Indonesia Business And Charter Aviation Summit

Oleh : Heru Legowo

Pengamat Penerbangan

Indonesia National Air Carrier Association (INACA) menyelenggarakan Indonesia Business & Charter Aviation Summit di Hotel Grand Mercure Harmoni, tanggal 29 dan 30 Agustus 2018. Menteri Perhubungan diwakili oleh Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Udara M. Praminto Sukarno, membuka secara resmi acara ini. Adapun keynote speaker-nya adalah Denon Prawiraatmaja Chairman of Non Schedule Flight
INACA. Para pembicara adalah Capt. Imron Siregar Chairman AOPA Indonesia, Arief Wibowo Managing Director PT. Airfast Indonesia, dan Muhammad Awaluddin Direktur Utama PT. Angkasa Pura II. Selain itu pembicara dari para praktisi operasi dan manajemen internasional, antara lain : Kurt H. Edwards, Patrick C. Dunn, Gary Moran, Alan Hung, Colin Weir, Alan Hung, David D. Leithner dan beberapa orang

IBCAS yang diselenggarakan kali ini adalah yang ke tiga kalinya. Beberapa topik yang dibahas dari kondisi terakhir dunia penerbangan diantaranya adalah :

o Travel democratization: increased frequency, air traffic will duplicate in the next 15 years.
o Diversification: specialized travel offers and experiences.
o Increased weight of customized and self-made trips

o Increased average passengers age ; trips outside peak periods,
passengers are less predisposed to try new brands, more demanding
about quality, comfort and service.
o Passengers want simpler and easier processes : online/mobile check-in,
biometric security, mobile way finding, digital signage, RFID
o Client is king: more knowledgeable, more difficult to satisfy, more
bored, more connected, it’s crucial to know who they are and what they
want.
o Local vs Global: authenticity, local, ethical, natural, organic and sustainable, how to create something different and authentic.

Para pembicara menyampaikan mengenai kondisi terakhir dunia bisnis penerbangan. Bahwa saling mendukung dan saling berbagi informasi akan menjadikan business aviation ini berkembang dengan baik. Ada beberapa masukan yang disampaikan adalah mengenai pelayanan bandar udara dan lalu lintas udara.

Dan dari beberapa hal yang dipresentasikan dapat diringkas dalam beberapa kondisi antara lain adalah : parkir pesawat di apron yang terbatas untuk business aviation, apron yang sangat padat, holding pattern pada saat mendarat di Halim Perdanakusumah. Juga sinar laser yang diarahkan ke arah pesawat ketika sedang akan mendarat, jumlah LCC yang meningkat, kebutuhan ADS-B baru, agar diantara semua operator di wilayah lebih banyak berhubungan, dan tidak adanya VFR route untuk helikopter di beberapa wilayah udara di Indonesia.

BANDARA

Sejalan dengan masukan dari pembicara tersebut, dari ternyata sisi bandara sudah cukup mengantisipasinya. Paparan dari Muhammad Awaluddin Direktur Utama PT. Angkasa Pura II cukup menarik. Beliau menguraikan peran bandara dalam bisnis penerbangan. Fungsi bandara tidak lagi semata mata menjadi airport operator, tetapi berevolusi menjadi airport integrator.

Bandara menurut beliau pada masa mendatang bukan lagi hanya sebagai operator, tetapi sudah harus menjadi integrator. Bandara akan mengintegrasikan semua kepentingan airline dan bisnis di dalam dan di sekitar bandara. Selanjutnya bandara akan menyiapkan infrastruktur seperti yang diinginkan atau dibutuhkan oleh pengguna-jasanya.

Dengan demikian semua kebutuhan yang berujung kepada keselamatan, kenyamanan dan kecepatan proses dapat dilakukan dengan lebih baik. Ditambah lagi dengan menerapkan teknologi informasi, maka bandara akan lebih digitalized. Dengan demikian ini akan memudahkan para pengguna jasa bandara. Selain itu proses Collaborative Decision Making (CDM) antar unit kerja dapat dilakukan dengan lebih mudah dan optimal.

