Ketika Jam Tangan Menjadi Simbol Karakter

Jakarta, airmagz.com – Jam tangan, dalam perkembangannya bukan hanya menjadi penunjuk dan pengingat waktu, tapi juga menjadi fashion bagi penggunanya. Bahkan, eksistensi sebuah jam tangan juga dapat tercermin dari merek yang tersemat pada mesin penunjuk waktu tersebut. Hal itu diakui oleh para pengguna dan pecinta jam Casio G-Shock yang tergabung dalam komunitas G-Shock Warriors Indonesia (GSWI).

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jam tangan bukan sekadar alat penunjuk waktu dalam sehari-hari. Seiring perkembangan zaman, ternyata jam tangan juga memiliki fungsi lebih dari itu. Apalagi jika Anda menilik lebih mengenai desain dan keunikannya. Hal ini tentu saja dapat membuat Anda jatuh hati ingin memiliki dan mengoleksinya.

Itulah yang dipercaya para pencinta jam tangan berlabel G-Shock. Mereka sangat fanatik dengan merek jam tangan produksi Casio, Jepang. Mereka pun memiliki konsistensi dalam memilih satu label jam tangan yang dianggap sesuai dengan karakter pemiliknya.

Guna menjalin informasi dan silaturahmi antar pemilik dan penghobi jam G-Shock, para pencinta jam tangan besutan negara Sakura tersebut lantas membuat perkumpulan atau komunitas yang diberi nama G-Shock Warrior Indonesia (GSWI). Dan, dari sekian banyak brand jam tangan yang ada di Indonesia, G-Shock menjadi salah satu label jam tangan yang paling diminati. Tidak heran, para pengguna jam tangan ini kerap saling bertemu untuk berbagi informasi terkait dengan jam tangan ini.

Lahirnya Kesatria G-Shock

Foto : Dok.GSWI

Cikal bakal berdirinya GSWI berawal dari forum diskusi di jejaring internet oleh para penghobi jam dengan beragam merek. Melihat banyaknya pemilik jam tangan berlabel G-Shock yang kerap berdiskusi dan melakukan tukar informasi, maka para penghobi jam tangan ini bersepakat membentuk GSWI.

Dari sana, kata Agung Tri Respati (Admin Leader GSWI), para penghobi jam G-Shock bersepakat membuat forum di Kaskus. Terkait dengan nama, saat itu ada beberapa alternatif nama untuk identitas forum. Setelah melakukan pemungutan suara, maka terpilihlah nama G-Shock Warriors sebagai nama pertama komunitas ini. “Arti dari G-Shock Warriors sendiri adalah Para Pejuang atau Kesatria G-Shock,” tutur Agung kepada Airmagz di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Agung melanjutkan, tanggal 21 November 2015 menjadi titik puncak bagi kelahiran komunitas GSWI secara resmi. “Peresmian ini sekaligus menjadi momen pembentukan chapter dengan dilambangkan pembagian identitas berupa ID member GSWI yang dilaksanakan serentak di tiap chapter di seluruh Indonesia,” ungkap Agung.

Saat pertama kali diresmikan, komunitas ini telah memiliki kelengkapan struktur organisasi, yang meliputi jabatan ketua umum, wakil ketua, sekretaris, dan bendahara yang mendalangi setiap aktivitas GSWI. Komunitas ini sangat terbuka terhadap hadirnya anggota-anggota baru yang ingin terlibat dalam kegiatan bersama. “Siapa saja bisa terlibat dalam komunitas ini. Kami tidak mengharuskan setiap orang memiliki jam tangan berlabel G-Shock. Hanya saja, untuk bisa mendapatkan ID member, hal itu bergantung pada kebijakan setiap chapter di masing-masing wilayah,” papar Agung.

Meski demikian, untuk ikut serta dalam event rutin dan hak memiliki ID member, ada syarat khusus yang diperlukan. “Selain sebagai tempat untuk bertukar informasi seputar jam tangan G-Shock, GSWI juga sering menyelenggarakan agenda atau berbagai event pertemuan, baik event berskala kecil maupun besar hingga menggelar kegiatan yang bersifat sosial dalam upaya menumbuhkan semangat berbagi dan peduli kepada sesama,” kata Agung.

Seiring berjalannya waktu, jumlah anggota G-Shock Warriors semakin bertambah. Dengan makin bertambahnya jumlah keanggotaan, maka terjadilah sedikit perubahan nama dengan penambahan kata Indonesia di belakang nama G-Shock Warriors. “Perubahan nama ini atas inisiatif salah satu pendiri yang bernama Solekhudin Anshory di tahun 2010. Sehingga nama yang disematkan untuk komunitas jam tangan G-Shock menjadi G-Shock Warriors Indonesia (GWSI),” terang Agung.

Penyempurnaan Aturan

Foto : Dok. GSWI

Selain sebagai ajang informasi dan diskusi, forum GSWI juga membolehkan setiap anggotanya melakukan bisnis terkait produk G-Shock. Bahkan, pada Oktober 2014, forum GSWI yang menggunakan media sosial Facebook dipisahkan dari forum utamanya dan menjelma menjadi GSWI Official Marketplace. “GSWI Official Marketplace disediakan pengurus demi memberikan ruang kepada sesama anggota untuk melakukan jual-beli jam tangan G-Shock,” jelas Agung.

