Belajar ke Dalam dan Menerima Perbedaan

Oleh : Ki Pandan Alas

Kyai Haji Ahmad Mustofa Bisri yang dikenal sebagai Gus Mus sangat tepat dan cermat menilai kecenderungan ummat Islam untuk merasa benar sendiri. Puisi ringkasnya sangat telak menohok dan menggambarkan situasi dengan sangat tepat, dan menjadi viral beberapa waktu yang lalu. Beliau mengatakan :

Atheis dimusuhi karena tidak ber-Tuhan
Bertuhan dimusuhi karena Tuhannya beda
Tuhannya sama dimusuhi karena Nabinya beda
Nabinya sama dimusuhi karena alirannya beda
Alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya beda
Pendapatnya sama dimusuhi karena partainya beda
Partainya sama dimusuhi karena pendapatannya beda

Begitulah yang terjadi. Apalagi menjelang tahun 2019, gambaran tersebut semakin nyata di masyarakat. Masing-masing merasa benar sendiri, dan menganggap yang lain salah. Padahal mereka semua mengerti bahwa Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar mereka saling mengenal (QS 49:13). Meskipun demikian ego dan kepentingan masing-masing membuat mereka seakan buta dan tuli, dan tidak dapat mengamalkan esensi yang terkandung dalam Surat Al-Quran yang disebut diatas.

Kemudian dalam suatu pengajian Pendalaman Qur’an, ustadz Syarif Hidayatullah pas membahas mengenai hal tersebut. Penjelasannya mudah, sederhana tetapi mampu membuka wawasan dan pengertian yang komprehensif. Beliau menyitir lagu anak-anak yang diingat oleh semua generasi: Balonku ada lima/Rupa rupa warnanya/Hijau Kuning kelabu/ Merah muda dan biru/ Meletus balon hijau/Hatiku sangat kacau/Balonku tinggal empat/Kupegang erat-erat.

Manusia dapat diibaratkan sebagai balon pada lagu diatas. Masing-masing punya warna sendiri. Dan seharusnya setiap individu menerima dan menjadi warnanya masing-masing. Tidak perlu menyuruh yang berwarna selain dengan dirinya, untuk mengubah warna agar sama dengan dirinya. Kebanyakan orang tidak atau kurang menerima untuk menjadi dirinya sendiri, lebih sering ingin menjadi seperti orang lain.

Sebaliknya ada juga orang yang jika sedikit memiliki kekuatan, cenderung memaksa atau paling tidak mempengaruhi orang lain agar mengikuti gaya dan caranya. Jika keinginan dan kemauannya tidak terpenuhi, maka dia akan kecewa, gelisah, irihati, sakit hati, dendam dan sebagainya. Dari sinilah semua penyakit hati itu bermula, yaitu dimulai dari tidak mampu menerima perbedaan. Dan alih-alih berusaha menyadari diri sendiri, malah terus mencoba menjadi orang lain dan bukan menjadi dirinya sendiri.

Manusia menjadi bagian dari masyarakat yang terus belajar. Model yang umum adalah belajar ke “luar”. Mencari ilmu dan kepandaian dari SD, SMP, SMA, S1, S2, S3 dan seterusnya. Setiap tingkatan ada ujian dan ijazahnya. Belajar ke “luar” ini sebenarnya lebih banyak untuk digunakan sebagai sarana untuk hidup di dunia.

Selain itu ada model belajar yang lain, yaitu belajar ke “dalam”. Ini justru lebih sulit. Biasanya orang mulai belajar ke “dalam” ketika mengalami kegelisahan. Mengapa? Karena pengetahuan yang diperoleh dari belajar keluar, tidak mampu menjawab rasa ingin tahunya. Secara instink orang lalu belajar ke “dalam” dirinya (QS 3:96). Ini juga melalui tahapan-tahapan yang sulit dan melalui ujian yang semakin berat pada setiap kenaikan tingkatannya.

Pada tahap tertinggi yang hanya mampu dicapai oleh beberapa gelintir manusia saja, adalah (Insya Allah) bertemu dengan cahaya yang sangat menenteramkan, yaitu Rabb-nya. Belajar ke “dalam” membuat manusia mengerti siapa dirinya, dan akan tahu siapa Rabb-nya. Dan mengerti bahwa Allah berada dimana-mana dan hadir pada setiap apa pun yang dilihat dan disentuhnya. Subhanallah …

Kembali kepada lagu Balonku. Allah memegang dan menjaga semua balon yang telah diciptakan-NYA dengan rupa-rupa warnanya itu. Sebab karena diciptakan beraneka itulah, dunia ini menjadi indah.

Akhirnya marilah hidup dengan penuh syukur dan memahami keberbedaan. Sebenarnyalah setiap individu diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Secara hakikat itu bukan kehendak mereka, tetapi kehendak yang menciptakan-NYA. Jika semua sama dan seragam, dunia ini sungguh sangat membosankan! Biarkanlah balon-balon itu tetap rupa-rupa warnanya dan setiap individu menjadi dirinya sendiri. Marilah hidup berdampingan dan saling menghormati. Jangan mudah menyalahkan, karena itu berarti sama dengan menyalahkan Sang Pencipta.

Astaghfirullah …

Share :
You might also like