Komunitas Pecinta Reptil Jakarta (KPRJ), Agar Masyarakat Bersahabat dengan Reptil

Jakarta, airmagz.com – Sebagian besar masyarakat di Indonesia masih beranggapan bahwa reptil, seperti ular, buaya, biawak, dan iguana adalah hewan yang menakutkan dan berbahaya. Padahal, reptil merupakan hewan yang memiliki sifat pemalu dan dapat dijadikan “sahabat”. Hubungan baik yang terjalin antara reptil dan manusia di antaranya ditunjukkan oleh para anggota pecinta reptil yang tergabung dalam Komunitas Pecinta Reptil Jakarta (KPRJ).

Sebutan reptil berasal dari bahasa Inggris “reptile” yang merupakan terjemahan dari bahasa Yunani “reptum” yang memiliki arti “melata”. Menurut Rizki Rianto, Ketua KPRJ, sebutan reptil diperuntukan bagi sekelompok hewan yang memiliki tulang belakang (vertebrata), berdarah dingin, dan memiliki kulit kering (sisik) yang menutupi seluruh permukaan tubuhnya. “Pada beberapa ordo dan sub-ordo, sisik tersebut dapat mengelupas secara keseluruhan,” tutur Rizki kepada Airmagz, di Gajah Mada Plaza, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Ada hal yang menarik tentang reptil. Menurut Rizki, reptil pertama diyakini telah berevolusi sekitar 320 juta tahun yang lalu, dan hampir semuanya berdarah dingin. Selain itu, tubuhnya pun ditutupi sisik, memiliki pelat tulang eksternal seperti cangkang, dan bernafas dengan paru-paru.

“Hewan ini menggunakan berbagai metode untuk mempertahankan diri dari situasi berbahaya di alam liar, seperti menghindari manusia, berkamuflase, mendesis, dan menggigit. Selain itu, reptil juga memiliki ukuran otak yang relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan hewan mamalia. Contohnya adalah reptil yang sudah dikenal masyarakat, yaitu buaya, bunglon, iguana, kadal, komodo, kura-kura, penyu, tokek, dan ular,” ungkap Rizki.

Berawal dari Dunia Maya

Foto : Dokumentasi KRPJ

KPRJ awalnya merupakan wadah bagi para pencinta reptil yang berada di regional Jakarta dan sekitarnya. Komunitas ini terbentuk dari adanya kesamaan hobi dan ketertarikan memelihara reptil bagi orang-orang yang sering berdiskusi di salah satu forum dunia maya. Dan akhirnya, pada 9 Agustus 2015, disepakati oleh beberapa penghobi reptil untuk melakukan pertemuan di Museum Fatahillah, Jakarta.

Saat itu, salah satu penggagas pertemuan, Ca Kwan, menganggap perlunya dibentuk suatu komunitas reptil yang baru. Gagasan Ca Kwan tadi disambut positif oleh para koleganya sesama penghobi reptil, antara lain Jendry, Arif, Nadi, Bambang, Mustakim, Ridwan, Wan, Sanggar, Rafi, Ardiansyah, Irfan, serta Rizki.

Pertemuan selanjutnya diadakan pada 15 Agustus 2015, bertempat di La Pazza, Kelapa Gading, Jakarta. “Dalam rapat pertemuan resmi pertamanya, awalnya dicetuskan nama Komunitas Reptil JKT. Tapi nama komunitas itu berubah menjadi Komunitas Pecinta Reptil Jakarta (KPRJ). Itu supaya namanya lebih mudah dikenal masyarakat dan para pecinta reptil lainnya,” tuturnya.

Lebih dalam, Rizki mengatakan terbentuknya KPRJ merupakan salah satu langkah bagi para penyuka reptil untuk memperkenalkan dan menjelaskan atau mengedukasi kepada masyarakat bahwa reptil dapat bersahabat dengan manusia. “Selain itu, KPRJ juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut serta dalam melestarikan hewan reptil yang masih ada,” kata Rizki.

