Bangun Pondasi Jadi Pengiriman Tercepat

Di usianya yang relatif muda Farian Kirana sudah didapuk memimpin Lion Parcel. Ia hanya butuh dua tahun untuk membenahi perusahaan. Kini kondisi Lion Parcel membaik, volume penjualan bertambah, pelayanan meningkat, dan brand perusahaan mulai dikenal. Farian optimis Lion Parcel mampu bersaing dengan perusahaan kurir yang lebih dulu eksis.

Tantangan pengusaha dalam menjalankan roda bisnis di era digital seperti sekarang ini semakin tinggi. Teknologi, tidak bisa dipungkiri telah membawa banyak perubahan yang memengaruhi peta persaingan bisnis saat ini. Mulai dari lahirnya perusahaan start up, inovasi produk baru, sampai hadirnya berbagai model bisnis yang berbasis teknologi.

Untuk sukses menggerakkan bisnis pun butuh kecerdasan. Tak cukup hanya mengandalkan modal besar, kepiawaian melihat peluang justru menjadi kunci kesuksesan. Tren seperti inilah yang kini banyak dijumpai terutama para pebisnis muda yang penuh dengan inovasi. Untuk menjadi sukses, seseorang tidak perlu lagi menghabiskan waktu hingga ‘berumur’.

Kepiawaian dalam melihat peluang bisnis kini justru banyak dimiliki anak-anak muda yang telah berani turun gelanggang. Paling tidak, situasi ini dirasakan langsung oleh Farian Kirana. Usianya masih muda—lahir 10 April 1992. Tahun 2014 lalu ia baru menyelesaikan pendidikannya di Universitas Pelita Harapan (UPH). Namun ia sudah didapuk menjadi orang nomor satu di perusahaan kurir Lion Parcel.

“Saya dua tahun lalu diminta untuk memimpin Lion Parcel sekaligus membenahi perusahaan. Saya sendiri baru lulus kuliah 2014, jadi relatif baru dan masih banyak hal yang perlu saya pelajari. Tapi saya yakin perusahaan bakal tumbuh karena saya punya tim yang kuat. Apabila kami solid dan punya semangat kerja semuanya bisa berjalan dengan mudah,” tambahnya.

Awalnya Farian bukan sosok yang mumpuni di bisnis kurir. Pendidikan formal yang diambilnya di bidang ekonomi. Tapi ia dikelilingi orang-orang yang sudah puluhan tahun berkecimpung di bisnis ekspedisi. Tugasnya adalah bagaimana membangun tim yang diisi orang-orang pintar dengan berbagai karakter agar bisa selaras satu sama lain.

Pembenahan terus dilakukan. Ketika pertama kali masuk, Farian melihat perusahaan hanya fokus pada penjualan serta bagaimana memperbesar volume transaksi. Sementara level operasionalnya masih rendah. Ibarat menuangkan air tapi cangkir yang untuk menampung bolong sehingga tidak akan pernah bertambah.

“Sebaik apa pun marketing kami tapi jika operasionalnya jelek maka klien akan pergi juga. Saya masuk untuk membenahi itu, agar Lion Parcel punya produk dan layanan yang bagus. Jadi kami nggak perlu memohon-mohon lagi ke klien untuk kirim barang lewat Lion Parcel. Kami ingin menanamkan citra yang baik, kalau ingin pengiriman barang yang tercepat, bagus dan aman maka pakai Lion Parcel. Jika sudah demikian maka klien akan datang dengan sendirinya,” tegasnya.

Dua Tahun Kinerja Meningkat

Foto : Airmagz

Baru dua tahun memimpin, beberapa indikator sudah terlihat positif. Misalnya, volume penjualan meningkat sepuluh kali lipat dibanding 2 tahun lalu. Selain itu, secara operasional pengiriman barang ke Indonesia timur yang awalnya butuh waktu 5-7 hari, kini hanya perlu 2 hari saja. Alhasil, tingkat kepercayaan customer pada Lion Parcel pun meningkat. Selanjutnya Farian merasa perlu memperkuat branding dengan menggencarkan marketing secara besar-besaran. Kini nama Lion Parcel sudah mulai tren di situs pencarian Google.

Farian menyadari, tidak mudah untuk tampil sebagai pemimpin pasar. Apalagi melawan kompetitor yang sudah lama malang melintang dan memiliki customer loyal. Butuh strategi jitu agar bisa berhasil. Caranya dengan memberikan kemudahan kecepatan dan konsistensi. Ia yakin dengan cara ini Lion Parcel bisa mencuri hati pelanggan. Ada juga yang melakukan perang harga. Padahal harga bukan hal yang terpenting. Karena menjadi tidak ada artinya ketika proses pengiriman justru berlangsung lama dengan prosedur yang berbelit-belit.

“Kami ingin customer merasakan kelebihan layanan kami itu. Di mana mereka bisa memperoleh kemudahan, pengiriman barang yang cepat dan terpenting adalah konsistensi. Kami tidak mau hari ini cepat besoknya lambat. Itu namanya tidak konsisten. Kami sedang membuat aplikasi sendiri. Dengan aplikasi itu kami bisa tracking semua pengiriman yang kami lakukan sekaligus bisa chatting dengan customer service kami. Jadi lebih mudah, sampai klaim dan pembayaran juga ada di aplikasi itu,” ujar Farian.

