Tantangan Penerbangan Nasional di Era Digitalisasi

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Meskipun keadaan ekonomi Indonesia relative stabil namun faktor eksternal yang uncontrollable telah menekan rupiah sehingga membuat dolar tembus 15.000 dan harga fuel cenderung naik terus pada kisaran 80 US$ perbarel. Hal demikian tentunya telah berakibat langsung pada peningkatan biaya yang sangat signifikan terhadap operator penerbangan nasional.

Kompetisi yang makin sengit khususnya di domestik dimana Lion air group mendominasi pasaran, namun demikian terindikasi bahwa Lion Air group masih merugi. Begitu pula Garuda, Citilink, AirAsia dan Sriwijaya berada pada kondisi keuangan yang memprihatinkan.

Keadaan diatas telah menciptakan pesimisme di industri penerbangan nasional ditambah dengan ketidakpastian pada tahun politik dengan diselenggarakan pemilihan umum pada April 2019.

Lebih jauh Online Travel Agent (OTA) makin mendominasi pasar apalagi dengan kemunculan OTA dengan bisnis model baru, yang menggunakan basis tehnologi blockchain akan menjadi tantangan sendiri bagi industri penerbangan nasional.

Meskipun sudah ada usaha perbaikan seperti pergantian direksi Garuda group pada awal September 2018, namun belum memperlihatkan trend positif dimana harga saham GIAA stagnan pada level 202 (IDX GIAA 25 Oktober 2018).

Bahkan beberapa langkah strategis yang diambil khususnya dibidang SDM,logistic dan efisiensi (Detik Finance, 21 Oktober 2018) ternyata Capital Market tidak merespon secara positive.

Hal demikian juga terjadi pada saham Indonesia AirAsia juga stagnan dilevel 228 (IDX CMPP 25 Oktober 2018) atau kehilangan lebih dari 50% dari nilai perdana.

Pendekatan Baru

Meskipun kondisi industri penerbangan saat ini relatif kurang favorable seyogianya disikapi secara bijaksana mengingat terdapat trend baru di industri penerbangan nasional.

Peningkatan travel pada generasi milenial yang diprediksi sebesar 82 juta (Kompas,18 Oktober), bahkan pertumbuhan traffic domestic masih dua digit pada tahun 2018 (Merdeka, Pertumbuhan penumpang pesawat RI 2018 diprediksi capai 11 persen, tertinggi di ASEAN, 25 April 2018)

Didalam pasar domestik, preferensi utama customer adalah On Time Performance (OTP) sehingga semua operator penerbangan berlomba-lomba memfokuskan diri untuk meningkatkan OTP secara sistematis.

Kenyataannya Customer makin pintar didalam memilih penerbangan khususnya mencari value for money sehingga diperlukan program-program tambahan agar menjadi pilihan utama customer.

Meskipun penumpang telah menentukan preferensinya untuk menggunakan penerbangan tertentu namun mereka tetap hunting untuk mendapatkan harga yang paling murah. Apabila mereka berhasil mendapatkan maka dapat dibanggakan di group sosial medianya bahwa yang bersangkutan berhasil mendapatkan harga yang paling competitive.

Customer Engagement terhadap sosial media sangat tinggi khususnya generasi milenial sehingga operator penerbangan seyogianya mengantisipasi dengan cermat agar dapat memberikan kemudahan untuk segment ini.

Perubahan perilaku customer tersebut seyogianya dilihat sebagai peluang operator penerbangan sekaligus mengadakan perubahan pola pendekatan dengan New Strategy agar dapat memuaskan kebutuhan customer.

