Quo Vadis Garuda

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Keadaan Garuda sangat memprihatinkan yang ditunjukan dengan kerugian yang diderita pada semester 1 2018 sebesar US$ 116 juta (Kerugian Garuda Indonesia Susut Jadi US$116 Juta, CNN Indonesia,30/07/2018)

Meskipun aksi korporasi sudah dilakukan didalam memperbaiki kondisi keuangan jangka pendek yaitu melalui KIK EBA sehingga mendapat kan dana Rp 1,8 T dari target 2 T( http://market.bisnis.com /kik-eba-garuda-indonesia-di-bawah-target) dan rencana penerbitan obligasi.
Kerja sama dengan Japan Airlines untuk pengembangan jaringan internasional khususnya untuk segmen bisnis pada rute Japan (JAL to snatch Garuda Indonesia code-share pact away from ANA (Nikkei Asia Review, August 24, 2018) dan kerja sama dengan Sriwijaya Air untuk memperkuat jaringan di domestic (Perkuat Jaringan di Pasar Domestik, Garuda Bersinergi dengan Sriwijaya,Kompas.com – 16/05/2018)

Bahkan aksi korporasi baru-baru ini dimana Garuda akan mendapat fresh money 4,3T (Garuda Akan Diguyur Pinjaman Rp 4,3 T di Awal September CNBC Indonesia 25 August 2018), tidak mendapat respon positive dari capital market bahkan sebaliknya terus turun bahkan menyentuh angka terendah yaitu 220 atau kehilangan lebih dari 60% dari nilai perdana.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa tgl 12 September diharapkan dapat menjadi titik balik Garuda kearah yang lebih baik. Kenyataaanya bahwa pergantian direksi Garuda telah terjadi hampir setiap tahun sejak tahun 2015, namun tidak menunjukan perbaikan kinerja yang memuaskan.

Didalam tingkat persaingan di pasar domestic dan internasional yang sangat hebat , kondisi biaya fuel yang terus naik dan rupiah yang terus melemah.

Seyogianya calon direksi baru mempunyai pengetahuan bisnis penerbangan yang memadai untuk menelorkan kebijakan2 yang akurat didalam situasi sulit sekarang ini.

Dalam bahasa sederhana bagaimana Garuda kembali dapat meraih keuntungan dimana tingkat pendapatan lebih besar dari biaya!

Memang cost efisiensi sudah dilakukan secara maksimal dimana semua biaya2 sudah dikurangi secara significant,khususnya indirect operating cost.

Dipihak lain program peningkatan pendapatan diindikasikan belum dilakukan secara maksimal, seperti pemanfaatan potensi turis setelah gempa Lombok (Labuhan Bajo Terdampak, Kompas,27 Agustus 2018)

Berdasarkan best practices terdapat beberapa langkah urgent yang dapat ditempuh sbb

Program Stop the Bleeding

Segera menutup rute yang rugi, khususnya rute2 yang tidak menutupi direct operating cost. Sedangkan rute2 yang rugi tetapi mempunyi potensi keuntungan seyogianya diexercise terlebih dahulu dengan mempertimbangkan total market ,market share dan frequency share.

Program utama ini seyogianya dilanjutkan dengan review business model khususnya pesawat non jet sehingga GA dapat fokus hanya pada premium segment yaitu pada rute-rute dengan high yield dan high density.

Program Peningkatan Pendapatan
Peningkatan pendapatan dengan mudah dilakukan melalui bundling strategy tanpa mengorbankan yield perusahaan. Bersamaan dengan itu, eksekusi program marketing yang terintegrasi agar dapat mereposisi Garuda sebagai salah satu maskapai terbaik didunia.

Setelah diadakan penyelamatan perusahaan langkah selanjutnya adalah review fleet planning sesuai dengan market trend bisnis penerbangan domestic dan internasional.

Semoga Garuda dapat terus terbang tinggi ditengah badai dan topan Amin

Share :
You might also like