Pelajaran Musibah JT 610

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Duka mendalam atas musibah JT 610 yang telah membawa korban jiwa, semoga arwahnya diterima di sisi Allah YMK dan bagi yang ditinggalkan diberikan kekuatan Amin.

Lionair group sebagai market leader di pasar domestic dengan mengangkut lebih 48 juta penumpang pada tahun 2017 (http://hubud.dephub.go.id/id/news). Namun kenyataannya bahwa pada tahun 2017 Lion air group masih merugi (Daya Beli Lesu, Kerugian Lion Air Group Membengkak pada 2017, CNN Indonesia,06/02/2018).

Dengan kondisi persaingan yang makin ketat, peningkatan  harga avtur dan nilai tukar rupiah yang terus melemah maka diprediksi kondisi keuangan Lion air group dan seluruh operator penerbangan di tahun  2018 akan semakin terpuruk.

Meskipun kondisi keuangan yang kurang baik, Lion Air telah berusaha  sekuat tenaga  untuk meningkatkan keselamatan penerbangan dengan memperoleh sertifikasi IATA Operational Safety Audit (IOSA) dimana sertifikasi itu merupakan sertifikasi tertinggi untuk bidang keselamatan penerbangan.   (Raih Sertifikat IOSA, Lion Air Lolos Standar Keselamatan Internasional, Kompas.com – 13/03/2017)

Kenyataannya bahwa model bisnis Lionair yaitu Low Cost Carrier bukan penyebab utama kecelakaan JT 610 karena dalam operasi penebangan safety adalah aspek yang tidak dapat ditolerir, contohnya Ryan air masih dapat meraih keuntungan  dengan catatan safety yang  baik. (https://www.independent.co.uk/travel/news-and-advice/-ryanair-worlds-safest)

Dalam kondisi yang memprihatinkan sekarang ini seyogianya semua pihak menahan diri untuk tidak saling menyalahkan, baik dari pihak operator, pabrikan dan regulator. Namun segera mencari akar masalah, agar diambil tindakan koreksi agar kecelakaan pesawat tidak terjadi dimasa yang akan datang.

Identifikasi Masalah

Penyebab jatuhnya JT 610 apakah kerusakan pada pesawat atau human error seyogianya harus dianalisa secara menyeluruh sehingga roots problem dapat ditemukan. Untuk itu diharapkan black box segera ditemukan dan KNKT dapat bekerja cepat untuk membuka tabir penyebab musibah JT 610

Lebih jauh seyogianya Manajemen Operator Penerbangan dan Pabrikan serta Regulator lebih terbuka untuk mengakui kekurangan yang ada, baik dalam aspek manajemen operasi penerbangan, kondisi  pesawat atau membuat aturan2 baru utk mengakomodasi perkembangan tehnologi pesawat ( Seperti yang disampaikan Bpk Jusman Syafii Jamal dalam program ILC 30 Oktober)

Berdasar temuan KNKT diharapkan dapat diidentifikasin weakness area dan segera diambil tindakan sesuai dengan perundangan yang berlaku  mengingat ada korban yang meninggal.

Tindakan tegas seyogianya dilihat dari perspektif edukasi terhadap operator penerbangan/pabrikan agar kejadian tersebut tidak terulang, bahkan  kalau perlu  mencabut AOC Lion air atau  menggrounded semua pesawat B737 800 Max yang beroperasi di Indonesia.

Manajemen Operator Penerbangan seyogianya memberikan prioritas tertinggi untuk keselamatan penerbangan bukan hanya melulu terfokus pada cash inflow dan pendapatan serta keuntungan saja!

Pelajaran lain yang dapat diambil adalah meninjau  track record Lion air yang kurang baik dengan terjadinya beberapa accident/incident sebelumnya (https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1089341-daftar-kecelakaan-lion-air) Kondisi ini seyogianya menjadi early warning bagi regulator untuk mengambil langkah pencegahan dengan melakukan inspeksi rutin untuk operator penerbangan yang mempunyai track record seperti itu.

Fenomena ‘Gunung Es’ dalam musibah JT 610 menjadikan pelajaran bagi  Operator Penerbangan, Pabrikan dan Regulator agar dapat menentukan letak permasalahan dan mengambil tindakan yang tegas atas kesalahan tsb kemudian melakukan tindakan perbaikan.

Mengingat permasalahan lebih besar terletak dibawah ‘Gunung Es’ tersebut sehingga sepatutnya menjadi pekerjaan rumah bagi Regulator dan Operator Penerbangan serta Pabrikan  agar menjadikan musibah ini menjadi yang terakhir di Negara Indonesia tercinta Amin.

Share :
You might also like