Memasuki usianya yang genap dua tahun, KPRJ telah memberikan warna dan eksistensi bagi anggotanya yang tergabung dalam komunitas ini. Misalnya, KPRJ mencatat ada sekitar 5.000 anggota yang telah bergabung dalam akun facebook KPRJ. “Saat ini ada sekitar 60 orang anggota tetap KPRJ. Para anggota itu tersebar dari berbagai daerah, yaitu Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi,” kata Rizki.

Lanjut dia, KPRJ tidak menutup kesempatan bagi orang lain yang berdomisili di luar Jakarta untuk ikut bergabung. “Hal ini sesuai dengan motto KPRJ, yaitu We Are Family. Kami merupakan keluarga besar bagi penyuka reptil,” ujarnya.

Terkait dengan kegiatan KPRJ, Rizki menyatakan ada pertemuan rutin setiap dua pekan sekali yang biasanya disebut gathering, yaitu pada pekan kedua dan pekan keempat setiap bulannya. “Selain itu, ada beberapa agenda lain yang digelar, seperti mengikuti undangan pameran, penyuluhan, dan edukasi tentang hewan reptil bagi masyarakat,” kata Rizki.

Hindari Memelihara Reptil Berbahaya

Menurut Pey Setiawan (salah satu anggota KPRJ), dalam setiap acara yang digelar dan diikuti para anggota, para pengurus KPRJ menyarankan seluruh anggotanya untuk tidak membawa atau mempertontonkan hewan reptil yang dapat membahayakan anggota dan masyarakat, seperti ular berbisa. “Kami menyarankan untuk membawa reptil yang sudah jinak dan mudah ditangani. Tapi, para anggota KPRJ dipersilahkan memelihara jenis hewan reptil sesuai kesukaannya. Sebab hal tersebut merupakan hak pribadi anggota,” tutur Pey.

Selain sebagai wadah untuk tukar pikiran dan tukar informasi antar pencinta reptil, Pey melanjutkan, KPRJ juga memberi sedikit pelatihan kepada orang awam yang ingin mengetahui karakter hewan-hewan reptil. “Para anggota KPRJ tidak pernah menangkap atau memamerkan jenis reptil yang dilindungi pemerintah. Semua reptil yang dimiliki para anggota adalah hasil ternak dan bukan buruan. Hal itu sebagai bentuk rasa kepedulian KPRJ untuk ikut melestarikan reptil. Jadi bukan hanya sekedar hobi tanpa tanggung jawab,” kata Pey.

Menurut Rizki, KPRJ membatasi setiap anggotanya untuk tidak memelihara reptil yang dapat membahayakan keselamatan jiwa, seperti memelihara ular berbisa (venom). “Ini sebagai bentuk tanggungjawab komunitas untuk menjaga anggota, keluarga, dan masyarakat dari resiko terburuk akibat memelihara ular berbisa. Jika ada anggota yang secara sembunyi-sembunyi memelihara ular berbisa, seperti kobra, jika ketahuan, maka orang itu akan kami keluarkan dari keanggotaan KPRJ,” kata Rizki.

Agar tak terjadi hal seperti itu, lanjut Rizki, pihak pengurus acap melakukan kunjungan ke rumah masing-masing anggota. “Selain untuk menambah keakraban antar sesama anggota, kami juga dapat memantau perkembangan hewan reptil yang dipelihara oleh anggota komunitas,” ujar Rizki.

Berkenalan di Ajang Pameran

Foto : Dokumentasi KPRJ

Kedekatan Rizki dengan hewan melata berawal ketika ia mengunjungi salah satu event pameran reptil yang digelar di Lapangan Banteng, Jakarta, pada tahun 2012. “Rasa cinta saya terhadap reptil timbul setelah tahu bahwa pemeliharaan reptil sangat mudah. Sebagai contoh, dalam memberikan makanan, ular cukup sekali diberikan makan dalam kurun waktu seminggu. Tidak seperti hewan jenis lain semacam unggas atau burung yang harus diberi makanan paling tidak dua kali dalam satu hari,” papar Rizki.