Strategi Ofensif dan Defensif

Didalam kondisi yang kurang favorable dan perubahan perilaku customer seyogianya operator penerbangan mempunyai dual strategy yaitu menyerang dan sekaligus bertahan. Disatu pihak dapat meningkatkan pendapatan dan dipihak lain dapat menurunkan biaya, sebagai berikut :

  1. New Marketing Approach

Dengan perubahan customer behavior khususnya kaum milenial yang cenderung bersikap self centeredcontrast, tangible and visual (Neuro Marketing,2013)

Didalam konteks diatas seyogianya operator penerbangan dapat membuat program-program untuk Release Customer Pain dengan memberikan kemudahan-kemudahan bagi customer didalam proses pembelian seperti menawarkan bundling product sehingga dengan satu kali transaksi akan mendapatkan manfaat ganda.

Serta menggunakan media sosial media sebagai bagian integral dari Strategi Marketing Communication dengan demikian diharapkan akan didapat bauran aktivitas promosi yang sesuai dengan keinginan customer seperti instagram untuk generasi milenial dan facebook untuk advance segment market.

Customer cenderung membandingkan (contrast) seperti before/after, beginning/ending sehingga substansi pesan yang disampaikan dapat memberikan contoh nyata value proposition yang akan diperoleh customer.

Apalagi dengan memakai jasa endorser khususnya pada instagram untuk mempengaruhi follower agar membeli produk tertentu (Maria/LSPR,2018). Sehingga setiap impulse buying dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh operator penerbangan.

Selain itu Operator penerbangan seyogianya juga memberikan New Value Proposition dengan menggunakan tehnologi blockchain sehingga customer mandapat harga dengan value for money. Karena tehnologi tersebut mampu meniadakan middlemen (termasuk OTA) dengan peer to peer connection sehingga customer akan mendapatkan manfaat ganda.

Dengan demikian diharapkan revenue stream dapat lebih seimbang tidak tergantung pada OTA saja.

  1. Review Retention Program

Meninjau kembali program frequent flyer baik Full Service Carrier atau Low Cost Carrier(LCC) mengingat adanya perubahan perilaku customer pada era digitalisasi. Agar program-program tersebut dapat lebih efektif sehingga dapat meningkatkan loyalitas maka perlu kreatifitas untuk menawarkan program-program unik seperti program nonton bareng konser Mariah Carey di candi Borobudur 6 November 2018.

  1. Review Fleet Expansion Program

Meninjau kembali ekspansi penambahan pesawat dengan indikator-indikator global ekonomi terkini khususnya dengan data-data pertumbuhan ekonomi yang telah direvisi seperti pertumbuhan ekonomi Indonesia atau ASEAN 10-15 tahun mendatang, mengingat terjadinya perang dagang global oleh President Amerika Donald Trump

  1. Review Operational Model

Meskipun setiap negara mempunyai masing-masing Air Operator Certificate (AOC) seperti Lion Air, Malindo,Thai Lion Air namun fungsi operasional seyogianya tersentralisasi untuk menurunkan biaya operasi,biaya organisasi dan biaya marketing.

  1. Review LCC Strategy

Meninjau kembali generic strategi LCC agar kembali kekiprahnya untuk menerbangi penerbangan jarak pendek dengan utilisasi pesawat tinggi, low cost driven dan meningkatkan pendapatan dari auxiliary. Tanpa tergoda untuk menerbangi charter flight kecuali ada excess capacity sehingga memecah konsentrasi untuk selalu berinovasi pada segment LCC.

  1. Efficiency Program Through Its Business Process

Melakukan efisiensi pada bisnis proses untuk meningkatkan pendapatan tanpa mengurangi kemampuan didalam menciptakan pendapatan perusahaan seperti simplifikasi organisasi niaga khususnya di cabang-cabang, assignment local manager diluar negeri, sentralisasi reservation di Jakarta.

Tentunya strategi peningkatan pendapatan dan efisiensi dapat diperpanjang sesuai dengan kondisi masing-masing operator penerbangan.

Berbekal optimisme dan kejelian melihat kesempatan, menjadi modal utama operator penerbangan untuk terus melakukan inovasi dan tetap berkiprah didalam industri penerbangan yang penuh dengan ketidakpastian, makin kompetitive dan perubahan perilaku customer yang drastis.

Selamat berkarya!

Share :
You might also like