat dari tahun sebelumnya yakni 281%.

Meskipun pendapatan Garuda Indonesia meningkat, dilihat dari pertumbuhan penumpang, tapi perusahaan belum mampu ciptakan laba," ungkap Nafan. Ia pun memperkirakan, tergerusnya laba perusahan lantaran biaya avtur atau bahan bakar pesawat yang tinggi, sehingga ke depan efisiensi bisnis perlu dilakukan.

Dengan begitu, harapannya fundamental perusahaan bisa semakin kuat. Kalau tujuan penerbitan global bonds untuk restrukturisasi utang, mudah-mudahan persentase DER bisa diturunkan, imbuhnya.

Di samping itu, Garuda Indonesia bersama jajaran anak perusahaan diawal tahun 2018 mencanangkan strategi bisnis jangka panjang bertajuk  Sky Beyond 3.5 yang akan menjadi value-driven Garuda Indonesia aviation group dengan target valuation Garuda Group sebesar US$ 3,5 miliar pada 2020.

Selain itu, perusahaan turut menargetkan profit perusahaan mencapai US$ 170 juta dengan jumlah penumpang mencapai 45 juta orang, serta turut memperkuat capaian tingkat ketepatan waktu hingga 92 persen, dengan standarisasi layanan bintang 5 di 2020.

Maskapai penerbangan Garuda Indonesia mencari pendanaan dari pinjaman perbankan dan pasar modal untuk mendukung kebutuhan ekspansi perseroan.

Badan usaha milik negara tersebut mengikuti jejak perusahaan pelat merah yang telah lebih dulu menggalang dana dari pasar modal lewat emisi obligasi global.

Garuda Indonesia memang ada rencana pada 2018 untuk mengeluarkan obligasi, nilainya yang pasti di atas US$500 juta dalam bentuk global bond. Mudah-mudahan pada akhir bulan Maretbisa dilaksanakan selain obligasi, Garuda Indonesia juga terus mencari fasilitas pembiayaan dari perbankan.

“Pinjaman perbanakan ada juga dan kami selalu gunakan fasilitas perbankan. Baru-baru ini juga kami ada satu pembiayaaan dari salah satu bank asing yang kami peroleh sekitar US$100 juta,”

Tambahan dana-dana segar yang didapat dari obligasi dan pinjaman tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung rencana ekspansi perseroan. Garuda Indonesia menyatakan kebutuhan belanja modal pada tahun ini akan meningkat cukup besar bila dibandingkan tahun lalu, yakni sekitar 15% – 20%.

Alokasi belanja modal yang paling besar antara lain untuk kebutuhan maintenance reserve alias biaya yang dicadangkan untuk perawatan pesawat.

“Kurang lebih kisarannya US$350 juta, mungkin yang paling besar untuk maintanance reserve, untuk leasing pesawat Dari segi bisnis,” ujar Pahala.

CEO enggan mengungkapkan pertumbuhan secara tahunan. GarudaIndnesia sempat mengalami kerugian pada dua kuartal awal tahun lalu. Namun menurutnya, kondisinya mulai berbalik dan perseroan mampu membukukan laba terutama pada dua kuartal akhir 2017.

Share :
You might also like