Terkait aturan jual-beli, kata Agung, sudah ada penyempurnaan peraturan di GSWI Marketplace agar pelaksanaannya lebih tertib dan teratur, serta untuk menghindari tindakan penipuan. “Selain itu, ada juga penyempurnaan peraturan terkait organisasi, di mana pada September 2015 dibentuk chapter di setiap daerah dan pendataan anggota GSWI yang tersebar di hampir seluruh Indonesia. Semua itu dilakukan agar komunitas ini lebih terorganisir dengan baik,” tutur Agung.

Hingga saat ini GSWI memiliki 30 region (chapter) yang tersebar di beberapa daerah, yaitu Purwokerto, Tangerang, Banjarmasin, Solo, Kepulauan Riau (Kepri), Bandung Raya, Surabaya, Bogor, Pontianak, Pekalongan, Bekasi, Depok, Lampung, Yogyakarta, Bangka Belitung, Magelang, Cirebon, Malang Raya, Jember, Jakarta Raya, Bengkulu, Medan, Semarang, Palembang, Nusa Tenggara Barat (NTB), Tegal, Samarinda, Bali, Makassar, dan Balikpapan. 

Ragam Kegiatan

Setiap tahunnya, GSWI menggelar event yang diberi nama “Gathering Nasional”, yang merupakan ajang pertemuan seluruh anggota GSWI di Indonesia. Lokasi untuk acara ini dipilih secara bergantian sesuai kesiapan region yang ada. “Untuk Gathering Nasional tahun 2017, kami akan menggelar acara tersebut di Cirebon, Jawa Barat. Nantinya masing-masing region akan menghadiri acara Gathering Nasional GSWI 2017,” jelas Agung.

Sedangkan untuk acara yang digelar di masing-masing regional yang ada, pihak pengurus pusat GSWI menyerahkannya ke masing-masing pengurus. “Misalnya, GSWI Regional Jakarta rutin menggelar pertemuan bulanan dengan lokasi yang ditentukan secara bergiliran, seperti di Jakarta Barat, Timur, Selatan, Utara, dan Pusat,” ujar Uthe Krenz, salah satu anggota GSWI Regional Jakarta di kesempatan yang sama.

Sementara itu, para pengurus pusat biasanya menggelar event dengan mengikuti jadwal undangan dari berbagai pihak lain. “Biasanya, undangan berasal dari para komunitas lain atau pihak pusat perbelanjaan dalam rangka memeriahkan suatu acara yang digelar oleh pihak mereka,” ujar Uthe.

Selain itu, untuk meningkatkan rasa kepedulian dan kebersamaan, GSWI juga sering menggelar rangkaian kegiatan sosial, seperti membantu korban bencana alam, pemberian santunan kepada anak-anak yatim, buka puasa bersama, dan sebagainya.

Sensasi G-Shock

Menurut Uthe, dirinya menemukan sensasi tersendiri lewat G-Shock. Sebab, ia dapat bereksperimen dengan jam yang dimilikinya tersebut. “Jam G-Shock merupakan jam tangan yang bisa diutak-atik sesuai selera, layaknya sebuah diecast. Misalnya untuk mengganti bezel atau strap jam,” kata Uthe.

Selain itu, lanjut Uthe, G-Shock juga memiliki banyak varian seri kolaborasi resmi, misalnya seri kolaborasi Piala Dunia. “Untuk custom, dapat juga dilakukan seperti re-paint untuk mengganti display jam tangan dan sebagainya sesuai selera pemilik,” ujar pria yang kerap mengenakan topi ini.

Agung menambahkan, setiap tahunnya G-Shock mengeluarkan sedikitnya 150 seri. “Mungkin sudah lebih dari seribu seri yang dikeluarkan pihak G-Shock sejak diluncurkan pada tahun 1983 lalu. Sedangkan model yang paling laris di dunia adalah model DW69 dan DW5600,” ujar Agung.

Untuk mengoleksi beragam seri yang sudah dihadirkan G-Shock, baik Agung maupun Uthe tidak mempersiapkan anggaran khusus. “Prinsipnya, asalkan tidak sampai mengganggu kepentingan keluarga. Sebab, harga G-Shock sendiri sangat beragam, mulai dari satu juta hingga ratusan juta rupiah,” kata Agung.

Awalnya, Agung sangat tertarik menggunakan G-Shock karena mengingatkan dirinya ketika duduk di bangku SMA. Saat itu, ia diberikan jam G-Shock jenis Velcro oleh orang tuanya. “Saat ini, jenis G-Shock Velcro masih dapat ditemukan dengan mudah. Selain itu, jam tangan ini merupakan jam tangan yang tahan banting,” ujar dia.

Sedangkan Uthe menemukan hal baru seputar jam tangan yang bisa di-oplek sesuka hati ini. “Saya telah bertemu dengan orang-orang hebat lewat komunitas G-Shock ini. Jika kita menggunakan G-Shock, ke mana pun kita pergi pasti akan bertemu dengan teman-teman sesama pengguna G-Shock,” ujar Uthe.

Uthe berharap, ke depannya GSWI semakin menambah keanggotaan. Sebab, bertambahnya keanggotaan berarti akan menambah persaudaraan. “Salah satu semangat yang ada di komunitas ini adalah semangat mengedukasi kepada anggota maupun masyarakat, seperti membedakan mana jam G-Shock asli dan mana yang palsu,” ujar Uthe. (TS)

Share :
You might also like