Penumpang Depresi, Ini Kata Lion Air

Jakarta, airmagz.com – Maskapai Lion Air akhirnya angkat bicara terkait pembatalan status penumpang penerbangan bernomor JT-615 rute dari Bandar Udara Depati Amir, Pangkalpinang, Bangka Belitung (PGK) tujuan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (CGK), Rabu (17/10).

“Keputusan tersebut berdasarkan hasil kerja sama dengan pihak keluarga, dokter Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandar Udara Depati Amir, kepolisian serta petugas keamanan bandar udara (aviation security),” kata Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro dalam keterangan resmi, di Jakarta, Jum’at (19/10).

Danang mengakui guna memastikan keamanan serta kenyamanan (safety first), Lion Air membatalkan status keberangkatan IK,37, salah satu penumpang laki-laki karena tidak layak terbang dengan alasan keadaan medis, yaitu depresi yang berpotensi mengganggu dalam penerbangan.

“Situasi ini terjadi ketika masih berada di gedung terminal, setelah proses pelaporan diri (check-in),” ungkap Danang.

Menurutnya, penanganan IK tidak berdampak terhadap operasional penerbangan Lion Air JT-615. Proses berlangsung kondusif dan satu penumpang dimaksud berlaku koorporatif, untuk selanjutnya segera dilakukan pemeriksaan ulang dan penerbitan surat tidak layak terbang. Lion Air telah menjelaskan kepada keluarga IK serta mengembalikan (refund) dana dari harga tiket sesuai ketentuan.

Dijelaskan, layanan penerbangan bernomor JT-615 rute Pangkalpinang, Bangka Belitung (PGK) tujuan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (CGK) tetao berjalan normal. Penanganan salah penumpang sebelum penerbangan telah dijalankan sesuai prosedur dan aturan yang berlaku.

Menurutnya, Lion Air JT-615 mengudara tepat waktu (on time) sesuai jadwal keberangkatan pukul 19.30 WIB dari Pangkalpinang dan mendarat di Soekarno-Hatta pada 20.23 WIB, Rabu (17/ 10). Dalam penerbangan ini, Lion Air mengoperasikan pesawat Boeing 737 MAX 8, yang membawa tujuh kru beserta 142 penumpang.

Lion Air menghimbau kepada seluruh pelanggan setia dan masyarakat untuk mengetahui, memahami dan menjalankan segala peraturan guna mengutamakan aspek keselamatan, keamanan dan kenyamanan perjalanan udara.

“Kondisi kesehatan pada umumnya tidak membutuhkan dokumen surat izin medis, namun untuk beberapa keadaan tertentu mewajibkan setiap pelanggan memiliki surat izin medis sebelum penerbangan dengan menunjukkan dan melampirkan surat keterangan kelaikan terbang (fitness for air travel/ medical information) dari Kantor Kesehatan Pelabuhan,” jelasnya.

Danang mengungkapkan bahwa penerbangan memiliki aturan sangat ketat (strictly regulated business). Oleh karena itu, melakukan tindakan/ perbuatan indisipliner atau unruly/ distruptive behavior merupakan salah satu faktor yang mengganggu kenyamanan serta membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan. (IMN/Jawapos.com)

Share :
You might also like