Selanjutnya Rizki menjelaskan, hewan reptil jenis ular juga ditinggalkan dalam waktu cukup lama dengan hanya menyediakan air. “Sedangkan jenis biawak (jenis reptil berkaki) dapat ditinggalkan untuk tiga hari. Kecuali Iguana yang harus diberi makan setiap hari,” ujar dia.

Selain itu, menurut Pey, reptil juga memiliki keunikan sendiri. Iguana, misalnya, sangat membutuhkan suhu panas untuk proses pencernaan makanannya yang berupa sayur-sayuran. “Meski demikian, makanan Iguana sangat mudah di dapat dan harganya murah. Selain itu, Iguana juga memerlukan perawatan khusus, seperti memandikan atau perawatan bulu,” ujar Pey.

Dalam pengeluaran biaya makanan reptil, Rizki yang memelihara ular Ball Pyton (Sanca Bola) mengatakan, biasanya tergantung jenis dan jumlah reptil yang dipelihara. “Sebagai contoh, harga tikus untuk makanan ular ukuran kecil berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu sekali makan. Sedangkan ular yang lebih besar membutuhkan makanan dari hewan yang lebih besar dan harga yang lebih mahal, seperti kelinci atau ayam yang harganya bisa mencapai Rp 35 ribu per ekor,” kata Rizki.

Rizki mengakui, untuk memelihara dua ekor ular miliknya, setiap bulan ia mengeluarkan anggaran sekitar Rp 400 ribu. “Jadi, anggaran pemeliharaan reptil sangat bergantung pada jumlah dan jenis reptil yang dipelihara,” tandasnya.

Di sisi lain, Pey tertarik memelihara reptil karena kemudahan dalam pemeliharaannya, relatif murah, dan efisien dalam waktu. “Reptil tidak membutuhkan perawatan yang intensif, seperti pembersihan kandang setiap hari dan tidak setiap hari diajak bermain seperti hewan mamalia. Selain itu, reptil juga merupakan salah satu hewan eksotis,” ujar pria yang memelihara tokek ini.

Mengubah Pola Pikir

Dalam perkembangannya, hewan reptil semacam ular sanca masih dianggap sebagai hama dan musuh masyarakat. Sementara di luar negeri, sanca dianggap sebagai hewan eksotis, yaitu hewan yang memiliki daya tarik khas karena belum banyak dikenal umum.

“Di beberapa negara, bahkan Sanca dikembangbiakan dan mengalami beberapa rekayasa genetik untuk melengkapi jenisnya, seperti sanca albino. Ini merupakan pengembangan ilmu pengetahuan dan lahan bisnis karena harga jualnya cukup tinggi,” ujar Rizki.

Di Indonesia, bisnis reptil memang belum digarap sempurna sebagai ladang bisnis yang menjanjikan. Menurut Pey, binatang biawak di negara ini dihargai cukup murah. “Padahal di luar negeri harganya dapat menyamai harga sebuah motor per ekornya,” kata Pey.

Oleh sebab itu, Pey menyampaikan, kehadiran KPRJ dimaksudkan untuk mengedukasi masyarakat bahwa hewan reptil tidak berbahaya seperti yang dikenal masyarakat saat ini. Meskipun reptil memiliki daya ingat yang kurang baik jika dibandingkan dengan hewan mamalia, tapi reptil dapat dijinakkan dan ditangani dengan mudah.

Menurut Rizki, Indonesia pada dasarnya memiliki kekayaan jenis reptil, khususnya reptil yang berasal dari Indonesia bagian timur. Jika dibandingkan dengan reptil asal Afrika dan Australia, Indonesia memiliki jenis reptil yang sangat cantik dan eksotis sehingga banyak orang yang ingin memeliharanya.

“Tapi perlu kita ingat, ada beberapa jenis reptil yang harus memiliki izin khusus untuk memilikinya. Jangan sampai kita memelihara reptil yang dilindungi oleh pemerintah. Hal ini yang kami tekankan kepada seluruh anggota,” ujar Rizki. (TS)

Share :
You might also like