Pada waktu diskusi panel Direktur Teknik Airnav Yurlis Hasibuan menjelaskan bahwa untuk mengantisipasi kepadatan lalu lintas udara, Airnav terus meningkatkan sistem pengendalian lalu lintas udara. Airnav sekarang dalam persiapan pengadaan peralatan ATC yang lebih canggih berupa Air Traffic Control Automation System (ATCAS). Peralatan baru ini nantinya akan mampu mengakomodasikan semua kebutuhan pengaturan lalu lintas udara seperti : CPDLC, ADSB, RNP-10, optimalisasi ruang udara, pengaturan slot time dan sebagainya.

Pada waktunya nanti ATCAS akan memungkinkan pergerakan pesawat menjadi lebih cepat & akurat, mengoptimalkan ruang udara, memberikan data yang dapat dimanfaatkan oleh bandara dan airline. Output-nya adalah kecepatan dan keamanan pergerakan pesawat baik di darat maupun di udara.

GENERAL AVIATION

Yang cukup menarik adalah paparan Capt. Imron Siregar Chairman AOPA Indonesia pada akhir sesi hari pertama. Membahas bagaimana perlakuan General Aviation (GA) yang dirasakan tidak atau kurang
menyenangkan. General Aviation adalah semua penerbangan selain dari penerbangan berjadwal, carter dan penerbangan militer. Beliau menggambarkan bahwa GA ini seperti anak tiri yang kurang mendapat perhatian, padahal GA juga memberikan kontribusi bagi perekonomian Indonesia.

Dalam operasinya di bandara-bandara di Indonesia dan dalam pelayanan navigasi penerbangan, dirasakan tidak seperti yang diberikan kepada penerbangan lainnya. Salah satu contoh disampaikan bahwa slot-time hanya untuk airline berjadwal dan bukan untuk GA.

Barangkali saking kesalnya, Capt. Imron Siregar menayangkan di salah satu slidenya : “Government staff & officials shall be trained and familiarized with modern universal standard practices”. Sepertinya ini fakta dan
seyogyanya dapat diterima dengan lapang dada oleh yang berkaitan. Untuk meyakinkan audiens, pada akhir presentasinya ditayangkan video yang menggambarkan sebuah pesawat Cessna single engine yang memasuki dan akan mendarat di O’Hare International Airport yang sangat sibuk. Video dengan deskripsi percakapan antara pilot dan ATC itu begitu menarik. ATC mengingatkan supaya berhati-hati agar tidak terkena jest-blast pesawat widebody dan jumbo jet. View dari cockpit Cessna luas dan jelas, sehingga menggambarkan bagaimana pesawat sekecil Cessna ini juga mendapat perlakuan yang sama seperti halnya Boeing B-747

Akhirnya, dari setiap workshop, seminar dan summit semacam ini yang penting sebenarnya adalah follow-up nya. Saya fikir semua yang dipresentasikan sudah menggambarkan apa yang diminta dan apa yang seyogyanya dilakukan. Hanya saja itu memang hal itu tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri dan sektoral. Itu mesti dikerjakan secara terpadu dan terprogram dengan baik. Untuk itu setiap kepentingan mesti dapat dijelaskan dan dikomunikasikan dengan baik dan jelas, sehingga pihak lain dapat mengerti dan kemudian bersama-sama mencari solusinya.

Pada tahap inilah yang biasanya yang sulit dan membutuhkan waktu dan koordinasi yang lebih baik dan transparan. Who is doing what and when? Siapa mengerjakan Apa dan Kapan? Itu adalah jargon yang gampang diucapkan tetapi sulit dikerjakan. Masyarakat penerbangan rasanya sudah memahami bahwa yang berinteraksi dalam dunia penerbangan adalah 4A :

Airline, Airport, Airnav dan Authority.

Kiranya yang terakhir Authority itulah yang diharapkan dapat memfasilitasi dan mengakomodir semua kepentingan itu. Dan selanjutnya dapat dibahas menjadi suatu kesepakatan, yang akan mengikat dan ditindak-lanjuti oleh ke 3A lainnya : Airline, Airport dan Airnav.

Semoga …

Share :
You might also like