Mengukur Eksistensi Keris di Persimpangan Zaman

Jakarta, airmagz.com – Indonesia memiliki kekayaan adat istiadat dan budaya yang tidak terhitung besarnya. Dan salah satu produk budaya yang diwariskan dari nenek moyang terdahulu ada yang berwujud senjata tradisional keris. Mulai dari zaman Ken Arok dalam perebutan kekuasaan Kerajaan Singosari hingga zaman kesultanan yang tersisa di tanah air saat ini, keris telah menunjukkan eksistensinya.

Seiring dengan bergulirnya waktu, eksistensi senjata tradisional yang memiliki bentuk unik ini terus mengalami degradasi kemunduran, baik dari sisi jumlah para pembuat keris atau yang biasa dipanggil “Mpu” hingga nilai kesakralannya. Tidak salah jika saat ini keris hanya diminati para kolektor benda antik. Jika tidak ada campur tangan dari pemerintah dan masyarakat, bisa jadi, nasib keris akan terjerembab. Bahkan, yang lebih menyakitkan, keris akan diklaim sebagai warisan budaya negara tetangga. 

Sejatinya, keris telah mendapat pengakuan sebagai salah satu senjata khas dari Indonesia yang menjadi warisan budaya dunia non-bendawi sejak tahun 2005 lalu. Pengakuan tersebut dikeluarkan oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), yang merupakan organisasi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan di bawah kewenangan PBB.

Sebagai orang Indonesia, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjaga warisan budaya ini. Pasalnya, keris telah menjadi salah satu identitas budaya bangsa yang membanggakan Indonesia di mancanegara.

Menurut Rudi J Pesik, salah satu kolektor keris dan benda antik, perkembangan keris di Indonesia saat ini sangat dipengaruhi beberapa aspek, antara lain pengetahuan tentang keris dan mitos kekuatan yang dimiliki keris. “Bahkan ada orang yang enggan bersentuhan dengan keris dikarenakan kekuatan mistis yang dimiliki keris itu,” ujar Rudi kepada Airmagz di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, pria asal Manado ini menjelaskan, kondisi tersebut akan mempengaruhi pelestarian keris di Indonesia. “Yang saya takutkan, nantinya keris akan diakui negara lain sebagai warisan budaya negara yang bersangkutan. Bahkan Malaysia sudah menyatakan keris berasal dari negara jiran tersebut. Jangan sampai negara lain mengakui keris berasal dari sana,” ungkap pria berkacamata ini.

Hasil Produk Budaya

Rudi menambahkan, keberadaan keris perlu dilestarikan sebagai produk budaya bangsa Indonesia yang memiliki keunikan tersendiri. Dalam urusan membuat lekukan sebilah keris atau yang biasa disebut pamor, Indonesia merupakan negara urutan terbaik kedua di dunia setelah kota Damaskus (Suriah). “Dulu, sebelum membuat keris, orang harus melakukan berbagai ritual, seperti bersemedi, puasa, mandi, dan sembahyang terlebih dahulu,” paparnya.

Bahkan, lanjut Rudi, untuk menempa logamnya, ada yang membuat bilah keris dengan memukulnya sekali dalam satu pekan. “Dapat kita bayangkan berapa lama keris tersebut selesai dibuat. Itu dilakukan karena dilatarbelakangi kesakralan agar keris tersebut memiliki kesaktian,” ujarnya.

Foto : Dok. Pribadi

Rudi melanjutkan, asal-usul keris belum sepenuhnya jelas karena tidak ada sumber tertulis yang deskriptif mengenainya dari masa sebelum abad ke-15, meskipun penyebutan istilah “keris” telah tercantum pada prasasti dari abad ke-9 Masehi. “Kajian ilmiah perkembangan bentuk keris kebanyakan didasarkan pada analisis figur di relief candi atau patung. Sementara itu, pengetahuan mengenai fungsi keris dapat dilacak dari beberapa prasasti dan laporan-laporan penjelajah asing ke nusantara,” kata Rudi.

Dari bentuk dan sifatnya, Rudi menambahkan, di kawasan nusantara bagian barat dan tengah, keris dapat diartikan sebagai senjata tikam yang segolongan dengan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya).

“Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkalnya yang melebar. Bilahnya seringkali berkelok-kelok, dan banyak di antaranya yang memiliki pamor (damascene), yaitu terlihat serat-serat lapisan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam yang memiliki kemiripan dengan keris adalah badik,” ujar dia.

Di masa lalu, keris berfungsi sebagai senjata untuk duel dalam sebuah peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan benda aksesori (ageman) dalam berbusana dan menjadi simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.

Penggunaan keris tersebar di masyarakat penghuni wilayah yang pernah terpengaruh oleh Kerajaan Majapahit, seperti Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, pesisir Kalimantan, sebagian Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan (Mindanao). Di Mindanao, keris dikenal sebagai “kalis”. Keris di setiap daerah memiliki kekhasan sendiri-sendiri dalam penampilan, fungsi, teknik garapan, serta peristilahan.

Berawal dari Ejekan

Rudi juga bercerita bahwa saat ia bermukim di Belanda sekitar 50 tahun yang lalu, masih banyak masyarakat Indonesia yang dianggap belum menghargai benda antik. “Sehingga mereka sering mengejek saya dan menganggap saya tidak berbudaya karena tidak mengerti tentang barang antik,” ungkapnya.

Foto : Dok. Pribadi

Dan yang paling berbekas di benak Rudi, ketika merayakan hari ulang tahun di usia ke-20 tahun, ia memperoleh hadiah berupa tempat garam. “Padahal yang memberikan hadiah tersebut adalah salah satu konglomerat asal Belanda.  Saat itu, saya menaruh hadiah yang diberikan pada sembarang tempat. Lalu orang-orang pun mengingatkan saya bahwa tempat garam tersebut merupakan benda yang telah berusia ratusan tahun, sebelum Indonesia merdeka atau bahkan sebelum bangsa Eropa mengenal rempah-rempah,” tuturnya.

Waktu itu, Rudi menambahkan, saat kebanyakan orang Eropa menemukan rempah-rempah sebagai bumbu masakan, garam merupakan barang berharga sebagai penambah rasa masakan. “Jadi, waktu itu garam tidak ditempatkan di dapur, tapi di tempat yang terhormat,” ungkapnya.

Setahun kemudian, Rudi melanjutkan, dirinya diberikan hadiah ulang tahun berupa wadah pinang dan sirih yang diperoleh dari proses pencarian ke berbagai museum di Belanda. “Saat itu, saya masih dianggap belum bisa menghargai benda antik tersebut, sehingga saya masih mendapatkan cap belum memiliki budaya,” akunya.

Berawal dari sindiran dan ejekan tadi, akhirnya Rudi memutuskan untuk mengambil pendidikan tambahan berupa ilmu benda antik di sekolah benda antik terkemuka di salah satu negara di Eropa.

“Saat itu, yang menjadi pertanyaan saya, kenapa benda-benda antik di negara-negara Eropa, Jepang, dan Tiongkok memiliki nilai yang sangat tinggi. Akhirnya saya mendapatkan kesimpulan bahwa kebutuhan pangan, sandang, dan papan mereka telah terpenuhi dengan baik. Setelah itu barulah bisa menghormati para leluhur melalui budaya, seperti benda antik yang diwariskan. Sementara masyarakat kita masih berkutat pada pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, dan papan,” paparnya.

Lalu Rudi pun berikrar bahwa dirinya harus bisa ikut melestarikan dan menyelamatkan benda-benda antik yang dimiliki bangsa Indonesia. “Saya mendapatkan masukan bahwa kita harus melestarikan dua benda budaya asal Indonesia. Yang pertama adalah pohon jati untuk pembuatan furnitur yang memiliki kualitas dan bernilai tinggi. Lalu yang kedua adalah keris,” ungkapnya.

Memiliki Keris Tertua 

Sejak saat itu, Rudi terus melakukan perburuan terhadap keris dan produk furnitur antik yang terbuat dari pohon jati. Rudi mengklaim hingga kini telah memiliki tidak kurang dari 3.000 keris. Ia pun mengaku memiliki salah satu keris tertua di dunia, yaitu keris buatan Dongson (Vietnam), yang terbuat dari perunggu.