Hal lain yang perlu dibenahi adalah mindset karyawan dalam bekerja. Farian mencontohkan, Lion Parcel dulu punya produk regular package (regpack). Proses pengiriman biasanya membutuhkan waktu sekitar 3-5 hari. Tapi di era bisnis e-commerce yang kompetitif saat ini standar waktu 3-5 hari pengiriman dianggap terlalu lama. Apalagi untuk pengiriman di dalam kota yang hanya butuh 1-2 hari tentu akan memunculkan banyak komplain dari customer.

“Jadi ini tugas berat yang harus saya selesaikan selain beberapa kekurangan yang lain. Misalnya soal teknologi, kami saat itu belum siap sehingga perusahaan tidak pernah tahu berapa jumlah pengiriman yang telat, jenis barang apa saja yang bermasalah serta cara untuk memonitor pun masih rendah. Ini yang juga kami perbaiki, tujuannya agar barang bisa cepat terkirim dan kami juga bisa memonitor proses pengiriman barang tersebut. Ini PR kami jika ingin menang dengan perusahaan yang sudah establish dan yang sudah paham seluk beluk bisnis ini,” jelasnya.

Kendati begitu, Farian tak segan mengapresiasi prestasi yang sudah dicapai para kompetitor, yang sudah puluhan tahun menggeluti bisnis ini dan sukses menebarkan jaringan ke pesosok daerah. Ia lebih memilih mengambil sisi positifnya, bahwa keberhasilan itu bisa dijadikan contoh yang bisa diadopsi untuk keberhasilan Lion Parcel.

“Setelah berkiprah puluhan tahun, secara operasional mereka sangat kuat. Ada pemain lama yang mempunyai pengetahuan dan capital. Ada pemain baru (pendatang baru). Kami juga tidak malu mengakui kelebihan perusahaan start up di mana mereka biasanya memiliki teknologi yang lebih canggih. Jadi secara pengetahuan teknologi mereka sudah begitu maju,” jelas Farian.

Menyiapkan Teknologi dan Infrastruktur

Ceruk pasar bisnis kurir masih terbuka lebar. Tak heran jika banyak pemain baru yang masuk berkompetisi. Namun untuk mengetahui, siapa saja yang mendominasi dan berapa pangsa pasar yang dikuasai sampai saat ini tidak ada data yang pasti baik dari kementerian, komunitas maupun asosiasi. Pasalnya, setiap perusahaan punya segmentasi sendiri yang sulit dibandingkan dengan perusahaan lain. Misalnya, soal penggunaan moda angkutan pengiriman yang berbeda ada yang lewat darat, laut dan udara.

“Ada juga perusahaan yang fokus  city courier. Padahal perbandingannya 10 pengiriman city courier setara dengan 1 pengiriman ke Indonesia Timur. Karena pengiriman kami banyak yang jauh sampai ke Indonesia Timur. Jadi susah membandingkannya karena jangkauan masing-masing berbeda. Sebagai contoh kami nggak bisa membandingkan dengan gojek karena skala dan fokusnya pun lain. Dan intinya kami mengusung konsep “Just In Time Air Distribution,” tambahnya.

Kue e-commerce memang sangat besar. Selama ini Lion Parcel lebih fokus menggarap segmen business to customer (B2C). Dengan berkembangnya pasar e-commerce potensi untuk menggarap segmen customer to customer (C2C) juga terbuka lebar. Tak heran jika Farian kini tengah serius menyiapkan infrastruktur untuk dapat melayani customer dengan baik.

“Kami sedang menyiapkan model yang kira-kira dapat melayani customer dengan baik dan dengan harga yang murah. Tahun 2018 ini kami targetkan C2C sudah bisa dimulai maka seperti saya bilang kami akan menjalin kerja sama dengan online shop dan market place. Fokus kami ke situ meskipun untuk segmen C2C mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda. Yang pasti bagaimana penjual bisa menjangkau agen-agen kami. Intinya, kami siap bertarung di bisnis e-commerce,” tambah Farian.

Untuk operasionalnya saat ini Lion Parcel sudah mulai merekrut sejumlah driver sebagai kurir. Dengan sistem bagi hasil, hubungan perusahaan dengan driver hanya sebatas mitra. Pada tahap awal, jelas Farian, satu kecamatan akan ditangani oleh 3 kurir dengan target 2.000-an kurir pada tahun depan. “Sekarang sedang proses perekrutan dan bulan Maret ini sudah mulai berjalan, kami paralel saja untuk perekrutan dan training berjalan bersamaan,” jelasnya.

Lion Parcel kini memiliki lebih dari 4.500 point of sales (P.O.S) dan 200 karyawan. Farian sadar, kemajuan sebuah perusahaan juga ditunjang oleh faktor Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Alhasil, pengembangan potensi karyawan dilakukan di sejumlah perusahaan. SDM, lanjut Farian, adalah aset yang harus dijaga dan ditingkatkan kemampuannya. Apresiasi atas prestasi yang dicapai perlu dilakukan agar mereka merasa dihargai dan bangga bekerja di Lion Parcel. Untuk membuat karyawan punya keperdulian maka perusahaan harus lebih dulu perduli dengan mereka.

“Perusahaan biasanya akan membantu lebih dari sekadar gaji yang diterima tapi juga secara personal. Kami ingin bangun kultur kekeluargaan karena kami melihat bila karyawan diperhatikan maka pelayanan kepada pelanggan akan meningkat. Untuk meningkatkan keterampilannya kami sering ikutkan training dan pelatihan dan mengadakan acara gathering sederhana untuk kebersamaan,” pungkasnya.

Farian Kirana

CEO Lion Parcel (PT Lion Express)

Share :
You might also like