“Yang membuat keris Dongson luar biasa, selain terbuat dari perunggu, keris tersebut dibuat dengan beragam ritual sehingga penyelesaian pembuatannya membutuhkan waktu yang cukup lama,” kata dia.

Foto : Dok. Pribadi

Hal yang menarik lainnya, lanjut dia, ada ritual yang harus dilakukan setiap tahun, yaitu ritual memandikan keris. “Biasanya saya melakukannya dengan menyewa orang yang bisa memandikan keris. Ritual keris memerlukan tahapan tertentu, seperti direndam di air kelapa, air kembang tujuh rupa, dan beragam wewangian,” paparnya.

Rudi mengapresiasi para pemilik keris yang berasal dari Pulau Jawa, Bali, dan Lombok yang masih melakukan perawatan khusus terhadap keris-kerisnya. Bahkan pernah dalam satu pertemuan diskusi, ia membantah pendapat yang mengklaim bahwa keris berasal dari kebudayaan Malaysia yang berlatar belakang kebudayaan melayu pada zaman Hang Tua.

“Saya bilang, kamu tidak mengerti sejarah. Keris bisa ada di semenanjung melayu karena keberadaa orang Bugis yang merupakan pelaut. Oleh sebab itu, sepanjang Sumatera, Malaysia, Kalimantan, hingga Afrika Selatan, keris memiliki bentuk yang sama dengan keris orang Bugis. Bukan keris dari Jawa, tapi orang Bugis belajar membuat keris dari Pulau Jawa,” tegas Rudi.

Selain itu, mantan Direktur Jenderal Industri Maritim pada era Presiden Soekarno ini telah menerbitkan buku tentang keris karangan Haryono Haryoguritno yang diberi judul “Keris Jawa antara Mistik dan Nalar”. “Nantinya, buku tersebut juga akan kami terbitkan dalam edisi bahasa Inggris untuk menambah koleksi buku tentang keris,” kata Rudi.

Keris Sanggup Berdiri

Ketertarikan Rudi berburu keris berbuah pengalaman unik. Saat itu, Rudi tertarik oleh keris yang memiliki kekuatan mampu berdiri dengan tegak. Pengalaman tersebut didapatkan Rudi ketika ia berkunjung ke Lombok. Ia pun mencari toko barang antik terkenal di Pulau Lombok melalui supir taksi.

“Saat itu, saya diantar ke sebuah toko barang antik. Setelah melihat beberapa barang antik yang dijual, ternyata tidak ada yang menarik. Setelah itu, saya tanyakan adakah keris yang dijual. Ternyata ada. Bahkan si pemilik toko memiliki koleksi 300 keris yang terpajang di lantai atas toko tersebut,” tutur Rudi.

Menurut Rudi, saat itu ia sangat terkesan melihat jumlah keris tersebut. “Dari 300 keris, saya memilih 10 keris yang dapat berdiri tegak saat didemokan oleh si penjual keris. Sampai di rumah, saya bergegas menemui istri untuk menunjukkan keris yang dapat berdiri tegak. Tapi setelah saya coba menegakkan keris tersebut, ternyata tidak bisa ditegakkan. Ini merupakan pengalaman pertama saya dalam membeli keris,” kenang Rudi.

Pengalaman unik juga didapatkan Rudi saat ia mengantarkan istri dan anaknya membeli pakaian batik di Yogyakarta. Sambil menunggu keluarganya memilih baju, Rudi menghampiri toko barang antik yang menjual keris. Ia menanyakan kepada penjual barang, apakah menjual keris yang dapat berdiri sendiri.

“Pemilik toko mengaku memiliki keris seperti itu. Si penjual pun menunjukkan keris yang bisa berdiri itu kepada saya. Segera saya bergegas menghampiri keluarga saya untuk mengajak mereka melihat keanehan tersebut. Akhirnya, istri dan anak saya melihat sendiri ada keris yang dapat berdiri. Sesampainya di rumah, saya pun dapat membuat keris tersebut berdiri dengan tegak. Hal ini yang membuat harga keris sangat mahal. Sayangnya, banyak pedagang barang antik tidak mengerti bahwa keris dapat berdiri,” pungkas Rudi. (TS)

Share :
You might also like